Bareksa Insight : Data Ekonomi Makin Kuat, Cuan Reksadana Meroket Hingga 20,8 Persen

Moncernya pasar obligasi karena kabar baik dari BI yang menyatakan pada kuartal II 2022, Indonesia masih akan mengalami surplus neraca transaksi berjalan
Hanum Kusuma Dewi • 28 Jun 2022
cover

Ilustrasi kuatnya data ekonomi Indonesia mendorong optimisme investor, sehingga mendongkrak kinerja pasar saham (IHSG) dan obligasi (SBN), hingga reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Awal pekan ini, kinerja mayoritas reksadana pendapatan tetap masih melanjutkan kenaikan dengan imbal hasil (yield) acuan Obligas Pemerintah Indonesia menguat ke level 7,32 persen dan mendorong kenaikan mayoritas harga obligasi. 

Menurut analisis Bareksa, moncernya pasar obligasi dan kinerja reksadana pendapatan tetap karena kabar baik dari Bank Indonesia yang menyatakan pada kuartal II 2022, Indonesia masih akan mengalami surplus neraca transaksi berjalan didukung kenaikan harga komoditas. Hal ini membuat optimisme investor terhadap perekonomian Indonesia meningkat.

Baca juga : Bareksa Insight : Pasar Menanti Arah Ekonomi, Emas dan Reksadana Ini Bisa Dipilih

Sementara itu, kinerja pasar saham melemah pada hari pertama penutupan kode dan domisili investor di bursa saham Tanah Air kemarin, di saat mayoritas pasar saham global menguat. Hal ini mengakibatkan penurunan kinerja reksadana saham dan reksadana indeks. 

Menurut analisis Bareksa, kebijakan penutupan kode dan domisili investor diharapkan bisa mendorong keputusan transaksi investor di pasar saham murni berdasarkan analisa, baik teknikal maupun fundamental. Pelemahan pasar saham juga akibat investor masih wait and see terhadap potensi perlambatan ekonomi global. IHSG pada 27 Juni 2022 turun 0,38 persen ke level 7.016,06. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Suku Bunga BI Tetap 3,5 Persen, IHSG dan Cuan Reksadana Melesat

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa menyarankan untuk saat ini, investor masih bisa melakukan akumulasi investasi di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi, hingga BI menaikkan suku bunga acuannya dari level saat ini 3,5 persen. 

Melihat kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian akibat tingginya inflasi serta kenaikan suku bunga acuan negara-negara di dunia, yang dapat menyebabkan perlambatan ekonomi global, maka investor disarankan dapat menunggu untuk dapat masuk kembali di reksadana saham dan reksadana indeks, jika IHSG turun signifikan.

Simak juga : Bareksa Insight : Pasar Tunggu Hasil Rapat BI, Reksadana Ini Cuan 16 - 26 Persen

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan investor dengan profil risiko moderat dan agresif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 27 Juni 2022)

Reksadana Indeks

BNI AM Index IDX30 : 18,64 persen
Avrist IDX30 : 20,8 persen

Reksadana Saham

Sucorinvest Maxi Fund : 11,98 persen
Manulife Saham Andalan : 7,98 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 27 Juni 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

TRIM Dana Tetap 2 : 18,21 persen
Mandiri Investa Dana Syariah : 15,48 persen

Baca juga : Bareksa Insight : Ekonomi Dunia Berpotensi Melambat, Ini Jurus Agar Investor Tetap Cuan

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.