Bareksa Insight : Pasar Kian Tertekan Jelang Rilis Suku Bunga AS, Ini Jurus Agar Investasi Cuan

Pasar saham global, termasuk pasar saham Indonesia tercatat melemah terbatas pada awal pekan ini
Abdul Malik • 26 Jul 2022
cover

Ilustrasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Rate) yang berpengaruh terhadap ekonomi dan pasar keuangan global, termasuk IHSG dan reksadana hingga SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Analisis Bareksa memperkirakan tekanan pasar di aset berisiko akan semakin besar pada pekan ini menjelang rilis kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) atau Fed Funds Rate (Fed Rate). 

Sejumlah pasar saham global, termasuk pasar saham Tanah Air yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah terbatas pada awal pekan ini. Sebab investor masih wait and see (menanti) untuk kembali masuk berinvestasi di pasar saham. 

Pada perdagangan kemarin, investor asing masih melakukan aksi jual sekitar Rp272 miliar di IHSG dan hal ini mengakibatkan sejumlah reksadana saham dan reksadana indeks ikut melemah. IHSG pada 25 Juli 2022 turun 0,41 persen ke level 6.858,41.

Baca juga : Bareksa Insight : Pasar Tunggu Suku Bunga AS dan Kinerja Emiten, Reksadana Ini Cuan 10 - 30 Persen

Sementara itu, pasar obligasi pada perdagangan kemarin naik, setelah pekan lalu melemah hampir menyentuh level imbal hasil (yield) 7,5 persen. Kemarin, yield acuan Obligasi Pemerintah Indonesia kembali menguat ke level 7,38 persen dan mendorong penguatan mayoritas reksadana pendapatan tetap. 

Menurut analisis Bareksa, pasar obligasi akan bergerak terbatas pekan ini mempertimbangkan rilis sejumlah data ekonomi penting dari AS yang akan turut mempengaruhi pergerakan harga obligasi dalam negeri.

Lihat juga : Bareksa Insight : Suku Bunga Acuan BI Ditahan 3,5 Persen, Ini Dampaknya ke Reksadana

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Di tengah potensi besarnya tekanan di pasar modal menjelang pengumuman suku bunga AS, Tim Analis Bareksa merekomendasikan investor bisa menerapkan dua strategi ini agar investasinya di reksadana tetap berpeluang cuan : 

1. Masih terdapat potensi pelemahan terbatas untuk yield acuan Obligasi Pemerintah Indonesia ke kisaran level 7,42 - 7,48 persen pada pekan ini. Investor dapat tetap berinvestasi di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi. 

2. Analisis Bareksa memperkirakan reksadana saham dan reksadana indeks hari ini akan bergerak terbatas, mengingat investor domestik dan global masih wait and see terhadap sejumlah data makro ekonomi dunia. Investor dapat mencermati reksadana saham dan reksadana indeks berbasis sektor keuangan dan sektor infrastruktur, jika IHSG mengalami penurunan.

Simak juga : Bareksa Insight : Suku Bunga Acuan BI Ditahan 3,5 Persen, Ini Dampaknya ke Reksadana

Beberapa produk reksadana indeks, reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko agresif dan moderat ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 25 Juli 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 21,36 persen
Allianz SRI KEHATI Index Fund : 21,31 persen

Reksadana Saham

Avrist Ada Saham Blue Safir : 17,34 persen
Bahana Dana Prima : 17,1 persen

Imbal Hasil 1 Tahun (per 25 Juli 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Sucorinvest Stable Fund : 7,14 persen
Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 6,2 persen

Baca juga : Bareksa Insight : IMF Nilai Indonesia Aman dari Resesi, Potensi Cuan Reksadana Ini

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.