Bareksa Insight : Laju Kenaikan Bunga Acuan AS Bisa Melambat, Cuan Reksadana Ini Melompat

Risalah rapat The Fed mengindikasikan tidak lagi melihat potensi kenaikan suku bunga acuan 0,75-1% hingga kuartal I 2023
Abdul Malik • 24 Nov 2022
cover

Ilustrasi laju kenaikan suku bunga acuan The Fed yang diperlambat bisa berpengaruh positif pada pasar keuangan global dan domestik, termasuk IHSG, reksadana, SBN dan emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Rilis hasil rapat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) yang dirilis Rabu waktu setempat atau Kamis dinihari WIB, mengindikasikan kenaikan suku bunga acuan akan diperlambat. Ada indikasi The Fed tidak lagi melihat potensi kenaikan suku bunga acuan 0,75-1% hingga kuartal I 2023. 

Hal ini karena angka inflasi AS perlahan melandai dan diperkirakan juga akan berpengaruh terhadap penguatan pasar saham dan obligasi dalam negeri, serta penguatan nilai tukar rupiah.

The Fed pada rapat dewan gubernur (2/11/2022) lalu, kembali menaikkan suku bunga acuan (Fed Rate) 0,75% dari sebelumnya 3-3,25% jadi 3,75-4%. Bunga acuan The Fed tersebut merupakan level tertinggi sejak 2008. Kenaikan Fed Rate ini merupakan yang keenam kalinya pada 2022 dan kenaikan 75 basis poin terjadi empat kali berturut-turut. 

Menyambut rilis risalah The Fed, yield (imbal hasil) acuan obligasi AS turut menguat ke level 3,68% dari sebelumnya 3,76%. Hal ini diproyeksikan semakin mendorong penguatan pasar obligasi dalam negeri menjelang akhir tahun. 

Saat ini yield acuan obligasi Indonesia juga masih cukup stabil di kisaran 7-7,1%. Apalagi jika data ekonomi dalam negeri juga mendukung, maka akan berpengaruh positif terhadap kinerja mayoritas reksadana pendapatan tetap.

Pasar saham Tanah Air yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (23/11/2022) menguat 0,33% ke level 7.054,12. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 23/11/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 7,1%.

Apa yang bisa dilakukan Smart Investor?

Mempertimbangkan potensi perlambatan laju kenaikan suku bunga acuan AS dan peluang kenaikan pasar saham obligasi dalam negeri, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor menerapkan 3 jurus ini agar kinerja investasinya maksimal

1. Smart Investor dapat mencermati reksadana saham dan reksadana indeks berbasis sektor konsumer, yang memiliki bahan baku impor dan dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar rupiah. Sebab kinerja reksadana ini diperkirakan terdampak cukup baik ke depannya.

2. Selain berinvestasi di reksadana pendapatan tetap berbasis Surat Berharga Negara (SBN), Smart Investor juga perlu untuk mendiversifikasi investasinya di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi dan reksadana pasar uang.

3. Smart Investor juga jangan ketinggalan untuk berinvestasi di Green Sukuk Ritel - Sukuk Tabungan (ST) seri ST009. Meskipun masa penawaran ST009 akan ditutup pada 30 November, namun saat ini kuota penawaran semakin menipis karena tingginya minat investor. 

ST009 menawarkan imbal hasil 6,15% per tahun bersifat floating with floor (mengambang dengan batas minimal) dengan fitur non tradable. Artinya imbal hasil ST009 berpotensi naik di masa mendatang saat suku bunga acuan Bank Indonesia naik, namun tidak bisa turun lebih rendah dari batas minimal 6,15%. 

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko moderat, konservatif dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 23 November 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A : 17,72%
TRIM Dana Tetap 2 : 16,01%

Reksadana Pasar Uang 

Sucorinvest Sharia Money Market Fund : 16,53%
Syailendra Dana Kas : 14,69%

Imbal Hasil Sepanjang Tahun Berjalan (YtD 23 November 2022)

Reksadana Indeks 

Allianz SRI KEHATI Index Fund : 16,5%
BNP Paribas IDX Growth30 : 11,44%

Reksadana Saham

Schroder Dana Prestasi : 11,56%
Avrist Ada Saham Blue Safir : 12,13%

Baca juga : Bareksa Insight : Ekonomi AS di Kuartal III Membaik, Ini Dampak ke IHSG, SBN dan Reksadana

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Suku Bunga BI Bisa Naik Jadi 4,5%, Ini Jurus Cuan Buat Investor Reksadana

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.