CEO BNI-AM, Putut Endro A : Turun di Semester I, Ini Prospek Industri Reksadana Hingga Akhir 2022

Tren investasi passive strategy di reksadana indeks diperkirakan akan menjadi pilihan untuk investor dengan profil risiko tinggi
Abdul Malik • 29 Jul 2022
cover

Putut Endro Andanawarih, CEO BNI AM. (Foto: bni-am.co.id)

Bareksa.com - PT BNI Asset Management (BNI-AM) tercatat sebagai salah satu manajer investasi (MI) yang konsisten ada dalam daftar top 10 dana kelolaan reksadana terbesar di Tanah Air. 

Presiden Direktur PT BNI Asset Management (BNI-AM), Putut Endro Andanawarih menyampaikan peluang industri reksadana nasional masih positif hingga akhir 2022. Prediksi itu meskipun hingga semester I, dana kelolaan reksadana tercatat masih menurun dibandingkan akhir tahun lalu. Tercatat per Juni 2022, dana kelolaan industri reksadana nasional minus 5 persen sepanjang tahun berjalan (YTD) jadi Rp548,46 triliun.  

Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2022 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan BNI-AM menempati posisi ke-6 MI dengan dana kelolaan reksadana terbesar pada Juni 2022. Dana kelolaan BNI-AM pada Juni 2022 tercatat Rp31,83 triliun, tumbuh secara bulanan (MOM), sepanjang tahun berjalan (YTD) maupun tahunan (YOY) yakni masing-masing 6%, 16% dan 49%.

Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report June 2022

Pangsa pasar industri reksadana nasional yang dikuasai BNI-AM pada akhir bulan lalu tercatat 6 persen. Menurut Putut, reksadana yang dikenal di Indonesia sejak 1995, diharapkan bisa memudahkan masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal. Dana kelolaan industri reksadana tumbuh cukup pesat dalam 5 tahun terakhir dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) dana kelolaan 7,46% setiap tahunnya.

Potensi Industri Reksadana Nasional

Mengenai peluang perkembangan industri reksadana tahun ini, Putut mengatakan masih potensi bertumbuh. "Karena di tengah kondisi volatilitas pasar akibat tren kenaikan inflasi, investor akan cenderung menaruh investasinya di instrumen yang berisiko rendah sampai sedang seperti reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap," kata Putut dalam wawancara tertulis dengan Bareksa, Kamis (28/7/2022).

Dia melanjutkan tren passive strategy ke reksadana indeks diperkirakan juga akan menjadi pilihan untuk investor dengan profil risiko tinggi. "Reksadana indeks diperkirakan juga akan jadi salah satu produk investasi pilihan karena portofolionya terdiversifikasi, likuid dan konstituen saham memiliki fundamental baik," kata Putut.

Sementara dari sisi penetrasi pasar, Putut menyampaikan era pandemi yang masih berlangsung ini juga semakin mendorong percepatan penggunaan teknologi digital dalam pemasaran reksadana. "Hal ini tentunya juga memberikan benefit pada ekonomi digital dengan tumbuh kembangnya perusahaan fintech yang bergerak di bidang penjualan reksadana," ujarnya.

Menurut Putut, Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan bonus demografi, didukung struktur penduduk berusia muda, akan memiliki peluang sebagai negara yang relatif cepat dalam proses migrasi ke industri penjualan online terutama di kalangan investor dari golongan milenial.

"Hal ini tercermin dari dominasi investor dengan usia di bawah 30 tahun yang mencapai porsi 60,18% dari total investor reksadana hingga April 2022 berdasarkan data KSEI," kata dia.

Peran BNI-AM

Di sisi lain, ia menjelaskan sebagai bagian dari BNI Group, BNI-AM tumbuh berkembang dan bersinergi dengan BNI seiring dengan pertumbuhan bisnis holdingnya. Putut menjelaskan di industri pasar modal, peran BNI-AM di industri reksadana adalah melalui pembentukan beragam produk reksadana  diantaranya reksadana terproteksi, reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, reksadana indeks dan reksadana exchange traded fund (ETF).

“Selain itu, BNI-AM juga turut serta berperan dalam pembentukan produk alternative investment seperti kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK-EBA) dan reksadana penyertaan terbatas (RDPT),” dia menjelaskan.

Putut menjelaskan sampai saat ini BNI-AM telah menerbitkan dan mengelola lebih dari 80 produk reksadana untuk memenuhi berbagai kebutuhan nasabah, diantaranya produk reksadana terproteksi, reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, reksadana indeks dan reksadana ETF.

"91% dana kelolaan reksadana (AUM) yang dikelola BNI-AM berasal dari investor institusi. Namun, saat ini BNI-AM terus meningkatkan penetrasi ke pasar investor ritel yang telah mencapai 9% dari total AUM BNI-AM," kata Putut.

Menginjak usia ke-11 pada tahun ini, kata Putut, BNI-AM berencana meluncurkan beberapa produk-produk unggulan di antaranya reksadana indeks, reksadana pendapatan tetap dan reksadana terproteksi.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Investasi Sekarang

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.