Cara Diversifikasi Investasi di Reksadana

Pada dasarnya investor menciptakan sebuah portofolio yang beragam demi mengurangi risiko kerugian
Abdul Malik • 23 Dec 2020
cover

Ilustrasi investasi reksadana yang digambarkan dengan sejumlah telur ditata di wadah di atas meja. Reksadana memiliki berbagai aset dalam portofolionya yang terdiversifikasi, sehingga risiko bisa dikurangi saat potensi keuntungan tinggi. (123rf)

Bareksa.com - Setiap orang yang berinvestasi pasti ingin memperoleh keuntungan optimal dengan nilai modal yang semakin bertumbuh, entah menggunakan investasi jangka panjang ataupun produk investasi jangka pendek.

Hanya saja, tetap diperlukan sebuah strategi yang tepat untuk bisa meningkatkan nilai modal yang diinvestasikan. Salah satu caranya adalah dengan diversifikasi, strategi investasi yang masih direkomendasikan oleh para pakar keuangan.

Diversifikasi merupakan sebuah istilah yang sudah sangat familiar bagi para investor, terutama pepatah “Don’t put all your eggs in one basket” alias jangan meletakkan seluruh telur dalam satu keranjang. Artinya adalah adanya keragaman dalam investasi yang dibuat oleh para investor. Pada dasarnya investor menciptakan sebuah portofolio yang beragam demi mengurangi risiko kerugian.

Sebagai contoh, jika kita berinvestasi hanya berinvestasi pada sebuah saham kemudian nilai saham perusahaan tersebut mengalami penurunan ataupun melemah, maka investasi Anda pun secara keseluruhan akan berkurang dan potensi rugi yang sangat besar.

Namun bila Anda membagi investasi dengan membeli dua saham dari perusahaan yang berbeda, maka hal tersebut akan mengurangi risiko terjadinya kerugian dana nilai portofolio ataupun investasi akan lebih aman.

Dengan kata lain, diversifikasi adalah strategi dalam menempatkan dana investasi ke dalam instrumen yang berbeda. Konteks yang dimaksud dengan instrumen disini adalah likuiditasnya, risiko, dan potensi imbal hasilnya.

Diversifikasi pada Reksadana

Secara umum, diversifikasi investasi adalah penganekaragaman jenis produk investasi yang dilakukan oleh investor untuk menyeimbangkan potensi keuntungan dan tingkat risiko kerugian. Contohnya, seorang investor saham mengoleksi beberapa emiten dari sektor berbeda dalam portofolionya, termasuk PTBA (pertambangan), TLKM (infrastruktur), dan BBRI (perbankan).

Lalu bagaimana cara melakukan diversifikasi dalam reksadana? Sederhana saja, alokasikandana investasimu ke dalam beragam produk reksadana yang memiliki tingkat risiko berbeda-beda.

Perhatikan urutan tingkat risiko reksadanamulai dari yang terendah hingga yang tertinggi berikut ini :

- Reksadana pasar uang (risiko rendah)
- Reksadana pendapatan tetap dan reksadana campuran (risiko moderat)
-
Reksadana saham (risiko tinggi)

Nah, sekarang periksa portofolio kita. Berapa persentase dana yang dialokasikan ke setiap jenis reksadana? Jika semua dana investasi hanya dimasukkan ke reksadana saham, maka kita perlu mengoleksi reksadana lain yang memiliki tingkat risiko lebih rendah hingga mencapai persentase tertentu dari keseluruhan nilai portofolio kita.

Contoh Diversifikasi

Kemudian pertanyaan berikutnya, berapa besar persentase yang tepat untuk diversifikasi reksadana yang ideal? Setiap investor dapat merancang rencana diversifikasi portofolio sesuai tujuan investasinya masing-masing. Sebagai gambaran awal, simak beberapa contoh berikut ini :

· Investor konservatif (tidak menyukai risiko) atau investor yang memiliki target investasi jangka pendek (di bawah 1 tahun) : reksadana pasar uang 70-80 persen dan reksadana pendapatan tetap 20-30 persen.

· Investor moderat (toleransi sedang terhadap risiko) atau investor yang memiliki target investasi jangka menengah (1-3 tahun) : reksadana pendapatan tetap 70-80 persen dan reksadana pasar uang 20-30 persen.

· Investor agresif (toleransi tinggi terhadap risiko) atau investor yang memiliki target investasi jangka panjang (>5 tahun) : reksadana saham 70-80 persen dan reksadana pasar uang atau pendapatan tetap 20-30 persen.

Beberapa contoh tersebut hanya sebatas gambaran saja. Kita bisa merancang proporsi sendiri. Misalnya investor yang punya target jangka panjang dan profil risiko moderat dapat mengatur reksadana pasar uang 40 persen, reksadana pendapatan tetap atau campuran 40 persen, dan reksadana saham 20 persen.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.