Hasil KTT G20 Positif untuk Indonesia, Ini Peluang Investasi Reksadana dan Emas

Investor agresif bisa mulai mengakumulasi reksadana saham dan reksadana indeks saham berbasis big caps
Hanum Kusuma Dewi • 22 Nov 2022
cover

Ilustrasi bendera negara-negara yang tergabung dalam KTT G20 di Bali 2022. (Shutterstock)

Bareksa.com - Konferensi Tingkat Tinggi G20 yang berlangsung di Bali telah menghasilkan sejumlah resolusi. Hasil pertemuan para kepala negara tersebut berpotensi memberi dampak positif bagi ekonomi, dan mendorong investasi di Indonesia termasuk di reksadana dan emas

KTT yang berlangsung pada 15-16 November tersebut juga menggelar beberapa pertemuan penting terutama antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Joe Biden. Pertemuan ini merupakan yang pertama setelah sebelumnya kunjungan Ketua Kongres AS Nancy Pelosi ke Taiwan semakin memantik ketegangan antara China dan Taiwan.

Investor melihat beberapa resolusi penting yang dihasilkan dari pertemuan selama dua hari tersebut. Pertama, terbentuknya pandemic fund sebesar US$1,5 miliar yang menjadi dana cadangan serta katalis pendorong bagi sektor kesehatan di masa yang akan datang. Kedua, dibentuknya resilience and sustainability trust oleh lembaga dana moneter dunia sebesar US$81,6 miliar untuk membantu negara-negara yang rawan terhadap krisis. 

Ketiga, dibentuknya Just Energy Transition Partnership (JETP) sebesar US$20 miliar untuk membantu Indonesia dalam transisi energi. Keempat, pemimpin negara G20 berkomitmen untuk mengurangi degradasi tanah sebesar 30% hingga 2030.

Bagi investor, hal yang menarik minat untuk berinvestasi saat ini adalah stabilitas ekonomi, baik dari sisi domestik dan global ke depannya. Sdanya beberapa resolusi tersebut akan mendorong ke arah yang lebih baik lagi di tengah masa pemulihan ekonomi seperti saat ini.

Indonesia sendiri sebagai salah satu negara yang memiliki sumber daya alam penghasil energi bersih yang cukup besar akan mendapatkan manfaat yang cukup tinggi terutama dari perjanjian JETP. Selain menekan biaya bahan baku, Indonesia bisa lebih banyak berfokus kepada riset dan pengembangan. Indonesia ke depannya akan menjadi contoh bagi negara berkembang lainnya untuk bisa mandiri dalam hal sisi energi bersih.

Pada pekan lalu, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,5% ke level 5,25%. Kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini akan menjadi yang tertinggi semenjak tahun 2019. Hal tersebut juga merupakan upaya BI untuk upaya pencegahan pelemahan rupiah, setelah melemah 2,4% selama kuartal ini.

Baca juga Bunga Acuan BI Naik Lagi Jadi 5,25%, Ini Dampaknya ke Cuan Reksadana

Tren peningkatan suku bunga acuan juga terjadi di negara kawasan Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia dan Thailand. Kenaikan suku bunga Indonesia berada di tengah-tengah negara tetangga, seperti terlihat dalam grafik berikut ini. 

Total Kenaikan Suku Bunga Acuan Bank Sentral Di Kawasan Asia Tenggara

Sumber: Bareksa Research Team

Tim Analis Bareksa melihat upaya bersama menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan global dari anggota G20 membuat investor semakin percaya inflasi akan terkendali, serta pertumbuhan ekonomi akan kembali ke level yang lebih baik.

Di samping itu, Bareksa melihat sektor investasi pada energi terbarukan seperti nikel dan timah di Indonesia akan menguat dalam beberapa tahun mendatang. Maka, reksadana saham berbasis sektor tersebut akan mengalami penguatan yang signifikan dalam jangka pendek setelah adanya sentimen investasi jangka panjang dalam energi terbarukan.

Dari sisi obligasi negara, Tim Analis Bareksa melihat akan adanya fluktuasi yang cukup signifikan, karena Bank Indonesia masih memiliki ruang di kuartal pertama tahun depan untuk menaikkan suku bunga acuannya lagi ke level 5,75-6% setelah Bank sentral AS mengatakan akan terus menaikan suku bunga secara agresif.

Rekomendasi Investasi

Lantas, dengan kondisi tersebut, apa yang harus dilakukan investor?

Melihat sejumlah sentimen di atas, investor dapat mempertimbangkan untuk melakukan strategi investasi di reksadana dan emas seperti berikut ini.

  • Investor dengan profil risiko agresif dapat mengakumulasi reksadana saham dan indeks dengan target investasi jangka pendek dan berfokus kepada saham berkapitalisasi besar ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi. Bareksa masih merekomendasikan untuk membeli reksadana saham dan reksadana indeks yang banyak memiliki komposisi saham sektor keuangan, konsumer, ritel, bahan baku dan energi.
  • Sementara itu, investor profil risiko moderat dapat mempertimbangkan akumulasi bertahap di reksadana pendapatan tetap basis obligasi negara (SBN) jika imbal hasil (yield) berada di level 7,4% - 7,6%.
  • Tim Analis Bareksa juga merekomendasikan untuk untuk investor dengan semua profil risiko memiliki emas digital dengan mempertimbangkan kebutuhan likuiditas dari investor serta sebagai alat pelindung fluktuasi nilai portofolio. Investor disarankan memiliki minimal 5% emas dalam portofolio. 

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan.

Kinerja Reksadana

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Capital Money Market Fund

4,42%

16,73%

Syailendra Sharia Money Market Fund

3,95%

15,25%

Sucorinvest Sharia Money Market Fund  

4,08%

16,60%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

3 Tahun

5 Tahun

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

17,27%

31,04%

Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A

16,09%

30,98%

Syailendra Pendapatan Tetap Premium

29,81%

51,67%

Reksa Dana Saham & Indeks

YtD

1 Tahun

Sucorinvest Equity Fund

13,92%

15,66%

Bahana Primavera Plus

16,01%

13,64%

BNP Paribas Sri Kehati

15,03%

13,11%

Sumber: Tim Analis Bareksa, Return per NAV 16 November 2022

Baca juga Promo FundFest 11.11 Beli Reksadana Berhadiah Smartphone, Emas hingga Voucher

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.