Bareksa Insight: Inflasi Indonesia Turun Jadi 5,42%, Ini Dampaknya ke Reksadana

Potensi untuk akumulasi reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi negara
Hanum Kusuma Dewi • 02 Dec 2022
cover

Ilustrasi pergerakan pasar saham IHSG yang tercermin dalam grafik saham, data angka dan panah naik ke atas berwarna hijau. (Shutterstock)

Bareksa.com - Awal bulan Desember, investor disajikan data inflasi tahunan untuk bulan November yang lebih rendah dibandingkan perkiraan. Hal ini menjadi sentimen positif bagi kinerja pasar keuangan khususnya pasar saham dan obligasi, serta reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi negara

Menurut data Badan Pusat Statistik, inflasi November 2022 sebesar 5,42% year on year (YOY), lebih rendah dibandingkan perkiraan konsensus di 5,5%-5,6%. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sekitar 5,71%. 

Artinya, kenaikan harga pangan dan transportasi pada bulan November masih cukup terkendali. Makanya, hal ini dapat menjadi sentimen baik untuk pasar saham maupun obligasi serta instrumen reksadana, karena akan menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga acuan berikutnya.

Seiring dengan rilis data ekonomi tersebut, mayoritas reksadana pendapatan tetap melanjutkan penguatan. Hal ini ditandai dengan penurunan yield acuan obligasi ke level 6,86% dari sebelumnya di kisaran 6,9%. 

Selain itu investor optimis jika tekanan global yang berasal dari tingginya inflasi AS juga semakin mereda. Terlihat dari  yield acuan obligasi AS yang saat ini turun ke kisaran 3,5%, terendah sejak bulan September 2022.  

Rekomendasi Reksadana

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Tim Analis Bareksa melihat reksadana saham dan reksadana indeks hari ini masih cenderung mengalami pelemahan terbatas akibat adanya aksi jual saham GOTO setelah pembukaan masa lock up period sejak kemarin. Investor agresif dapat memanfaatkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan melakukan akumulasi pada reksadana basis saham sektor perbankan, konsumen dan ritel.

Bareksa juga melihat melihat reksadana pendapatan tetap akan bergerak terbatas pada hari ini. Sebab, investor global menunggu rilis data non farm payroll dan tingkat pengangguran AS yang diproyeksikan melemah akibat tingginya suku bunga acuan di negara tersebut. Investor moderat dapat mencermati reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi negara.

Imbal Hasil 3 Tahun (1 Desember 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A: +18,20%

TRIM Dana Tetap 2: +16,50%

Reksadana Pasar Uang

Capital Money Market Fund: +16,66%

Sucorinvest Sharia Money Market Fund: +16,45%

Imbal Hasil Tahun Berjalan (YtD 1 Desember 2022)

Reksadana Indeks

Danareksa Indeks Syariah: +9,16%

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A: +8,01%

Reksadana Saham

Sucorinvest Equity Fund: +14,70%

Schroder Dana Prestasi Plus: +16,71%

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.