Tiga Cara Cegah Investasi Reksadana Merugi

Salah satu caranya berinvestasi secara berkala
Abdul Malik • 04 Feb 2021
cover

Ilustrasi investor pebisnis menghitung keuntungan imbal hasil suku bunga investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara sukuk tabungan dengan kalkulator dan lambang persen di depannya.

Bareksa.com – Seiring potensi keuntungan yang diperoleh dalam berinvestasi, terdapat juga risiko. Nah risiko tersebutlah yang mesti diantisipasi agar investasi kita termasuk di reksadana tidak merugi.

Salah satu risiko yang akan terjadi pada investasi reksadana adalah risiko penurunan nilai. Hal dimaksud bisa terjadi pada semua jenis reksadana, tentunya dengan tingkat penurunan yang berbeda sesuai dengan tingkat return yang diharapkan.

Berikut tiga cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisasi risiko penurunan nilai investasi :

1. Investasi berkala

Investasi berkala juga dikenal sebagai Dollar Cost Averaging (DCA). Investor bisa membeli produk investasi secara teratur atau berkala dengan nominal investasi yang biasanya tetap pada setiap periode pembelian, serta tanpa melihat kondisi pasar.

Investasi berkala atau biasa disebut dengan autodebet adalah menyerahkan kepada agen penjual maupun manajer investasi (MI) untuk melakukan debet sejumlah dana yang terdapat di rekeningnya dan menyetorkannya ke rekening reksadana secara rutin setiap bulan.

2. Jangan panik

Biasanya, orang akan panik jika portofolio investasinya dalam posisi turun. Pada posisi ini, orang akan buru-buru menjual atau melepas portofolionya sebelum turun semakin dalam. Ternyata cara ini salah karena justru malah merealisasikan kerugian. Dalam berinvestasi, posisi portofolio minus tidak dianggap kerugian jika kita belum melepas atau menjualnya.

Untuk itu, jangan sampai kamu merealisasikan kerugian saat posisi portofolio minus, tapi lanjutkan investasi secara berkala sesuai dengan target keuntungan dengan jangka waktu yang sudah ditetapkan.

3. Diversifikasi

Dalam berinvestasi reksadana, baiknya jangan terpatok hanya pada satu jenis reksadana atau hanya pada satu manajer investasi (MI).

Sejatinya, setiap reksadana punya keunikannya masing-masing pun demikian dengan pilihan manajer investasinya. Misalkan saja, kamu yang sudah berinvestasi di reksadana pasar uang, pada suatu saat ketika mendapat rejeki lebih dan memutuskan untuk menyisihkan sebagian dana itu untuk menambah investasi pada reksadana.

Maka kamu bisa pilih reksadana lainnya seperti memilih reksadana saham dengan alasan untuk tujuan investasi yang lebih panjang dan keinginan untuk mendapat return lebih tinggi. Dengan diversifikasi ini, maka kedua reksadana yang kamu miliki bisa saling melengkapi.

Artinya, saat reksadana saham kamu dalam posisi negatif, maka reksadana pasar uang bisa menutupi posisi minus itu.

Demi kenyamanan, pilihlah produk investasi sesuai tujuan keuangan dan profil risikomu.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.