BeritaArrow iconReksa DanaArrow iconArtikel

CEO Sucor AM, Jemmy Paul : Ada Sentimen Resesi, IHSG Tetap Bisa Lanjutkan Reli hingga Akhir 2022

Abdul Malik06 Oktober 2022
Tags:
CEO Sucor AM, Jemmy Paul : Ada Sentimen Resesi, IHSG Tetap Bisa Lanjutkan Reli hingga Akhir 2022
Jemmy Paul Wawointana, Presiden Direktur PT Sucorinvest Asset Management saat berbicara dalam acara market outlook di Jakarta (www.sucorinvestam.com)

Industri reksadana masih berpeluang tumbuh pada akhir 2022

Bareksa.com - Industri reksadana nasional memang tidak sedang dalam kondisi prima. Sebab meskipun dari sisi kinerja, tercatat mayoritas indeks reksadana di Bareksa membukukan kenaikan sepanjang tahun tahun berjalan (YTD) hingga September 2022, namun dari sisi dana kelolaan dan unit penyertaan justru loyo.

Hal ini terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan di mana dana kelolaan reksadana nasionalmencatatkan penurunan pada periode Januari - Juli 2022 atau dalam 7 bulan beruntun. Baru kemudian pada Agustus 2022, dana kelolaan reksadana nasional mulai bangkit dengan kenaikan, namun belum mampu menutup penurunan yang sudah terjadi sebelumnya.

Berdasarkan catatan OJK, per Agustus 2022 dana kelolaan industri reksadana di Indonesia tercatat Rp544,84 triliun, naik Rp1,35 triliun (0,25%) dari posisi per Juli 2022 yang senilai Rp543,49 triliun. Kenaikan itu merupakan pertama kali pada tahun ini, setelah sebelumnya mengalami penurunan beruntun selama tujuh kali atau 7 bulan sejak awal tahun. Kenaikan dana kelolaan industri reksadana pada Agustus berhasil memutus tren penurunan tersebut.

Promo Terbaru di Bareksa

Namun sayangnya, kenaikan dana kelolaan yang terjadi pada Agustus 2022 belum disokong oleh masuknya sebagian pelaku pasar, di mana mereka masih cenderung mengurangi kepemilikan reksadananya. Hal itu terlihat dari berkurangnya jumlah unit penyertaan reksadana dari sebelumnya 402,16 miliar unit per Juli 2022, menjadi 401,2 miliar unit penyertaan per Agustus 2022.

Artinya, sepanjang Agustus terdapat penurunan unit penyertaan reksadana 965,8 juta atau sekitar -0,24%. Sepanjang tahun berjalan hingga Agustus 2022 jumlah unit penyertaan reksadana minus 4,97% dan dana kelolaan negatif 6,06%.

Kinerja Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana

Illustration


Sumber: Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report August 2022

Padahal dari sisi kinerja, sejatinya masih cukup menggembirakan. Berdasarkan data Bareksa, tercatat 6 dari 8 indeks reksadana mencatatkan kenaikan, seiring peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh 5,63%. Indeks reksadana campuran syariah mencatat kenaikan tertinggi yakni 2,84%, kemudian disusul indeks reksadana campuran 2,41%, indeks reksadana saham syariah 1,54% dan indeks reksadana saham 1,32%.

Indeks reksadana pasar uang syariah dan indeks reksadana pasar uang juga berhasil tumbuh dengan kenaikan masing-masing 1,68% dan 1,54%. Penurunan hanya dicatatkan dua jenis reksadana yakni indeks reksadana pendapatan tetap dan indeks reksadana pendapatan tetap syariah yang masing-masing minus 1,09% dan 0,97%.

Kinerja IHSG dan Indeks Reksadana

Illustration

Sumber : Bareksa

Meski sepanjang tahun ini, kinerja dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana tidak bergairah, namun menurut Jemmy Paul Wawointana Direktur Utama PT Sucor Asset Management (Sucor AM), industri reksadana masih berpeluang tumbuh pada akhir 2022.

“Sentimen yang mampu mendorong dana kelolaan reksadana tahun ini untuk melebihi dana kelolaan Desember 2021 adalah kebutuhan masyarakat akan investasi yang likuid, mudah dijangkau, transparan, dikelola secara profesional dengan manajemen risiko yang ketat di tengah volatilitas pasar akibat kenaikan suku bunga dan inflasi tinggi, salah satunya Reksadana. Dengan demikian, optimisme kenaikan dana kelolaan diharapkan dapat kembali naik hingga akhir tahun,” ungkap Jemmy.

Seperti apa gambaran kinerja industri reksadana sepanjang tahun ini dan potensinya hingga akhir 2022, serta reksadana mana yang bakal untung dan buntung? Berikut petikan wawancara Abdul Malik dari Bareksa dengan CEO Sucor AM Management, Jemmy Paul Wawointana secara tertulis (4/10/2022) :

Industri reksadana sepanjang tahun 7 bulan berturut selalu minus. Baru pada Agustus mulai naik, namun belum mampu menutup penurunan sepanjang 7 bulan. Bagaimana proyeksi kinerja industri reksadana hingga akhir 2022?

Penurunan dana kelolaan di industri reksadana yang terjadi sepanjang tahun hingga -8.92% YTD (per Juli) banyak didorong oleh transisi dana yang beredar di masyarakat ke sektor riil, khususnya di tengah pemulihan ekonomi yang banyak membutuhkan capital untuk kegiatan belanja dan ekspansi bisnis. Hal ini tentunya lebih signifikan mempengaruhi aktivitas masyarakat dibandingkan pada 2020 dan 2021 yang masih terkena sentimen Covid-19. Secara keseluruhan, dana kelolaan reksadana sepanjang tahun 2022 (per Juli) senilai Rp564 trilliun masih lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 yang senilai Rp547 triliun.

Adapun sentimen yang mampu mendorong dana kelolaan reksadana tahun ini untuk melebihi dana kelolaan Desember 2021 ialah kebutuhan masyarakat akan investasi yang likuid, mudah dijangkau, transparan, dikelola secara profesional dengan manajemen risiko yang ketat di tengah volatilitas pasar akibat kenaikan suku bunga dan inflasi tinggi, salah satunya Reksadana. Dengan demikian, optimisme kenaikan dana kelolaan diharapkan dapat kembali naik hingga akhir tahun.

Sepanjang tahun ini, banyak sentimen negatif yang membayangi kinerja pasar modal, sehingga berdampak ke industri reksadana. Terakhir adalah tren inflasi tinggi dan kenaikan agresif suku bunga acuan yang bisa memicu resesi global. Bagaimana proyeksi kinerja per jenis reksadana, dan reksadana jenis apa yang bakal paling untung dan buntung?

Arah kebijakan moneter secara global yang semakin mengetat telah turut menekan kinerja dari reksadana pendapatan tetap, khususnya Sucorinvest Bond Fund (SBF) berbasis obligasi negara. Volatilitas yang terjadi akibat kenaikan suku bunga telah mendorong yield (imbal hasil) naik lebih tinggi sehingga harga obligasi cenderung turun. Meskipun tahun ini pasar SBN (Surat Berharga Negara) cukup terkoreksi, kami melihat kondisi inflasi Amerika Serikat (AS) saat ini telah melewati peaknya (puncak) dan inflasi domestik sudah cukup expected sehingga akan mulai mengurangi tekanan dari sisi harga.

Sementara untuk Sucorinvest Stable Fund (SSF) yang berbasis obligasi korporasi memiliki kinerja cukup stabil, mengingat mayoritas portfolionya berada di tenor relatif pendek yang cenderung dihold hingga maturity. Untuk reksadana berbasis pasar uang, seperti Sucorinvest Money Market Fund (SMMF) dan Sucorinvest Sharia Money Market Fund (SSMMF) diproyeksikan akan cukup stabil hingga akhir tahun didukung oleh potensi kenaikan suku bunga deposito.

Meskipun terdapat tekanan jangka pendek pada pergerakan harga obligasi jangka pendek (<1 tahun), namun dengan manajemen likuiditas yang ketat reksadana ini dikelola untuk tetap mampu memenuhi kebutuhan likuiditas dari investor.

Di sisi lain, kondisi IHSG yang menguat sepanjang tahun telah menopang reksadana berbasis saham dan campuran outperform dari benchmarknya seperti Sucorinvest Equity Fund (SEF), Sucorinvest Maxi Fund (SMF), Sucorinvest Sharia Equity Fund (SSEF), Sucorinvest Anak Pintar (SAP), Sucorinvest Flexi Fund (SFF), Sucorinvest Citra Dana Berimbang (SCDB), Sucorinvest Premium Fund (SPF), dan Sucorinvest Saham Dinamis (SSD).

Strategi active allocation kami telah memaksimalkan imbal hasil di momentum kenaikan sektor energi dan perbankan karena commodity boom dan pemulihan ekonomi yang terjadi cukup pesat. Selain itu kami mampu dengan cepat mengantisipasi koreksi pasar dengan rebalancing ke portfolio yang lebih defensif baik secara sektoral maupun secara kelas aset untuk reksadana campuran.

Tantangan hingga akhir tahun tetap berkisar pada kenaikan suku bunga dan inflasi hingga potensi resesi Eropa yang mampu terjadi karena perang Rusia - Ukraina yang berlanjut hingga saat ini. Meski begitu, Indonesia tidak akan secara langsung terkena imbasnya karena ketahanan ekonomi eksternal yang sangat baik. Dalam mencari alpha di siklus bisnis dan pasar saat ini, kami masih optimistis pada reksadana berbasis saham dan campuran dapat memiliki upside hingga 5-6%, hingga akhir tahun mengingat target IHSG kami sebesar 7.500-7.700.

Jumlah investor reksadana hingga saat ini masih jadi penopang utama lonjakan jumlah investor pasar modal. Data KSEI menunjukkan jumlah investor reksadana per Agustus 2022 mencapai 8,86 juta, melonjak 29,56%. Menurut bapak apakah jumlah investor reksadana akan terus melesat hingga akhir 2022?

Seiring dengan meningkatnya literasi finansial dari masyarakat Indonesia secara keseluruhan, yang juga ditandai dengan kenaikan jumlah investor khususnya investor pemula dan investor usia muda, maka kami optimistis pertumbuhan dana kelolaan dan investor dapat terus meningkat hingga akhir tahun. Hal ini mempertimbangkan tingginya permintaan untuk berbagai produk investasi yang likuid, mudah dijangkau, transparan, dan dikelola secara profesional yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan, profil risiko dan jangka waktu investasi nasabah.

Berdasarkan pengamatan bapak, apa saja tren-tren baru di industri reksadana sepanjang 2022 dibandingkan 2021?

Seiring dengan perkembangan digital yang pesat, khususnya peningkatan pada akses berinvestasi secara online, kami sangat mengapresiasi inovasi pada regulasi yang memberikan perlindungan pada konsumen yaitu POJK 6/POJK.07/2022 mengenai Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan dan POJK no. 17/ POJK.04/2022 tentang pedoman perilaku manajer investasi yang dapat melindungi investor reksadana.

Adapun aturan POJK tersebut bertujuan agar tidak terjadi misconduct berkaitan dengan independensi manajer investasi, alasan rasional manajer investasi dalam melakukan keputusan investasi, perilaku manajer investasi dalam melakukan transaksi efek untuk kepentingan nasabah, pemasaran produk Investasi, keterbukaan informasi produk investasi, dan terkait penerimaan hadiah dan atau manfaat dan sebagainya.

POJK ini juga mengakomodir kebutuhan pengaturan terkait manajemen risiko likuiditas dalam pengelolaan investasi yang menjadi rekomendasi dalam IOSCO Recommendations for Liquidity Risk Management for Collective Investment Schemes (FR01/2018).

Hal ini tentu akan menjadi landasan penting bagi investor dalam menempatkan dana dalam aset reksadana ke depannya dengan memastikan manajer investasi dalam industri reksadana tidak dapat melakukan aktivitas yang merugikan investor secara signifikan dalam pengelolaannya.

Apa saja faktor penopang kinerja IHSG hingga akhir 2022 dan saham-saham sektor apa saja yang bakal moncer tahun ini dan apakah akan turut mendongkrak kinerja reksadana berbasis saham (reksadana saham, campuran dan indeks)?

Prospek reksadana berbasis saham ke depannya masih menarik mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berlanjut, ditandai dengan pertumbuhan kuartal II 2022 yang naik 5.44%, lebih tinggi dari rata-rata proyeksi regional Asia Pasifik yang sebesar 3.2% tahun ini.

Kami mempertahankan pandangan optimistis bahwa IHSG dapat terus berpotensi melanjutkan rally sepanjang 2022 karena posisi Indonesia yang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas dan kinerja ekspor yang akan menopang pertumbuhan ekonomi domestik secara keseluruhan.

Selain itu kami juga menyukai sektor perbankan di mana pertumbuhan kredit akan terdorong oleh dengan meningkatnya belanja masyarakat, yang akan meramaikan sektor turunan seperti retail dan properti.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.


Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.313,18

Up0,15%
Up3,81%
Up0,02%
Up5,82%
Up18,30%
-

Capital Fixed Income Fund

1.766,42

Up0,60%
Up3,41%
Up0,02%
Up7,32%
Up17,24%
Up43,22%

STAR Stable Income Fund

1.917,41

Up0,56%
Up2,94%
Up0,02%
Up6,33%
Up30,71%
Up60,33%

Syailendra Pendapatan Tetap Premium

1.753

Down- 0,46%
Up3,74%
Up0,01%
Up4,38%
Up18,76%
Up47,23%

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

1.035,73

Down- 0,22%
Up1,77%
Up0,01%
Up2,68%
Down- 2,15%
-

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua