Suku Bunga Dolar Naik, Apa Dampak ke Investasi? Ini Strateginya

Investor agresif dapat wait and see terlebih dulu dan cermati reksadana saham
Hanum Kusuma Dewi • 21 Jun 2022
cover

Ilustrasi kebijakan The Fed di antaranya tapering off dan penaikan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) yang berdampak pada pasar keuangan termasuk IHSG, reksadana dan SBN. (shutterstock)

Bareksa.com - Pasar keuangan dunia menghadapi fluktuasi setelah kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat. Kondisi ini bisa berdampak pada portofolio investasi, sehingga smart investor perlu mengambil langkah strategi investasi reksadana sesuai profil risiko dan tujuan investasi. 

Fluktuasi di pasar saham dan obligasi global meningkat signifikan setelah Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve menaikkan tingkat suku bunga acuan 75 basis poin menjadi 1,75 persen. Kenaikan yang lebih agresif tersebut diperlukan untuk menekan laju inflasi AS yang per Mei mencapai 8,6 persen, tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Investor perlu mewaspadai kondisi global yang mana mayoritas negara di dunia telah menaikkan suku bunga acuan, karena umumnya kenaikan tingkat suku bunga juga akan mempengaruhi peningkatan biaya dana (cost of capital) perusahaan serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi dan menekan harga obligasi.

Baca juga IHSG Ambrol di Bawah 7.000, Ini Top 10 Reksadana yang Bertahan Cuan

Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2022 mengalami pelemahan dengan mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$2,89 miliar. Hal tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar US$3,83 miliar. Penurunan surplus diakibatkan larangan ekspor minyak kelapa sawit selama bulan Mei.

Berkaitan dengan suku bunga, Tim Analis Bareksa memperkirakan Bank Indonesia baru akan menaikkan suku bunga acuan pada semester II 2022. Hal ini dikarenakan inflasi yang masih terjaga pada bulan Juni 2022. Inflasi Indonesia (tahunan) tercatat naik menjadi 3,55 persen di bulan Mei, masih dalam rentang BI di 2-4 persen secara tahunan.

Tim Analis Bareksa menyarankan investor agar bisa menunggu (wait and see) untuk investasi di reksadana saham dan reksadana indeks saat ini hingga bulan depan, mengingat volatilitas yang masih cukup tinggi. Investor dapat melakukan akumulasi bertahap reksadana saham dan reksadana indeks saham jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat turun ke kisaran level 6.600-6.700 untuk mengoptimalkan imbal hasil. 

Bareksa juga melihat dengan adanya sentimen kenaikan suku bunga, yield obligasi pemerintah Indonesia dapat bergerak ke level 7,4-7,8 persen pada bulan ini hingga bulan depan. Hal tersebut akan memberikan tekanan pada reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah. 

Baca juga Tahan Banting, Begini Kinerja Syailendra Pendapatan Tetap Premium dan Sucorinvest Stable Fund

Apa yang harus dilakukan investor?

Sehingga, melihat sejumlah kondisi di atas, investor dapat mempertimbangkan untuk melakukan strategi investasi berikut.

Investor dengan profil risiko agresif dapat wait and see terlebih dulu dan cermati reksadana saham dan reksadana indeks berbasis saham kapitalisasi besar (Big Caps) jika IHSG mengalami penurunan.

Sementara itu, investor profil risiko moderat dapat tetap melakukan akumulasi secara bertahap di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi karena potensi pelemahan yield Surat Berharga Negara (SBN) ke level yang lebih tinggi setelah rilis kenaikan agresif suku bunga The Fed. Sementara, untuk reksadana pendapatan tetap berbasis SBN dapat mulai dicermati jika yield bergerak naik ke level 7,8 persen.

Lalu untuk semua jenis profil risiko, ada baiknya melakukan diversifikasi yang cukup di reksadana pasar uang karena potensi volatilitas pasar saham dan obligasi diproyeksikan lebih tinggi pasca kenaikan suku bunga The Fed. 

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan.

Kinerja Reksadana

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Capital Money Market Fund

4.60%

18.22%

Syailendra Dana Kas

3.80%

15.97%

Shinhan Money Market Fund

3.42%

14.83%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

TRIM Dana Tetap 2

3.66%

19.19%

Syailendra Pendapatan Tetap Premium

6.10%

32.02%

Sucorinvest Stable Fund

7.34%

-

Reksa Dana Saham 

YtD

1 Tahun

Avrist Ada Saham Blue Safir

9.75%

14.87%

Eastspring Investments Value Discovery Kelas A

6.15%

8.43%

TRIM Kapital Plus

5.76%

12.29%

Sumber: Bareksa Research Team, Return per NAV 15 Juni 2022

Kinerja Reksadana Syariah

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Sucorinvest Sharia Money Market Fund

4.50%

18.45%

Syailendra Sharia Money Market Fund

4.20%

16.42%

Trimegah Kas Syariah

3.44%

13.05%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

Mandiri Investa Dana Syariah

3.21%

15.74%

Bahana Mes Syariah Fund Kelas G

2.16%

20.08%

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

1.31%

21.50%

Reksa Dana Saham

YtD

1 Tahun

Batavia Dana Saham Syariah

5.18%

8.09%

Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas A

4.65%

6.56%

BNP Paribas Pesona Syariah

2.57%

4.13%

Sumber: Bareksa Research Team, Return per NAV 15 Juni 2022

(Ariyanto Dipo Sucahyo/Sigma Kinasih/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.