Bareksa Insight : Perbaikan Data Ekonomi RI Berlanjut, Cuan Reksadana Ini Terbang hingga 17%

Positifnya neraca dagang RI jadi sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi dalam negeri, ikut melesat
Abdul Malik • 16 Nov 2022
cover

Ilustrasi aktivitas bongkar muat di pelabuhan petikemas Tanjung Emas, Surabaya. Positifnya kinerja surplus neraca dagang membuat pelaku pasar optimistis terhadap ekonomi Indonesia, sehingga jadi sentimen positif bagi kinerja IHSG, reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Neraca dagang Indonesia kembali mencatat surplus pada Oktober 2022 senilai US$5,67 miliar, atau lebih tinggi dari proyeksi konsensus US$4,5 miliar. Positifnya neraca dagang RI jadi sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi dalam negeri, ikut melesat. Hal itu menopang cuan reksadana berbasis saham dan reksadana pendapatan tetap ikut terbang. 

Menurut Tim Analis Bareksa, berlanjutnya perbaikan data ekonomi membuat pelaku pasar optimistis atas kondisi Indonesia, sehingga dinilai masih cukup kuat dalam menghadapi risiko global. Pasar saham Tanah Air yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (15/11/2022) ditutup menguat 0,23% di level 7.035. 

Baca juga : Bareksa Insight : Harga SBN Menguat Sepekan Terakhir, Reksadana Ini Cuan Hingga 16%

Di sisi lain, pelaku pasar juga melihat inflasi Amerika Serikat (AS) telah mencapai puncaknya dan akan semakin melandai. Salah satunya ditandai data inflasi dari sisi indeks harga produsen pada Oktober 2022 yang dirilis Selasa malam WIB, yang hanya 8% secara tahunan (YOY). Angka itu lebih rendah dari perkiraan pasar yang sebesar 8,3%. 

Rilis inflasi harga produsen AS yang melandai tersebut mendorong penguatan yield (imbal hasil) acuan Obligasi Negara Paman Sam ke level 3,7% dari sebelumnya 3,8%. Hal ini diprediksi akan menopang penguatan yield acuan Obligasi Pemerintah Indonesia di kisaran level 6,9-7,1%, serta mendorong kinerja reksadana pendapatan tetap, terutama yang berbasis Surat Berharga Negara (SBN).

Lihat juga : Bareksa Insight : Imbal Hasil Green Sukuk Ritel ST009 Berpotensi Naik Hingga Tahun Depan

Apa yang bisa dilakukan Smart Investor?

Mempertimbangkan positifnya data ekonomi RI dan melandainya inflasi AS, Tim Analis Bareksa merekomendasikan Smart Investor menerapkan 2 jurus ini agar kinerja investasinya tetap maksimal

1. Selain beberapa sentimen tersebut, pelaku pasar juga tengah menanti hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada 15-16 November 2022, yang bisa berdampak langsung terhadap ekonomi Indonesia. Jika ada kabar baik, maka diproyeksikan turut menopang kinerja pasar modal, serta instrumen reksadana. Smart Investor bisa tetap mencermati pergerakan IHSG hari ini.

2. Sementara itu, yield acuan Obligasi Pemerintah Indonesia kemarin (15/11) ditutup menguat di kisaran 7,04%. Selain berinvestasi di reksadana pendapatan tetap berbasis SBN, Smart Investor disarankan juga tetap mendiversifikasi investasinya di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi, ataupun reksadana pasar uang untuk mengoptimalkan kinerja portofolionya.

Simak juga : Bareksa Insight : Inflasi AS Rendah, Ini 2 Jurus Investasi Agar Cuan Maksimal

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang, reksadana dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko dengan profil risiko moderat, konservatif dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 15 November 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A : 15,93%
TRIM Dana Tetap 2 : 15,84%

Reksadana Pasar Uang

Sucorinvest Sharia Money Market Fund : 16,59%
Syailendra Dana Kas : 14,72%

Imbal Hasil Sepanjang Tahun Berjalan (YTD per 15 November 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas IDX Growth30 : 10,87%
Danareksa Indeks Syariah : 10,04%

Reksadana Saham

Bahana Dana Prima : 17,12%
Batavia Dana Saham Optimal : 8,6%

Simak juga : Bareksa Insight : Upah Buruh RI Naik Tanda Ekonomi Solid, Cuan Reksadana Ini Melejit Hingga 16%

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Suku Bunga BI Bisa Naik Jadi 4,5%, Ini Jurus Cuan Buat Investor Reksadana

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.