BeritaArrow iconBareksa NavigatorArrow iconArtikel

Bareksa Insight : Inflasi AS Juni Melesat 9,1 Persen, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Abdul Malik14 Juli 2022
Tags:
Bareksa Insight : Inflasi AS Juni Melesat 9,1 Persen, Apa yang Harus Dilakukan Investor?
Ilustrasi lonjakan inflasi AS yang berpengaruh terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) sehingga berdampak pada kinerja pasar keuangan global, termasuk Indonesia, seperti IHSG, reksadana, SBN hingga emas. (Shutterstock)

Lonjakan inflasi AS akan berdampak pada pelemahan pasar modal dalam negeri, baik pasar saham maupun obligasi

Bareksa.com - Kenaikan harga pangan dan energi kembali mendorong lonjakan inflasi di Amerika Serikat (AS) ke level tertinggi sejak 1981, yakni 9,1 persen secara tahunan pada Juni 2022.

Menurut analisis Bareksa, lonjakan inflasi di atas perkiraan itu akan semakin memperkuat prediksi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (Fed Rate) lebih agresif sekitar 75 - 100 basis poin (bps) atau 0,75 - 1 persen pada Juli 2022 guna menekan laju inflasi Negara Paman Sam. Suku bunga The Fed saat ini di kisaran 1,5 - 1,75 persen.

Selain itu, potensi kemerosotan ekonomi (resesi) di Negara Adidaya juga semakin tinggi dan dapat berdampak pada perlambatan ekonomi global, termasuk Indonesia. Sebab AS merupakan salah satu negara tujuan ekspor terbesar Indonesia.

Baca juga : Bareksa Insight : Pasar Belum Kondusif, Investor Bisa Terapkan Dua Srategi Ini

Analisis Bareksa melihat lonjakan inflasi AS juga akan berdampak pada pelemahan pasar modal dalam negeri, baik pasar saham maupun obligasi. Sebab potensi kenaikan suku bunga Bank Indonesia jadi semakin tinggi, untuk memperkecil selisih (spread) dengan suku bunga AS, serta untuk menjaga appetite (minat) investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Selain itu, kenaikan suku bunga juga akan mendongkrak kenaikan biaya modal emiten, serta pelemahan harga obligasi karena potensi kenaikan yield (imbal hasil). Suku bunga acuan BI saat ini di level 3,5 persen.

Pasar saham nasional yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 13 Juli 2022 turun 1,15 persen ke level 6.640,99. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 13/07/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat di level 7,3 persen pada 13 Juli 2022.

Lihat juga : Bareksa Insight: Tahan Banting, Reksadana Ini Cuan 31 Persen di Tengah Isu Global

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Mempertimbangkan lonjakan inflasi AS yang bisa berdampak terhadap pasar keuangan global, termasuk Indonesia, kira-kira apa yang harus dilakukan investor agar kinerja investasinya tetap mendulang cuan? Analisis Bareksa menyarankan agar investor bisa menerapkan tiga strategi berikut ini :

1. Investor bisa mulai mempertimbangkan untuk akumulasi investasi secara bertahap di reksadana saham dan reksadana indeks, jika IHSG dapat turun signifikan ke level yang lebih menarik, yakni di kisaran 6.500 atau hingga 6.400, dari level saat ini di kisaran 6.640-an.

2. Tekanan di pasar obligasi diproyeksikan akan lebih tinggi pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan yield acuan SBN Indonesia berpotensi melemah ke kisaran 7,7 persen pada kuartal III 2022. Sehingga, investor disarankan bisa tetap mempertahankan investasinya di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi untuk saat ini.

3. Selain itu, untuk semua jenis profil risiko, investor dapat melakukan diversifikasi investasi yang cukup di reksadana pasar uang.

Simak juga : Bareksa Insight : Sentimen Pasar Beragam, Ini Jurus Ampuh Agar Investasi Terus Cuan

Beberapa produk reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan investor adalah sebagai berikut :

Imbal Hasil 3 Tahun (per 13 Juli 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 30,95 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 17,29 persen

Reksadana Pasar Uang

Capital Money Market Fund : 18 persen
Syailendra Dana Kas : 15,76 persen

Imbal Hasil 1 Tahun (per 13 Juli 2022)

Reksadana Indeks

Avrist IDX30 : 14 persen
Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A : 11,58 persen

Reksadana Saham

Sucorinvest Maxi Fund : 13,9 persen
Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas A : 5,36 persen

Baca juga : Bareksa Insight : China akan Gelontorkan Stimulus, Reksadana Ini Berpotensi Cuan

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua