Bareksa Insight : Minat Asing di Lelang SBN Meningkat, Cuan Reksadana Ini Bisa Melesat

Mayoritas investor asing melakukan penawaran di SBN tenor panjang
Abdul Malik • 07 Dec 2022
cover

Ilustrasi lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang menarik minat investor asing, sehingga berdampak ke kinerja reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Lelang Surat Berharga Negara (SBN) kemarin (7/12/2022), minat investor asing meningkat dibandingkan lelang sebelumnya. Terlihat dari penawaran yang masuk mencapai Rp6,93 triliun dibandingkan sebelumnya Rp6,4 triliun. 

Secara total, lelang SBN terakhir di 2022 di tengah pelaku pasar yang sedang wait and see menjelang rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) atau FOMC pekan depan tersebut, meraih total penawaran (incoming bids) Rp27,66 triliun, atau 1,84 kali dari target indikatif Rp15,5 triliun. 

Menurut Tim Analis Bareksa, mayoritas investor asing melakukan penawaran di SBN tenor panjang dan turut menopang kinerja sejumlah reksadana pendapatan tetap berbasis SBN. Hal ini juga menandakan optimisme investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia di tengah potensi perlambatan ekonomi global di 2023.

Baca juga : Bareksa Insight : Pasar Nantikan Data Cadangan Devisa, Ini Prospek Cuan Reksadana

Di sisi lain, kekhawatiran investor terhadap agresivitas kenaikan suku bunga acuan The Fed (Fed Rate) kembali meningkat, setelah sejumlah data ekonomi AS pekan ini mencatatkan penguatan. Sepanjang 2022 hingga November, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan 375 basis poin atau 3,75% dari sebelumnya 0-0,25% jadi 3,75% hingga 4%.

Investor asing melakukan aksi jual cukup masif sebulan terakhir sekitar Rp5 triliun di pasar saham Tanah Air. Selain itu, beberapa saham berkapitalisasi besar (big caps) yang memiliki kaitan dengan saham GOTO mengalami penurunan cukup signifikan. Hal ini turut menekan mayoritas reksadana saham dan reksadana indeks ikut melemah. 

Pasar saham Tanah Air yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (6/12/2022) anjlok 1,36% ke level 6.892,57. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 06/12/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 6,9%.

Lihat juga : Bareksa Insight : Harga Minyak Rusia Dibatasi, Potensi Cuan Reksadana Ini

Apa yang bisa dilakukan Smart Investor?

Mempertimbangkan meningkatnya minat investor asing terhadap SBN, namun justru mencatatkan aksi jual di pasar saham menjelang rapat The Fed pekan depan, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor menerapkan 2 strategi ini agar cuan investasinya tetap maksimal

1. Meski hasil lelang SBN lebih baik dibandingkan sebelumnya, namun pergerakan pasar obligasi secara keseluruhan cenderung terbatas dengan yield (imbal hasil) acuan Obligasi Negara melemah tipis ke level 6,9%. Sehingga, Smart Investor dapat tetap berinvestasi di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi, hingga yield acuan Obligasi Negara melemah ke level 7,2-7,3%.

2. Tim Analis Bareksa memperkirakan kinerja reksadana indeks dan reksadana saham hari ini akan bergerak terbatas akibat minimnya sentimen dari dalam negeri dan luar negeri. Penurunan IHSG saat ini bisa jadi peluang investor dengan profil risiko agresif masuk kembali dengan fokus investasi jangka pendek.

Simak juga : Bareksa Insight: Inflasi Indonesia Turun Jadi 5,42%, Ini Dampaknya ke Reksadana

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, reksadana indeks dan reksadana pasar uang yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko moderat, agresif dan konservatif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 6 Desember 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 29,9%
Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A : 18,09%

Reksadana Pasar Uang

Sucorinvest Sharia Money Market Fund : 16,36%
TRIM Kas 2 : 12,89%

Imbal Hasil Sepanjang Tahun Berjalan (YTD per 6 Desember 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 15,67%
Allianz SRI KEHATI Index Fund : 15,59%

Reksadana Saham

Mandiri Investa Atraktif Syariah : 8,48%
Batavia Dana Saham : 6,22%

Baca juga : Bareksa Insight : Ekonomi AS di Kuartal III Membaik, Ini Dampak ke IHSG, SBN dan Reksadana

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Suku Bunga BI Bisa Naik Jadi 4,5%, Ini Jurus Cuan Buat Investor Reksadana

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.