Bareksa Insight: Isu Harga BBM Naik Bikin Panik? Pakai Strategi Investasi Ini

Reksadana saham Sucorinvest Equity Fund naik 31,86% setahun terakhir
Hanum Kusuma Dewi • 19 Aug 2022
cover

Lambang Pertamina terlihat di depan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) atau pom bensin Pertamina di Bulungan, Indonesia pada 23 Januari 2022. Pemerintah diisukan akan menaikkan harga BBM bersubsidi. (A Dharma Prasetya / Shutterstock.com)

Bareksa.com - Pemerintah diisukan akan menaikkan harga BBM dalam waktu dekat akibat pemerintah sudah menganggarkan subsidi energi terutama bahan bakar sebesar Rp502,4 triliun untuk tahun ini. Di RAPBN 2023 pun pemerintah memangkas subsidi energi dengan hanya menganggarkan sebesar Rp336,7 triliun atau turun sebesar 33,07%. 

Hal tersebut menjadi kekhawatiran bagi investor dalam negeri. Sebab, apabila harga BBM bersubsidi dinaikkan, dikhawatirkan dapat mendorong inflasi yang tinggi di Indonesia serta kembali melemahnya nilai tukar rupiah.

Sementara itu, dari pasar obligasi kemarin (18/8/2022) investor dalam negeri kembali melepas obligasi negara jangka panjang seperti tenor 15-30 tahun dan masuk ke dalam obligasi tenor menengah 5-10 tahun. Pasar masih melihat obligasi negara saat ini masih berada dalam level yang cukup atraktif walaupun nilai tukar rupiah melemah selama 3 hari terakhir akibat sinyal dari Bank Sentral AS yang masih akan menaikkan tingkat suku bunganya. 

Apa yang bisa dilakukan investor?

• Investor dapat masuk ke dalam reksadana saham dan reksadana indeks yang cenderung defensif yang memiliki sektor perbankan dan infrastruktur, mengingat kenaikan harga BBM akan menekan daya beli masyarakat yang dikhawatirkan akan membuat kinerja perusahaan akan melemah. Tim Analis Bareksa tetap merekomendasikan untuk masuk ke dalam reksadana saham dan indeks saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi di bawah 7.000.

• Tim Analis Bareksa melihat reksadana pendapatan tetap juga akan mengalami penguatan terbatas pada hari ini dengan sentimen inflasi yang tinggi nantinya akan mendorong BI untuk menaikkan tingkat suku bunganya lebih tinggi pada tahun ini dibandingkan dengan ekspektasi pasar. Imbal hasil (yield) obligasi negara diperkirakan akan masih bergerak di rentang 7-7,1% pada hari ini. Investor disarankan untuk tetap memegang reksadana berbasis obligasi korporasi hingga rapat dewan gubernur BI pekan depan.

Imbal Hasil 1 Tahun (18 Agustus 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati: +24,20%

Syailendra MSCI Indonesia Value Index: +19,16%

Reksadana Saham

Sucorinvest Equity Fund: +31,86%

Batavia Dana Saham Syariah: +17,22%

Imbal Hasil Year to Date (18 Agustus 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium: +5,49%

MNC Dana Syariah: +4,76%

Imbal Hasil 1 tahun (18 Agustus 2022)

Reksadana Pasar Uang

Capital Money Market Fund: +4,46%

Sucorinvest Sharia Money Market Fund: +4,35%

Baca juga Bareksa Insight : Imbal Hasil Tinggi, SBN Ritel seri SR017 Jadi Pilihan Investasi Menarik

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.