Bareksa Insight : Pasar Saham Turun Dalam, Reksadana Ini Masih Potensi Cuan

IHSG anjlok sekitar 1,87% pada Jumat lalu di level 7.168
Abdul Malik • 19 Sep 2022
cover

Ilustrasi pekerja sedang merakit baterai untuk mobil listrik di sebuah pabrik baterai. Saham berbasis komoditas bahan baku baterai mobil listrik seperti nikel dan lithium melonjak di tengah penurunan IHSG, sehingga mendongkrak kinerja reksadana berbasis saham tersebut. (Shutterstock)

Bareksa.com - Di tengah penurunan signifikan pasar saham nasional, namun saham di sektor barang baku (basic materials) masih mencatatkan kinerja positif.  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok sekitar 1,87% pada Jumat lalu (16/9/2022) di level 7.168. 

Untuk diketahui, harga komoditas barang baku untuk kendaraan listrik (EV) seperti lithium dan nikel meningkat karena ada gangguan pasokan di tengah tingginya permintaan EV. Menurut Tim Analis Bareksa, reksadana saham syariah yang umumnya memiliki porsi investasi di sektor barang baku cukup besar, mencatatkan penurunan lebih kecil, dibandingkan reksadana konvensional.

Baca juga : Bareksa Insight : Surplus Neraca Dagang Rekor All Time High, Cuan Reksadana Ini Terbang

Pekan ini, pelaku pasar akan menantikan rilis kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia dan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve). Mempertimbangkan hal tersebut, Tim Analis Bareksa memprediksi pergerakan pasar saham dan obligasi pekan ini akan lebih berfluktuasi dengan kecenderungan melemah terbatas. 

Meski begitu, kondisi makro ekonomi Indonesia masih cukup pruden, terutama karena didukung oleh tingginya harga komoditas yang menopang surplus neraca perdagangan. Berdasarkan data  id.investing.com (diakses 16/09/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat naik ke level 7,2% pada 16 September 2022. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Neraca Dagang Agustus Bisa Surplus Lagi, Topang Kinerja Reksadana Ini

Apa yang bisa dilakukan investor?

Di tengah sentimen pelaku pasar sedang menanti kebijakan suku bunga acuan BI dan The Fed pekan ini, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor menerapkan 3 strategi ini agar investasinya tetap aman dan berpotensi cuan maksimal

1. Pelaku pasar diperkirakan akan lebih berhati-hati untuk masuk ke aset yang lebih berisiko pada pekan ini karena potensi kebijakan agresif BI maupun The Fed. Smart Investor bisa wait and see (menanti), serta kembali masuk berinvestasi di reksadana saham, jika IHSG menyentuh level 7.000.

2. Tim Analis Bareksa memperkirakan pasar obligasi akan bergerak terbatas dengan imbal hasil (yield) kemungkinan bergerak di 7,18-7,24% hari ini. Smart Investor bisa kembali masuk dan berinvestasi di reksadana pendapatan tetap berbasis Obligasi Negara, pada saat yield menyentuh 7,3-7,5%.

3. Diversifikasi investasi di aset lebih stabil dan rendah risiko juga cukup penting, seperti reksadana pasar uang. Selain itu, pekan depan Pemerintah juga akan kembali menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel jenis Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI022 yang bisa jadi pertimbangan investasi yang aman dan cuan.

Simak juga : Bareksa Insight : Inflasi AS Meroket Buat Pasar Global Ambrol, Ini Jurus Agar Investasi Terus Cuan

Beberapa produk reksadana saham, reksadana indeks, reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko agresif, moderat dan konservatif di antaranya : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 16 September 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 28,78%
Allianz SRI KEHATI Index Fund : 28,83%

Reksadana Saham

Batavia Dana Saham Syariah : 17,27%
Manulife Saham SMC Plus : 7,3%

Imbal Hasil 3 Tahun (per 16 September 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

TRIM Dana Tetap 2 : 17,68%
Mandiri Investa Dana Syariah : 13,57%

Reksadana Pasar Uang

Capital Money Market Fund : 17,31%
Syailendra Sharia Money Market Fund : 15,63%

Lihat juga : Bareksa Insight : Harga BBM Naik, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Baca juga : Bareksa Insight : Asing Masuk ke Obligasi Rp8 Triliun, Cuan Reksadana Ini Meroket

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.