Bareksa Insight : Pelemahan Ekonomi China Bayangi Pasar, Ini Jurus Cuan Investasi Reksadana

Melemahnya data ekonomi Negeri Tirai Bambu membuat investor khawatir terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini
Abdul Malik • 16 Aug 2022
cover

Aktivitas di sebuah pabrik elektronik di Provinsi Jiangxi, China. Penurunan produksi industri China diperkirakan akan berdampak pada ekonomi global, dan jadi sentimen negatif pasar modal, termasuk pasar saham (IHSG), pasar obligasi dan reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Investor global mencermati rilis data ekonomi China seperti penjualan ritel yang  tumbuh 2,7% pada Juli 2022, lebih rendah dibandingkan Juni yang mencapai 3,1%. Angka tersebut juga lebih rendah dari ekspektasi pasar di 5%. Pertumbuhan produksi industri di Negeri Panda juga menurun pada Juli, yakni hanya naik 3,8%, atau lebih rendah dari ekspektasi pasar di 4,6%. 

Menurut Tim Analis Bareksa, melemahnya data ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut membuat investor khawatir terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini. Pasar properti yang menyumbang seperempat ekonomi negara Negara Tembok Raksasa itu juga tertekan cukup dalam, akibat pandemi Covid-19.

Pasar saham Tanah Air yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (15/8/2022), melemah 0,5% ditutup di 7.093,28. 

Baca juga : Bareksa Insight : Neraca Dagang Bisa Kembali Surplus, Reksadana Ini Cuan hingga 32%

Di sisi lain, surplus neraca dagang RI pada Juli 2022 yang di atas ekspektasi pasar idak mampu menahan investor kembali melepas Obligasi Negara. Aksi jual asing mengakibatkan imbal hasil (yield) acuan Surat Berharga Negara (SBN) kembali  ke level 7,05% kemarin. Tim Analis Bareksa memproyeksikan yield acuan Obligasi Negara akan berada di level 6,9 - 7,2% pada pekan ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (15/8) mengumumkan neraca dagang RI surplus US$4,23 miliar pada Juli 2022. Ini merupakan surplus dalam 27 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus pada Juli 2022 berasal dari ekspor US$25,57 miliar dan impor US$21,35 miliar. Surplus itu banyak ditopang oleh komoditas nonmigas, terutama komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati.

Lihat juga : Bareksa Insight : Beragam Sentimen Dongkrak Cuan Reksadana, Strategi Investasi Ini Bisa Diterapkan

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Di tengah potensi pelemahan pasar saham dan obligasi akibat tertekan sentimen global dari ekonomi China, Tim Analis Bareksa menganjurkan agar Smart Investor menerapkan dua jurus berikut agar investasinya di reksadana tetap mencatatkan kinerja cuan optimal : 

1. Tim Analis Bareksa menilai kekhawatiran pelaku pasar atas prospek ekonomi global bisa menjadi sentimen negatif bagi pasar saham Tanah Air, sehingga berpotensi terkoreksi sementara waktu. Sebab China merupakan salah satu negara mitra dagang terbesar Indonesia. 

Meski saat ini harga komoditas global sedang menurun, namun Tim Analis Bareksa memperkirakan komoditas energi masih akan bertahan cukup baik hingga akhir tahun. Smart Investor disarankan untuk kembali masuk ke reksadana berbasis saham yakni reksadana saham dan reksadana indeks, apabila IHSG kembali terkoreksi di bawah level 7.000.

2. Investor bisa mempertimbangkan untuk berinvestasi secara taktis (sementara) di reksadana pendapatan tetap berbasis SBN, apabila yield kembali menyentuh 7,2 - 7,3%, dan kembali menjualnya di saat yield menguat di 6,9 - 7%. 

Simak juga : Bareksa Insight : Inflasi AS Melandai, Cuan Reksadana Ini Berpotensi Meroket

Beberapa produk reksadana indeks, reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap yang bisa dipertimbangkan investor dengan profil risiko agresif dan moderat ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 15 Agustus 2022)

Reksadana Indeks 

Avrist IDX30 : 20,21%
Principal Index IDX30 : 18,17%

Reksadana Saham

Bahana Dana Prima : 23,68%
Schroder Dana Prestasi Plus : 18,7%

Imbal Hasil Sepanjang Tahun Berjalan (YTD per 15 Agustus 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 5,41%
Prospera Obligasi : 4,91%

Baca juga : Bareksa Insight : Tesla Teken Kontrak di Indonesia, Cuan Reksadana Ini Bisa Meroket

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Baca juga : Bareksa Insight : IMF Nilai Indonesia Aman dari Resesi, Potensi Cuan Reksadana Ini

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.