Bareksa Insight : Inflasi AS Meroket Buat Pasar Global Ambrol, Ini Jurus Agar Investasi Terus Cuan

Pasar saham dan obligasi global melemah signifikan pada Selasa malam WIB merespons rilis inflasi AS Agustus 2022 yang masih cukup tinggi yakni 8,3%
Abdul Malik • 14 Sep 2022
cover

Ilustrasi lonjakan inflasi AS yang berpengaruh terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) sehingga berdampak pada kinerja pasar keuangan global, termasuk Indonesia, seperti IHSG, reksadana, SBN hingga emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pasar saham dan obligasi global melemah signifikan pada Selasa malam WIB (13/9/2022), merespons rilis angka inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih cukup tinggi yakni 8,3% pada Agustus 2022. Indeks harga konsumen Negara Paman Sam, meskipun lebih rendah dari Juli, namun melaju di atas perkiraan pelaku pasar 8,1%,

Merespons hal tersebut, bursa saham dan pasar obligasi AS melemah signifikan tadi malam. Sebab tingginya inflasi AS bisa membuka potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (Federal Reserve) hingga 1% untuk bulan September. Saat ini suku bunga The Fed (Fed Funds Rate) di level 2,25% hingga 2,5%. 

Baca juga : Bareksa Insight : Risiko Inflasi Masih Bayangi Pasar, Investasi Aman dan Cuan di SR017

Menurut Tim Analis Bareksa, menyusul pelemahan bursa saham dan obligasi global, maka pasar saham dan obligasi Indonesia diproyeksikan akan melemah hari ini. Karena itu, Smart Investor disarankan bisa mengalihkan investasinya (switching) sementara ke instrumen yang lebih stabil seperti reksadana pasar uang.

Tim Analis Bareksa menilai umumnya jika suku bunga AS naik lebih tinggi, investor akan lebih tertarik terhadap imbal hasil investasi AS dibandingkan dengan negara berkembang seperti Indonesia. 

Di sisi lain kondisi makro Indonesia saat ini terlihat masih bertumbuh karena diuntungkan dari ekspor energi seperti batu bara, sehingga terus mencetak surplus sejak awal tahun dan membuat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hanya melemah terbatas. Kuatnya fundamental ekonomi RI diproyeksikan akan mampu membatasi potensi pelemahan pasar modal Tanah Air dalam jangka pendek.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 13 September 2022 naik 0,88% ke level 7.318,02. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 13/09/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 7,17%. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Risiko Inflasi Tinggi Bayangi Pasar, Emas Bisa Jadi Alternatif Investasi

Apa yang bisa dilakukan investor?

Di tengah sentimen tingginya inflasi AS dan potensi pelemahan pasar global, Tim Analis Bareksa menyarankan agar Smart Investor menerapkan 3 jurus investasi berikut ini, agar hasilnya maksimal

1. Smart Investor dapat mempertimbangkan untuk mengalihkan sementara investasinya di reksadana pasar uang karena melihat potensi pelemahan di pasar saham dan obligasi dalam jangka pendek pasca rilis angka inflasi AS tadi malam.

2. Smart Investor juga dapat kembali masuk ke reksadana berbasis saham, jika IHSG dapat berada di bawah level 7.000, serta mencermati reksadana berbasis saham sektor energi yang diproyeksikan masih memiliki potensi hingga akhir tahun, ditopang tingginya harga batu bara.

3. Imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah AS semalam menyentuh level tinggi di kisaran 3,4%, hal ini diproyeksikan mendorong pelemahan yield Obligasi Pemerintah Indonesia. Investor dapat wait and see (menanti) untuk berinvestasi di reksadana pendapatan tetap, hingga rilis kebijakan suku bunga acuan The Fed dan Bank Indonesia berikutnya.

Simak juga : Bareksa Insight : BI Tak Agresif Naikkan Suku Bunga, Cuan Reksadana Ini Melesat

Beberapa produk reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan investor dengan profil risiko konservatif, moderat dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 13 September 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 30,43%
Allianz SRI KEHATI Index Fund : 30,58%

Reksadana Saham

KISI Equity Fund : 24.19%
Batavia Dana Saham Syariah : 18,93%

Imbal Hasil 3 Tahun (per 13 September 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

TRIM Dana Tetap 2 : 17,41%
Mandiri Investa Dana Syariah : 13,65%

Reksadana Pasar Uang

Syailendra Dana Kas : 15,24%
Sucorinvest Sharia Money Market Fund : 17,43%

Lihat juga : Bareksa Insight : Harga BBM Naik, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Baca juga : Bareksa Insight : Asing Masuk ke Obligasi Rp8 Triliun, Cuan Reksadana Ini Meroket

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.