Bareksa Insight : Suku Bunga Dolar AS Naik Lagi, Cuan Reksadana Ini 11 - 30,6 Persen

The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan secara agresif 0,75 persen jadi 2,25 - 2,5 persen
Abdul Malik • 28 Jul 2022
cover

Ilustrasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS The Fed (Fed Rate) yang berdampak pada kinerja pasar modal global, termasuk IHSG, reksadana, SBN hingga emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) secara agresif 0,75 persen jadi 2,25 - 2,5 persen pada bulan Juli 2022. Kenaikan ini setelah sebelumnya pada Maret 2022, The Fed menaikkan suku bunga acuan 0,25 persen, kemudian Mei naik 0,5 persen dan Juni naik 0,75 persen. Kenaikan ini merupakan yang paling agresif sejak 1994. 

Menurut analisis Bareksa, kenaikan suku bunga acuan AS pada Juli sesuai ekspektasi pelaku pasar. Gubernur The Fed juga mengatakan kenaikan suku bunga berikutnya akan lebih rendah, tergantung dengan perkembangan data ekonomi Negara Paman Sam selanjutnya. Pernyataan itu ditanggapi positif investor global dan mendorong mayoritas Bursa Saham AS naik signifikan Rabu malam WIB atau pada penutupan perdagangan Rabu sore (27/7) waktu AS.

Meskipun pasar saham global saat ini sedang euforia, namun menurut analisis Bareksa, investor disarankan tetap menanti rilis data pertumbuhan ekonomi AS pada Kamis malam WIB, apakah menandakan resesi atau tidak. 

Baca juga : Bareksa Insight : Musim Rilis Kinerja Emiten, Cuan Reksadana Ini Berpotensi Mantul

Di sisi lain, kenaikan Fed Rate semakin memperkecil selisih imbal hasil antara Obligasi Pemerintah Indonesia dengan AS dan dikhawatirkan bisa mendorong aliran dana asing keluar dari pasar saham dan obligasi Tanah Air.  Namun APBN pada Juni 2022 yang dilaporkan surplus Rp73.6 triliun bisa menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia.

Kinerja pasar saham nasional yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 27 Juli 2022 naik 0,39 persen ke level 6.898,22,  Berdasarkan data id.investing.com (diakses 27/07/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat naik ke level 7,5 persen pada 27 Juli 2022. 

Simak juga : Bareksa Insight : Pasar Kian Tertekan Jelang Rilis Suku Bunga AS, Ini Jurus Agar Investasi Cuan

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Mempertimbangkan kenaikan Fed Rate yang sesuai pelaku pasar, serta investor yang sedang menanti rilis data pertumbuhan ekonomi AS, Tim Analis Bareksa menyarankan investor menerapkan tiga strategi ini agar investasinya di reksadana meraih cuan optimal : 

1. Di tengah sentimen yang cukup beragam, analisis Bareksa memperkirakan masih ada peluang kenaikan terbatas di pasar saham (IHSG) dan dapat menopang kinerja reksadana saham dan reksadana indeks. Investor dapat mencermati terlebih dulu pergerakan IHSG hari ini untuk melihat peluang terbaik agar mendapatkan imbal hasil yang optimal.

2. Sementara itu, pasar obligasi kembali menguat dengan penurunan imbal hasil (yield) ke level 7,32 persen didukung oleh pemulihan ekonomi dalam negeri. Namun, investor reksadana pendapatan tetap diharapkan masih tetap waspada dengan potensi pelemahan harga obligasi Indonesia pasca kenaikan agresif suku bunga Bank Sentral AS.

3. Investor disarankan juga perlu mendiversifikasi investasinya sesuai dengan profil risiko di reksadana pasar uang.

Lihat juga : Bareksa Insight : Pasar Tunggu Suku Bunga AS dan Kinerja Emiten, Reksadana Ini Cuan 10 - 30 Persen

Beberapa reksadana indeks, reksadana saham, reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko agresif, moderat dan konservatif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 27 Juli 2022)

Reksadana Indeks

Avrist IDX30 : 17,74 persen
Principal Index IDX30 Kelas O : 15,87 persen

Reksadana Saham

BNI AM Inspiring Equity Fund : 11,61 persen
Sucorinvest Maxi Fund : 18,84 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 27 Juli 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 30,64 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 16,51 persen

Reksadana Pasar Uang

Capital Money Market Fund : 17,87 persen
Syailendra Dana Kas : 15,67 persen

Baca juga : Bareksa Insight: Tarif Ekspor CPO Dihapus, Reksadana Berbasis Saham Komoditas Melesat

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Baca juga : Bareksa Insight : IMF Nilai Indonesia Aman dari Resesi, Potensi Cuan Reksadana Ini

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.