CEO BNI AM, Putut Endro : Tips Investasi Buat Investor Agresif, Moderat & Konservatif Jelang 2021

Potensi kenaikan nilai investasi masih akan berlanjut hingga akhir Desember 2020 dan masuk ke tahun 2021
Abdul Malik • 04 Dec 2020
cover

Putut Endro Andanawarih, CEO BNI AM. (Foto: bni-am.co.id)

Bareksa.com - Putut Endro Andanawarih, Presiden Direktur BNI AssetManagement (BNI AM) menyampaikan data-data ekonomi yang dirilis hingga November 2020 masih terus menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi baik dari sisi indeks PMI (Purchasing Managers' Index). Tak ayal, aktivitas produksi dan peningkatan permintaan juga masih terlihat.

Untuk mengetahui lebih lanjut pandangan Putut mengenai potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada bulan terakhir 2020 hingga rekomendasi investasi seperti apa yang dapat diterapkan jelang akhir tahun 2020 dan pada awal 2021, berikut petikan wawancara Martina Priyanti dari Bareksadengan Putut Endro Andanawarih pada Kamis (3/12/2020):

Faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun 2020?

Seiring dengan semakin dibukanya roda ekonomi, belanja pemerintah terutama pada program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) serta program-program lainnya, kami melihat tren positif pada pertumbuhan ekonomi seharusnya masih berlanjut.

Selain itu, harga komoditas yang menjadi komoditas ekspor Indonesia seperti batu bara, CPO (crude palm oil) serta barang turunan nikel mengalami kenaikan seiring dengan kondisi supply demand global yang membaik, menjadi faktor pendorong daya beli masyarakat juga.

Namun, kekhawatiran dapat timbul dari kenaikan kasus Covid-19 yang terus meningkat sehingga ada kekhawatiran akan kembali diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dapat berdampak negatif terhadap tren pertumbuhan ekonomi ke depan.

Untuk jangka menengah, development vaksin masih menjadi fokus utama bagi investor seiring dengan banyaknya perkembangan positif bagi pengembangan vaksin akhir-akhir ini. Dengan telah disetujuinya penggunaan emergency vaksin Pfizer di UK, maka diperkirakan negara-negara lain akan mulai mengikuti langkah tersebut dalam waktu dekat sehingga akan memberi sentimen positif bagi pasar.

Bagaimana potensi investasi dan apa saja faktor yang mempengaruhinya?

Setelah mengalami kenaikan signifikan selama November 20 sebesar 9,7 persen untuk pasar saham dan 2,8 persen untuk pasar obligasi, kami melihat potensi kenaikan nilai investasi masih akan berlanjut hingga akhir Desember 2020 dan masuk ke tahun 2021. Hal ini mempertimbangkan aliran dana asing (foreign inflow) yang baru masuk selama bulan November 2020 setelah outflow massive yang terjadi selama year to date (YtD).

Beberapa katalis seperti vaksin, stimulus Amerika Serikat (AS) dan persiapan Sovereign Wealth Fund (SWF) menjadi katalis positif pasar ke depannya.

Namun kami juga tetap memperhatikan masih ada faktor risiko di bulan ini dari sisi valuasi harga yang meningkat dan kenaikan daily case Covid-19, yang menjadi latar belakang pendorong koreksi pasar temporary menjelang akhir bulan Desember 2020. Terlihat dari pergerakan pasar saham di awal Desember 2020 sudah didorong saham-saham small caps.

Apa saran bagi investor dalam berinvestasi pada saat ini dan ke depan?

Investor dapat berinvestasi di pasar saham dan pasar obligasi mengingat peluang kenaikan harga saham dan obligasi masih terbuka seiring dengan recovery ekonomi Indonesia. Hal ini juga didukung oleh sentimen positif dari fenomena Window Dressing dan January effect di mana dalam 15 tahun terakhir Indeks LQ45 selalu membukukan return yang positif di bulan Desember.

Investor dapat menerapkan disiplin dan konsisten dalam berinvestasi setiap bulan (Dollar Cost Averaging) untuk mengurangi risiko volatilitas pasar saham.

Produk dari BNI AM apa saja yang direkomendasikan kepada investor saat ini?

Bagi investor yang memiliki profil agresif dapat berinvestasi pada Reksadana BNI-AM Dana Saham Inspiring Equity Fund (Inspiring). Sementara bagi investor yang memiliki profile moderat dapat berinvestasi pada Reksadana BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara Investasi (Makara).

Kemudian bagi investor yang memiliki profil konservatif dapat berinvestasi pada Reksadana BNI-AM Dana Likuid (Likuid).

Strategi alokasi aset dapat diterapkan untuk investor profil agresif yaitu 80/20, di mana 80 persen ada pada instrumen reksadana saham yaitu Reksadana Inspiring dan 20 persen pada instrumen dengan risiko rendah yaitu Reksadana Makara dan Reksadana Likuid.

Bagi investor dengan profil moderat, dapat menerapkan strategi alokasi aset 50/50, di mana 50 Reksadana ada pada instrumen reksadana saham yaitu Reksadana Inspiring dan 50 persen pada instrumen risiko rendah yaitu Reksadana Makara dan Reksadana Likuid.

Kemudian, bagi investor dengan profil konservatif dapat menerapkan strategi alokasi aset 20/80, di mana 20 persen ada pada instrumen reksadana saham yaitu Reksadana Inspiring dan 80 persen pada instrumen risiko rendah yaitu Reksadana Makara dan Reksadana Likuid.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.