Bareksa Insight : Kenaikan Agresif Bunga Acuan Berpotensi Mereda, Cuan Reksadana Ini Bisa Meroket

Potensi meredanya kenaikan agresif suku bunga acuan negara-negara di dunia mendorong penguatan signifikan mayoritas bursa saham global kemarin
Abdul Malik • 05 Oct 2022
cover

Ilustrasi kenaikan agresif suku bunga acuan oleh bank sentral negara-negara di dunia diprediksi mulai mereda akibat ancaman resesi global. Hal ini bisa berdampak positif terhadap pasar modal, termasuk IHSG, reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Berlanjutnya pelemahan data tenaga kerja Amerika Serikat, serta kenaikan suku bunga acuan Australia yang lebih rendah dari perkiraan, membuat pelaku pasar berasumsi bahwa pengetatan kebijakan moneter yang agresif telah mencapai puncaknya dan akan berkurang secara bertahap. 

Menurut Tim Analis Bareksa, hal ini mendorong penguatan signifikan mayoritas bursa saham global kemarin (4/10/2022), serta diproyeksikan dapat mempengaruhi kenaikan pasar saham Tanah Air (Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG) serta reksadana berbasis saham untuk hari ini (5/10/2022). IHSG pada Selasa (4/10) naik 0,89% ke level 7.072,26. 

Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), sebelumnya pada rapat 20-21 September 2022 memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate 75 basis poin atau 0,75% jadi 3 - 3,25%. Kemudian disusul Bank Indonesia yang juga menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (DRRR) 50 basis poin atau 0,5% jadi 4,25%.

Baca juga : Bareksa Insight : Kinerja Manufaktur RI Tetap Kuat, Cuan Reksadana Ini Bisa Melesat

Senada, imbal hasil (yield) acuan Obligasi AS juga masih cenderung mendatar di kisaran 3.6% dan turut mempengaruhi penguatan yield acuan Surat Berharga Negara (SBN) dalam negeri yang kemarin ditutup di level 7.29%, setelah pekan sebelumnya melemah ke kisaran 7.4%. 

Meredanya tekanan eksternal serta berlanjutnya perbaikan data ekonomi dalam negeri, menurut Tim Analis Bareksa, diproyeksikan dapat mendorong penguatan pasar obligasi serta reksadana pendapatan tetap.

Lihat juga : Bareksa Insight : Harga BBM Turun dan Rilis Inflasi, Ini Dampaknya ke Reksadana

Apa yang bisa dilakukan Smart Investor?

Di tengah potensi meredanya kenaikan agresif suku bunga acuan negara-negara di dunia yang bisa berdampak positif ke pasar modal, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor bisa menerapkan 2 strategi ini agar investasinya mendulang cuan optimal

1. Smart Investor dengan profil risiko agresif bisa tetap mencermati pergerakan pasar saham, serta manfaatkan momentum jika terdapat penurunan di IHSG untuk melakukan akumulasi bertahap di reksadana berbasis saham kapitalisasi besar dan reksadana indeks.

2. Pelaku pasar menanti Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia selanjutnya terkait kebijakan moneter dalam negeri. Pasar obligasi diproyeksikan cenderung mendatar dengan penguatan terbatas untuk pekan ini. Sehingga Smart Investor bisa selektif berinvestasi di reksadana pendapatan tetap, serta diversifikasi di reksadana pasar uang.

Simak juga : Bareksa Insight : Ancaman Resesi Global Menghantui, Ini Instrumen Investasi yang Aman dan Cuan

Beberapa produk reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan oleh Smart Investor dengan profil risiko konservatif, moderat dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 4 Oktober 2022)

Reksadana Pasar Uang

Syailendra Dana Kas : 15,05%
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia : 12,82%

Reksadana Pendapatan Tetap

TRIM Dana Tetap 2 : 17,29%
Kehati Lestari Kelas G : 13,29%

Imbal Hasil 1 Tahun (per 4 Oktober 2022)

Reksadana Indeks

Principal Index IDX30 Kelas O : 10,41%
Avrist IDX30 : 12,33%

Reksadana Saham

Sucorinvest Equity Fund : 20,14%
KISI Equity Fund : 8,44%

Baca juga : Bareksa Insight : Jurus Agar Investasi Cuan Terus, Saat Tekanan Pasar Global Makin Berat

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Baca juga : Bareksa Insight : Harga BBM Naik, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.