Bareksa Insight: Tarif Ekspor CPO Dihapus, Reksadana Berbasis Saham Komoditas Melesat

Investor dapat melakukan akumulasi bertahap di reksadana saham dan indeks saat IHSG di kisaran 6.500-6.600
Hanum Kusuma Dewi • 20 Jul 2022
cover

Ilustrasi harga saham di IHSG naik dan mendongkrak kinerja reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Saham-saham berbasis komoditas minyak dan kelapa sawit kembali mendapat sentimen positif, sehingga mendorong kenaikan harga dan menopang kinerja reksadana saham dan reksadana indeks yang memilikinya dalam portofolio. 

Harga minyak dunia (Brent oil) yang kembali naik di atas level US$ 100 per barel serta kebijakan Pemerintah menghapus tarif pungutan ekspor untuk seluruh produk kelapa sawit (CPO) dan turunannya hingga 31 Agustus 2022 turut mendorong penguatan sektor energi dan barang baku serta memimpin kenaikan indeks saham (IHSG). Hal ini turut menopang kinerja reksadana saham dan indeks basis saham komoditas.

Sementara itu, dari pasar obligasi, Lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang diadakan kemarin (19/07) menunjukkan total penawaran yang masuk membaik dari dua pekan sebelumnya, meski masih tergolong rendah, yakni sekitar Rp29,5 triliun. Yield (imbal hasil) acuan juga kembali naik ke level 7,45 persen, yang menandakan harga melemah. 

Diproyeksikan pelemahan ini masih akan berlanjut hingga yield ke kisaran level 7,6-7,8% di kuartal III 2022. Hal ini masih akan memberikan tekanan pada reksadana pendapatan tetap basis SBN.

Apa yang bisa dilakukan Investor?

• Investor akan mencermati data suku bunga pinjaman China yang diproyeksikan tidak berubah, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut tetap tinggi. Hal ini dapat menjadi sentimen positif untuk bursa saham global, termasuk IHSG.

• Investor dapat melakukan akumulasi bertahap di reksadana saham dan indeks pada saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi pada level 6.500-6.600.

Reksadana pendapatan tetap berbasis SBN diproyeksikan bergerak melemah hari ini karena investor masih menunggu keputusan Bank Indonesia besok terkait keputusan tingkat suku bunga acuan dalam negeri. Investor diharapkan tetap selektif pada reksadana pendapatan tetap.

Imbal Hasil 1 Tahun (19 Juli 2022)

Reksadana Indeks

BNI AM Indeks IDX30: +12,79%

Principal Index IDX30 Kelas O: +13,03%

Reksadana Saham

Batavia Dana Saham Syariah: +11,40%

Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas A: +7,32%

Imbal Hasil Tahun Berjalan (YtD 19 Juli 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Sucorinvest Sharia Sukuk Fund: +3,88%

Syailendra Pendapatan Tetap Premium: +4,80%

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.