BeritaArrow iconBareksa InsightArrow iconArtikel

Bareksa Insight: Pasar Bergejolak Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Cermati Peluang Reksadana & Emas

30 Juli 2026
Tags:
Bareksa Insight: Pasar Bergejolak Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Cermati Peluang Reksadana & Emas
Ilustrasi kebijakan suku Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve yang mengakibatkan gejolak pasar modal global. (Shutterstock)

IHSG melemah enam hari beruntun setelah The Fed mempertahankan suku bunga. Di tengah volatilitas pasar, reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, dan emas dapat menjadi instrumen yang layak dicermati.

Bareksa — Bursa saham bergerak volatil setelah The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%.

Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,64% ke 6.091,39 pada Rabu (29/7), memperpanjang pelemahan menjadi enam hari perdagangan berturut-turut. Rupiah juga ditutup melemah ke Rp18.050 per dolar AS.

Di tengah kondisi tersebut, yield SBN tenor 10 tahun turun menjadi 7,299%, sementara harga emas spot justru naik 1,39% ke US$4.084,74 per ons troi.

Promo Terbaru di Bareksa

Kombinasi ini membuka peluang berbeda pada tiga kelas aset, yakni reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap (RDPT), dan emas.

Highlight

  • IHSG turun 0,64% ke 6.091,39 dan melemah enam hari berturut-turut.

  • The Fed kembali mempertahankan suku bunga di 3,50%-3,75%, sementara BI Rate tetap 5,75%.

  • Yield SBN 10 tahun turun ke 7,299%, membuka peluang bagi reksadana Pendapatan Tetap.

  • Harga emas spot naik 1,39% ke US$4.084,74/oz setelah keputusan The Fed.

Mengapa Ini Penting?

Sikap The Fed dan BI yang sama-sama menahan suku bunga menunjukkan bank sentral masih berhati-hati terhadap arah inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik membuat pelaku pasar tetap mewaspadai risiko inflasi.

Dalam kondisi seperti ini, investor umumnya lebih selektif memilih instrumen sesuai tujuan investasinya.

Peluang Reksadana Pasar Uang

Bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan stabilitas, reksadana pasar uang dapat menjadi pilihan defensif.

Produk

Return 1 Tahun

Insight Money Syariah

5,25%

Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia

4,52%

Mandiri Money Market USD

2,64%

BRI Seruni Likuid Dolar

3,38%

Sumber: Bareksa, kinerja per 29/7/2026

Peluang Reksadana Pendapatan Tetap

Turunnya yield SBN 10 tahun menjadi 7,299% dapat menjadi sentimen positif bagi harga obligasi sehingga patut dicermati investor reksadana pendapatan tetap.

Produk

Return 1 Tahun

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

1,59%

Mandiri Investa Dana Syariah Kelas A

1,67%

Sumber: Bareksa, kinerja per 29/7/2026

Harga Emas Kembali Menguat

Setelah keputusan The Fed, harga emas spot naik menjadi US$4.084,74/oz.

Harga beli emas digital per 30 Juli pagi:

Platform

Harga

Treasury

Rp2.436.742

Pegadaian

Rp2.485.770

Indogold

Rp2.397.852

Sumber: fitur Bareksa Emas

Apa Artinya bagi Investor?

Volatilitas pasar pasca keputusan The Fed menunjukkan pentingnya diversifikasi. Investor yang mengutamakan likuiditas dapat mencermati reksadana pasar uang, sementara penurunan yield SBN membuka peluang pada reksadana pendapatan tetap. Di sisi lain, penguatan harga emas kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu instrumen diversifikasi ketika ketidakpastian pasar meningkat.

Kesimpulan

Keputusan The Fed dan Bank Indonesia yang sama-sama mempertahankan suku bunga membuat pasar keuangan masih bergerak volatil. Di tengah pelemahan IHSG, penurunan yield SBN 10 tahun, dan kenaikan harga emas, investor dapat mencermati reksa dana pasar uang untuk menjaga likuiditas, reksa dana pendapatan tetap guna menangkap potensi penguatan harga obligasi, serta emas sebagai instrumen diversifikasi sesuai profil risiko dan tujuan investasi.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Investasi Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

***​​​​​​​​​

DISCLAIMER​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Mengapa penurunan yield SBN menjadi sentimen positif bagi RD Pendapatan Tetap?

Secara umum, penurunan yield obligasi dapat diikuti kenaikan harga obligasi. Kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif bagi reksa dana pendapatan tetap yang berinvestasi pada obligasi.

Kapan reksadana pasar uang lebih sesuai dipilih?

Reksadana pasar uang dapat menjadi pilihan bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan stabilitas nilai investasi, terutama saat pasar saham dan obligasi bergerak fluktuatif.

Mengapa harga emas naik setelah keputusan The Fed?

Emas sering menjadi salah satu aset yang dicermati investor saat ketidakpastian pasar meningkat. Setelah The Fed mempertahankan suku bunga, harga emas spot tercatat naik 1,39% ke US$4.084,74 per ons troi.

Apa yang perlu dicermati investor selanjutnya?

Investor dapat memantau perkembangan inflasi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral, pergerakan yield obligasi pemerintah, nilai tukar rupiah, serta dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan

Profil Penulis

Abdul Malik
Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.228,77

Up0,75%
Up1,56%
Up1,85%
Up6,37%
Up20,74%
Up14,47%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.185,17

Up1,02%
Up2,00%
Up2,59%
Up6,54%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.031,54

Up1,45%
Down-1,63%
Down-1,53%
---

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.202,85

Up0,50%
Up1,08%
Up1,52%
Up5,18%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua