Bareksa Insight : Sentimen Inflasi Bayangi Pasar, Reksadana Ini Prospek Cuan

The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya lebih agresif seiring proyeksi inflasi untuk bulan Maret 2022 mencapai 8,4 persen
Abdul Malik • 12 Apr 2022
cover

Ilustrasi lonjakan inflasi di Amerika Serikat yang membuat The Fed akan menaikkan suku bunganya lebih agresif, sehingga berdampak pada pasar keuangan global, termasuk IHSG, reksadana dan SBN, hingga emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pasar saham nasional yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah tipis akibat aksi jual investor hampir di seluruh sektor saham. IHSG pada 11 April 2022 turun 0,1 persen ke level 7.203,79

Koreksi tersebut dinilai wajar, sebab IHSG sudah naik signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Analisis Bareksa melihat optimisme investor asing masih cukup tinggi terhadap pasar saham Tanah Air. Hal itu terlihat dari masuknya dana asing Rp801 miliar pada perdagangan kemarin. 

Sementara itu, analisis Bareksa juga melihat imbal hasil (yield) obligasi Indonesia masih akan bertahan di level 6,7 - 6,8 persen hingga hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) dan Bank Indonesia pada pekan depan dirilis. 

Analisis Bareksa memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya lebih agresif pada bulan ini dengan peluang kenaikan 50 basis poin, seiring proyeksi inflasi untuk bulan Maret 2022 mencapai 8,4 persen.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa memprediksi reksadana saham akan bergerak terbatas hari ini mengikuti bursa regional Asia yang juga dibuka terbatas pada pagi ini. Kondisi itu akibat investor masih melihat perkembangan kasus positif Covid-19 di China yang terus meningkat hingga saat ini. 

Adapun untuk reksadana pendapatan tetap, analisis Bareksa tetap merekomendasikan reksadana berbasis obligasi korporasi untuk meredam fluktuasi portofolio investor di tengah isu kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Untuk harga emas, analisis Bareksa memprediksi harga emas global juga akan tetap bertahan di level US$1.920 hingga US$1.950 per troy ounce dalam jangka pendek. 

Hal ini mengingat investor akan bersiap melakukan lindung nilai (hedging) aset mereka, apabila AS mengalami resesi ekonomi dalam 1-2 tahun ke depan, pasca pembalikan kurva imbal hasil obligasi tenor panjang lebih rendah dari tenor pendek. 

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks prospektif cuan berikut ini : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 11 April 2022)

Reksadana Indeks

Avrist IDX30 : 15,78 persen
Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A : 14.95 persen

Reksadana Saham

TRIM Kapital Plus : 24,93 persen
Eastspring Investments Value Discovery Kelas A : 21,53 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 11 April 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 31,05 persen
Sucorinvest Bond Fund : 34,4 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.