Bareksa Insight : Ekonomi AS Kuartal II Negatif Lagi, Reksadana Ini Masih Cuan Hingga 30%

Kontraksi ekonomi selama dua kuartal beruntun itu disanggah Gedung Putih sebagai resesi
Abdul Malik • 29 Jul 2022
cover

Ilustrasi ekonomi AS yang kembali negatif di kuartal II 2022 setelah sebelumnya negatif di kuartal I yang jadi sentimen utama pasar saham termasuk IHSG, reksadana dan SBN. Sehingga investor perlu menerapkan jurus jitu agar investasinya tetap cuan optimal. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pertumbuhan ekonomi Amerika (AS) negatif 0,9% di kuartal II 2022, melanjutkan pelemahan sebelumnya di kuartal I yang minus 1,6%. Kontraksi ekonomi selama dua kuartal beruntun itu disanggah oleh Gedung Putih sebagai resesi, karena jumlah tenaga kerja AS masih kuat dan tingkat pengangguran juga masih stabil di level rendah. 

Hal ini mendorong penguatan bursa saham Negeri Paman Sam tadi malam WIB atau Kamis (28/7) waktu AS. Analisis Bareksa memperkirakan penguatan pasar saham AS akan jadi sentim positif bursa saham Asia termasuk Indonesia ikut menguat hari ini, Jumat (29/7). 

Pasar saham Tanah Air yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis, 28 Juli 2022 naik 0,85% ke level 6.956,82. 

Baca juga : Bareksa Insight : Suku Bunga Dolar AS Naik Lagi, Cuan Reksadana Ini 11 - 30,6 Persen

Pasar obligasi AS juga mengalami penguatan dengan imbal hasil (yield) acuan kembali di level terendah sejak April 2022, yakni 2,68%. Investor global berekspektasi jika kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Rate) bulan Juli ini sudah mencapai level tertingginya. Sehingga dengan melihat kinerja ekonomi AS yang dinilai masih kuat, kenaikan Fed Rate berikutnya diproyeksikan akan lebih rendah dari kenaikan Juli. 

Namun, menurut analisis Bareksa, investor dalam negeri masih harus mencermati efek dari kenaikan Fed Rate terhadap kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada Agustus mendatang yang dapat mempengaruhi fluktuasi harga Surat Berharga Negara (SBN).

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 28/07/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat naik ke level 7,5% pada 28 Juli 2022. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Musim Rilis Kinerja Emiten, Cuan Reksadana Ini Berpotensi Mantul

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Mempertimbangkan negatifnya ekonomi Negara Adidaya dan peluang  kenaikan suku bunga acuan The Fed dan BI di masa mendatang, Tim Analis Bareksa menyarankan investor bisa menerapkan tiga jurus ini agar investasinya di reksadana masih berpotensi cuan optimal : 

1. Selain dari sentimen minusnya ekonomi dan kenaikan suku bunga AS, serta peluang kenaikan suku bunga BI, musim rilis laporan keuangan emiten juga akan mempengaruhi pergerakan IHSG. Investor dapat mencermati reksadana berbasis saham sektor keuangan, terutama saham bank berkapitalisasi besar (big caps) yang sudah merilis kinerja keuangan dan hasilnya lebih baik dari perkiraan.

2. Yield acuan Oblugasi Pemerintah Indonesia kemarin sempat menguat ke level 7,22% dan menopang kenaikan kinerja mayoritas reksadana pendapatan tetap. Namun diproyeksikan fluktuasi SBN masih akan tinggi, hingga rilis kebijakan suku bunga acuan BI bulan depan. Investor masih dapat mencermati reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi.

3. Selain itu, di tengah ketidakpastian global yang masih cukup tinggi, investor disarankan juga perlu mendiversifikasi investasinya sesuai dengan profil risiko di reksadana pasar uang.

Baca juga : Bareksa Insight : Pasar Kian Tertekan Jelang Rilis Suku Bunga AS, Ini Jurus Agar Investasi Cuan

Beberapa produk reksadana saham, reksadana indeks, reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang yang bisa dipertimbangkan investor dengan profil risiko agresif, moderat dan konservatif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 28 Juli 2022)

Reksadana Indeks

Avrist IDX30 : 19,48%
BNI AM Indeks IDX30 : 17,44%

Reksadana Saham

Batavia Dana Saham : 10,24%
TRIM Kapital Plus : 8,7%

Imbal Hasil 3 Tahun (per 28 Juli 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

TRIM Dana Tetap 2 : 16,77%
Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 30,67%

Reksadana Pasar Uang

Sucorinvest Sharia Money Market Fund : 17,96%
Syailendra Dana Kas : 15,68%

Baca juga : Bareksa Insight: Tarif Ekspor CPO Dihapus, Reksadana Berbasis Saham Komoditas Melesat

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Baca juga : Bareksa Insight : IMF Nilai Indonesia Aman dari Resesi, Potensi Cuan Reksadana Ini

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.