Inflasi Mengancam, Apa Saran Investasi buat Investor?

Investor dengan profil risiko apapun sebaiknya melakukan diversifikasi yang cukup di reksadana pasar uang
Hanum Kusuma Dewi • 27 Jun 2022
cover

Ilustrasi inflasi yang digambarkan dengan balon dengan panah ke arah atas. Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang secara terus menerus dan berdampak pada harga barang lainnya. (Shutterstock)

Bareksa.com - Kenaikan harga barang-barang menjadi satu perhatian utama investor global, meski kondisi ekonomi Indonesia masih terlihat kuat. Smart investor perlu mempertimbangkan strategi investasi reksadana untuk meraih keuntungan yang optimal. 

Harga pangan dalam negeri diproyeksikan akan mengalami kenaikan, seiring kembali pulihnya permintaan karena kondisi ekonomi yang membaik. Hal ini juga mengingat sejumlah faktor seperti adanya kenaikan harga pupuk dan musim kemarau basah yang melanda Indonesia. Kenaikan harga pangan, berdasarkan riset dari Nomura, diproyeksikan akan berada pada level 6,3 persen. 

Proyeksi Kenaikan Harga Pangan Regional Asia di Semester Kedua 2022

Sumber: Nomura Research Report, Bloomberg

Meskipun demikian, proyeksi kenaikan harga pangan Indonesia semester kedua terbilang tidak terlalu drastis dibandingkan kondisi terakhir. Sementara itu, inflasi pangan di negara-negara lain di regional Asia diperkirakan lebih tinggi lagi di semester kedua tahun ini. Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang secara terus menerus dan berdampak pada kenaikan harga barang lainnya. 

Dengan sektor makanan dan minuman serta tembakau memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap inflasi, Tim Analis Bareksa melihat inflasi Indonesia pada tahun ini akan meningkat hingga level 5-6 persen pada tahun ini.

Baca juga Sri Mulyani Optimistis Ekonomi Q2 Naik 5,3 Persen, 10 Reksadana Ini Juara Cuan Sepekan

Di tengah kenaikan harga bahan baku di semester pertama, banyak produsen yang membebankan ini langsung ke konsumen, sehingga berpotensi membawa dampak negatif apabila terus dilanjutkan pada semester kedua nanti. 

Meskipun demikian, Bank Indonesia masih mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI 7DRRR). Keputusan tersebut dinilai cukup tepat, mengingat saat ini Indonesia masih perlu kebijakan moneter yang sedikit lebih longgar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di 5,1 persen pada tahun ini. 

Tim Analis Bareksa menilai bahwa Bank Indonesia akan mulai menaikan tingkat suku bunganya di saat inflasi akan menyentuh level 5 persen, yang diproyeksikan akan dicapai pada bulan Agustus-September. 

Di sisi lain, di tengah ancaman perlambatan ekonomi global, fundamental ekonomi Indonesia masih terlihat solid hingga saat ini. Hal tersebut dapat dilihat dari penyaluran kredit perbankan nasional yang meningkat sebesar 9,1 persen secara tahunan pada bulan April 2022. 

Bank Indonesia juga melihat permintaan dari sisi sektor korporasi dan pembiayaan pada semester kedua juga akan mengalami peningkatan. Hal tersebut didorong oleh kembali pulihnya pendapatan serta keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dalam negeri saat ini. 

Baca juga Bareksa Insight : Suku Bunga BI Tetap 3,5 Persen, IHSG dan Cuan Reksadana Melesat

Apa yang harus dilakukan investor?

Dengan melihat sejumlah kondisi di atas, investor dapat mempertimbangkan untuk melakukan strategi investasi berikut.

  • Investor dengan profil risiko agresif dapat wait and see terlebih dulu dan cermati reksadana saham dan indeks basis saham kapitalisasi besar (Big Caps) jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan.
  • Sementara itu, investor profil risiko moderat dapat tetap melakukan akumulasi secara bertahap di reksadana pendapatan tetap basis obligasi korporasi karena potensi pelemahan yield Surat Berharga Negara (SBN) ke level yang lebih tinggi setelah rilis kenaikan agresif suku bunga Dolar. Sementara, untuk reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi negara atau SBN dapat mulai dicermati jika imbal hasil (yield) bergerak naik ke level 7,8 persen.
  • Lalu untuk semua jenis profil risiko, ada baiknya melakukan diversifikasi yang cukup di reksadana pasar uang karena potensi volatilitas pasar saham dan obligasi diproyeksikan lebih tinggi pasca kenaikan suku bunga The Fed. 

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan.

Kinerja Reksadana

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Capital Money Market Fund

4.60%

18.18%

Syailendra Dana Kas

3.79%

15.91%

Shinhan Money Market Fund

3.42%

14.76%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

TRIM Dana Tetap 2

4.23%

18.10%

Syailendra Pendapatan Tetap Premium

6.06%

32.02%

Sucorinvest Stable Fund

7.31%

-

Reksa Dana Saham 

YtD

1 Tahun

Avrist Ada Saham Blue Safir

9.83%

18.16%

Allianz SRI KEHATI Index Fund

10.52%

20.64%

BNP Paribas Sri Kehati

9.74%

20.40%

Sumber: Bareksa Research Team, Return per NAV 22 Juni 2022

Kinerja Reksadana Syariah

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Sucorinvest Sharia Money Market Fund

4.49%

18.37%

Syailendra Sharia Money Market Fund

4.20%

16.37%

Trimegah Kas Syariah

3.44%

13.00%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

Mandiri Investa Dana Syariah

3.16%

15.29%

Bahana Mes Syariah Fund Kelas G

2.41%

18.65%

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

1.57%

20.59%

Reksa Dana Saham

YtD

1 Tahun

Batavia Dana Saham Syariah

5.66%

10.99%

Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas A

4.74%

7.68%

BNP Paribas Pesona Syariah

3.06%

6.32%

Sumber: Bareksa Research Team, Return per NAV 22 Juni 2022

(Ariyanto Dipo Sucahyo/Sigma Kinasih/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.