Bareksa Insight : Neraca Dagang Agustus Bisa Surplus Lagi, Topang Kinerja Reksadana Ini

Neraca perdagangan RI bulan Agustus 2022 diproyeksikan surplus US$3-4 miliar
Abdul Malik • 15 Sep 2022
cover

Pekerja beraktivitas di area bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (17/10/2019). Neraca dagang Indonesia pada Agustus 2022 diprediksi kembali surplus sehingga jadi sentimen positif bagi pasar saham, obligasi dan mendongkrak cuan reksadana. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj)

Bareksa.com - Pelaku pasar dalam negeri saat ini tengah menanti hasil rilis data neraca perdagangan bulan Agustus 2022 yang diproyeksikan surplus US$3-4 miliar karena tingginya harga komoditas. 

Menurut Tim Analis Bareksa, jika hasil surplus neraca dagang sesuai dengan perkiraan, maka hal ini bisa jadi sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi, serta mendongkrak kinerja reksadana, di tengah gejolak sentimen global. 

Sejak awal tahun 2022, Indonesia masih konstan mencatatkan surplus neraca perdagangan. Pada Juli 2022, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan US$4,22 miliar. 

Baca juga : Bareksa Insight : Inflasi AS Meroket Buat Pasar Global Ambrol, Ini Jurus Agar Investasi Terus Cuan

Sementara itu, mayoritas reksadana berbasis saham dan pendapatan tetap yang berbasis Surat Berharga Negara (SBN) melemah kemarin (14/9/2022), pasca rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Potensi kenaikan suku bunga acuan AS semakin tinggi dan dikhawatirkan mengakibatkan perlambatan hingga resesi ekonomi, yang akan turut berdampak secara global. 

Namun di tengah penurunan IHSG, menurut Tim Analis Bareksa, saham sektor energi dan non siklikal masih berhasil menguat, karena investor meyakini jika terjadi perlambatan ekonomi, maka permintaan barang kebutuhan pokok masih dapat terjaga.

Pasar saham Tanah Air yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 14 September 2022 turun 0,55% ke level 7.278. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 14/09/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat di level 7,1%. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Risiko Inflasi Masih Bayangi Pasar, Investasi Aman dan Cuan di SR017

Apa yang bisa dilakukan investor?

Di tengah sentimen positif potensi surplus neraca dagang RI dan sentimen negatif peluang terus agresifnya kenaikan suku bunga acuan AS, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor menerapkan dua strategi ini agar investasinya terus membukukan kinerja optimal

1. Investor yang sudah memiliki keuntungan di atas 5% dari reksadana saham dan reksadana indeks, dapat mempertimbangkan untuk mengalihkan (switching) bertahap ke instrumen yang lebih stabil seperti reksadana pasar uang.

2. Tim Analis Bareksa memperkirakan yield acuan Obligasi Pemerintah Indonesia akan berada di level 7,1 - 7,2% hari ini (15/9/2022) dan untuk harga Surat Berharga Negara (SBN) masih memiliki peluang koreksi dalam jangka pendek. Sehingga, Smart Investor bisa tetap mencermati reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi.

Simak juga : Bareksa Insight : Risiko Inflasi Tinggi Bayangi Pasar, Emas Bisa Jadi Alternatif Investasi

Beberapa produk reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko konservatif, moderat dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 14 September 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 29,05%
Allianz SRI KEHATI Index Fund : 29,18%

Reksadana Saham

TRIM Kapital : 20,59%
BNP Paribas Pesona Syariah : 8,57%

Imbal Hasil 3 Tahun (per 14 September 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

TRIM Dana Tetap 2 : 17,36%
Mandiri Investa Dana Syariah : 13,62%

Reksadana Pasar Uang

Syailendra Dana Kas : 15,25%
Sucorinvest Sharia Money Market Fund : 17,44%

Lihat juga : Bareksa Insight : Harga BBM Naik, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Baca juga : Bareksa Insight : Asing Masuk ke Obligasi Rp8 Triliun, Cuan Reksadana Ini Meroket

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.