Kamu Milenial? Ini Cara Atur Alokasi Keuangan Ala Prita Ghozie

Dalam berinvestasi, kita harus memiliki tujuan pasti untuk dana tersebut
Bareksa • 06 Mar 2020
cover

Prita Ghozie, Financial Planner dan Founder Zap Finance ketika menjadi pembicara di acara Bareksa 4/03/2020. (Bareksa/Anggie)

Bareksa.com - Dalam hidup ini, setiap manusia punya keinginan untuk dicapai. Mengumpulkan uang, adalah cara yang kebanyakan diambil orang agar bisa mencapai keinginan atau tujuan tersebut.

Tujuan keuangan orang berbeda-beda, tergantung dengan usia. Untuk generasi milenial yang kini berusia sekitar 25-40 tahun, biasanya tujuan keuangan adalah untuk dana darurat, pendidikan anak, dan pensiun.

Lantas bagaimana cara mengatur keuangan dengan kebutuhan sehari-hari sekaligus mengumpulkan uang untuk masa depan?

Prita Ghozie, Perencana Keuangan dan Founder Zap Finance, membagikan tips mudah bagi pemula untuk mulai mengatur keuangan. Pembagian alokasi keuangan ini disingkat menjadi ZAPFIN, yakni Zakat/sedekah/sosial, Assurance, Present Consumption, Future Spending, Investment.

Berkaitan dengan pembagian pos zakat, dia percaya bahwa ada sebagian penghasilan kita yang harus disisihkan untuk sosial/orang lain, apapun kepercayaan kita.

Lalu di pos Assurance, dia mengatakan ini tidak hanya untuk asuransi saja, tetapi juga untuk dana darurat saat ada kejadian tidak terduga.

"Assurance itu jaminan artinya tidak hanya untuk asuransi kesehatan saja misalnya, tetapi kita perlu menghadapi risiko yang kita tidak ketahui. Dana darurat yang kita kumpulkan untuk memitigasi risiko tersebut," ujarnya dalam InvesTalk Bareksa dengan Nasabah Platinum di Jakarta, 4 Maret 2020.

Biaya hidup dan cicilan sudah jelas untuk kebutuhan dasar seperti makan, listrik, cicilan rumah. Lalu tabungan pembelian besar adalah barang konsumsi yang dananya cukup besar seperti membeli kendaraan atau rumah.

Lalu, investasi masa depan adalah suatu tujuan yang kita belum membutuhkan saat ini tetapi akan membutuhkan di masa depan, seperti menyiapkan dana pensiun.

Penulis buku "Make It Happen" ini juga memberikan contoh porsi alokasi dalam mengatur penghasilan. Untuk zakat/sosial, dana darurat, premi asuransi porsinya masing-masing 5 persen dari gaji.

Tabel Pos Alokasi Keuangan

Sumber: Presentasi Prita Ghozie

Kemudian, porsi terbesar dari penghasilan adalah untuk biaya hidup bulanan dan cicilan. Lalu, nabung pembelian besar 5 persen, investasi masa depan 10 persen, dan gaya hidup/hiburan 10 persen.

Berkaitan dengan investasi, Prita juga memberikan sejumlah tips. Pertama, kita punya tujuan yang pasti untuk dana tersebut. "Jangan galau. Galau contohnya gini, kita sudah siapkan investasi ini untuk tujuan A tetapi tiba-tiba di tengah jalan berubah untuk tujuan lain. Stick to your plan," katanya.

Kedua, profil risiko juga perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing. Tiap orang berbeda-beda dalam hal toleransi terhadap risiko. Misal, penghindar risiko cocok dengan investasi yang risiko rendah seperti reksadana pasar uang sementara pengambil risiko cocok dengan reksadana saham.

Ketiga, cukupkan dana darurat, sehingga kita memiliki pegangan di saat kondisi tak terduga. "Dana darurat besarnya 12 kali pengeluaran di luar cicilan," tegasnya.

Keempat, ragamkan aset investasi. Kita bisa membuat keragaman tetapi sebaiknya untuk satu tujuan ada di satu instrumen. Lalu, khusus untuk dana pensiun yang jangka panjang dan di luar tujuan lain, kita bisa membuat beragam instrumen (portofolio).

Terakhir, cek berkala kinerja dari tiap investasi, misal sebulan atau tiga bulan sekali. Pemantauan tidak perlu setiap hari, sebab instrumen investasi bisa berfluktuasi harian. Akan tetapi, kita perlu mengecek bila ada kejadian khusus, seperti perubahan suku bunga, atau tekanan pasar akibat sentimen penyebaran virus corona seperti sekarang ini.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.