BeritaArrow iconBareksa InsightArrow iconArtikel

Bareksa Insight: Harga Minyak Anjlok 16% Jelang The Fed, Simak Peluang Reksadana & Emas

29 Juli 2026
Tags:
Bareksa Insight: Harga Minyak Anjlok 16% Jelang The Fed, Simak Peluang Reksadana & Emas
Ilustrasi kenaikan dan penurunan harga minyak yang berdampak terhadap kinerja pasar keuangan, termasuk IHSG, reksadana, SBN dan emas. (Shutterstock)

Harga minyak dunia turun 16% dalam tiga hari menjelang keputusan The Fed. Simak dampaknya terhadap inflasi, IHSG, yield SBN, reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang, dan emas.

Bareksa – Harga minyak dunia kembali melemah tajam menjelang pengumuman hasil rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat. Penurunan harga energi ini dinilai meredakan kekhawatiran inflasi global sekaligus meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Di pasar komoditas, minyak Brent ditutup turun 4,8% menjadi US$84,09 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 4,1% ke US$79,26 per barel pada Selasa (28/7). Secara kumulatif, kedua acuan minyak tersebut telah terkoreksi sekitar 16% dalam tiga hari terakhir di tengah meningkatnya harapan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan melanjutkan perundingan damai sehingga risiko gangguan pasokan energi berkurang.

Meredanya harga minyak ikut menurunkan tekanan inflasi global. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sekitar 62% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan kali ini.

Promo Terbaru di Bareksa

Sementara itu, di pasar domestik, rupiah relatif stabil di sekitar Rp18.077 per dolar AS, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bertahan di 7,374%, sedangkan IHSG melanjutkan pelemahan untuk hari kelima berturut-turut dan ditutup di 6.130,59 pada 28 Juli 2026.

Mengapa Harga Minyak Turun Tajam?

Harga minyak sangat sensitif terhadap kondisi geopolitik dan ekspektasi pasokan global. Ketika pasar melihat peluang meredanya ketegangan di Timur Tengah, risiko terganggunya distribusi minyak ikut menurun sehingga harga minyak terkoreksi.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mulai mengurangi posisi spekulatif menjelang keputusan suku bunga The Fed yang berpotensi memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi global.

Bagi pasar keuangan, penurunan harga minyak umumnya dipandang positif karena dapat membantu menekan biaya energi, mengurangi tekanan inflasi, dan membuka ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan melonggarkan kebijakan moneternya apabila kondisi ekonomi mendukung.

Mengapa Keputusan The Fed Penting?

The Fed merupakan bank sentral Amerika Serikat yang kebijakannya memengaruhi arus modal global, nilai tukar, hingga pasar obligasi dan saham di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Apabila The Fed mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pasar, volatilitas di pasar keuangan berpotensi lebih terkendali. Sebaliknya, apabila kebijakan yang diambil lebih ketat dari perkiraan, pasar dapat kembali bergejolak.

Saat ini perhatian investor tertuju pada arah kebijakan The Fed berikut proyeksi ekonomi dan sinyal mengenai kemungkinan penyesuaian suku bunga pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Dampaknya bagi Pasar Indonesia

Di tengah ekspektasi The Fed menahan suku bunga, kondisi pasar domestik masih menunjukkan dinamika yang beragam.

Indikator

Posisi

IHSG

6.130,59

Rupiah

Rp18.077/US$

Yield SBN 10 Tahun

7,374%

Sumber: Investing

Yield SBN yang masih berada di level relatif tinggi menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung prospek reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah apabila ke depan yield mulai menurun. Di sisi lain, kondisi pasar yang masih fluktuatif membuat reksadana pasar uang tetap relevan bagi investor yang mengutamakan likuiditas.

Reksadana Pasar Uang Layak Dicermati untuk Menjaga Likuiditas

Di tengah ketidakpastian pasar, reksadana pasar uang dapat menjadi salah satu alternatif bagi investor yang mengutamakan stabilitas dan fleksibilitas.

Pilihan Reksadana Pasar Uang

Produk

Return 1 Tahun

Insight Money Syariah

5,26%

Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia

4,53%

Mandiri Money Market USD

2,64%

BRI Seruni Likuid Dolar

3,39%

Sumber: Bareksa, kinerja per 28/7/2026

Reksadana Pendapatan Tetap Berbasis SBN Masih Menarik Dicermati

Yield obligasi pemerintah yang masih tinggi dapat menjadi perhatian investor yang memiliki horizon investasi menengah hingga panjang.

Apabila ke depan yield obligasi menurun, harga obligasi berpotensi meningkat sehingga dapat memberikan tambahan potensi imbal hasil bagi reksadana pendapatan tetap yang memiliki portofolio obligasi.

Pilihan Reksadana Pendapatan Tetap

Produk

Return 1 Tahun

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

1,44%

Mandiri Investa Dana Syariah Kelas A

1,61%

Sumber: Bareksa, kinerja per 28/7/2026

Harga Emas Terkoreksi, Bagaimana Prospeknya?

Seiring meredanya kekhawatiran inflasi, harga emas dunia turut mengalami koreksi menjadi sekitar US$4.021,90 per troy ounce pada perdagangan pagi 29 Juli 2026, turun dari level di atas US$4.100 yang sempat tercapai pada pekan ini.

Meski demikian, emas masih berpotensi menjadi salah satu instrumen diversifikasi portofolio, terutama ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global belum sepenuhnya mereda.

Harga Beli Emas Digital

Penyedia

Harga per Gram

Treasury

Rp2.406.218

Pegadaian

Rp2.497.740

Indogold

Rp2.409.204

Sumber: fitur Bareksa Emas 29/7/2026 pagi

Apa yang Sebaiknya Dicermati Investor?

Beberapa hal yang dapat menjadi perhatian investor saat ini antara lain:

  • Mencermati hasil rapat The Fed beserta arah kebijakan moneternya.

  • Memantau pergerakan yield SBN yang dapat memengaruhi prospek reksadana pendapatan tetap.

  • Memanfaatkan reksadana pasar uang sebagai alternatif untuk menjaga likuiditas di tengah volatilitas pasar.

  • Mempertimbangkan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi sesuai profil risiko dan tujuan investasi.

Perlu diingat, keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko, tujuan investasi, dan jangka waktu masing-masing investor.

Key Takeaways

  • Harga minyak dunia turun sekitar 16% dalam tiga hari terakhir.

  • Peluang The Fed mempertahankan suku bunga meningkat menjadi sekitar 62%.

  • Yield SBN Indonesia tenor 10 tahun masih bertahan di 7,374%.

  • reksadana pendapatan tetap berbasis SBN layak dicermati di tengah level yield yang masih tinggi.

  • reksadana pasar uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas.

  • Harga emas terkoreksi dan tetap dapat dipertimbangkan sebagai instrumen diversifikasi.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Investasi Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

***​​​​​​​​​

DISCLAIMER​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Mengapa harga minyak turun tajam?

Karena meningkatnya harapan perundingan damai antara AS dan Iran yang mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.

Mengapa pasar menunggu keputusan The Fed?

Karena kebijakan suku bunga The Fed memengaruhi pasar keuangan global, termasuk nilai tukar, obligasi, dan saham.

Apa dampak turunnya harga minyak terhadap inflasi?

Harga energi yang lebih rendah dapat membantu meredakan tekanan inflasi sehingga memberi ruang bagi bank sentral mempertahankan kebijakan moneternya.

Mengapa Reksadana Pendapatan Tetap layak dicermati?

Yield SBN yang masih tinggi dapat memberikan peluang ketika yield obligasi mulai menurun di masa mendatang.

Mengapa emas masih menarik?

Emas tetap dapat berfungsi sebagai salah satu instrumen diversifikasi, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Profil Penulis

Abdul Malik
Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.226,49

Up0,82%
Up1,40%
Up1,66%
Up6,22%
Up20,52%
Up14,43%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.184,34

Up1,03%
Up1,97%
Up2,52%
Up6,51%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.027,25

Up0,93%
Down-2,18%
Down-1,94%
---

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.202,46

Up0,53%
Up1,07%
Up1,49%
Up5,22%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua