Bareksa Insight : Ancaman Resesi Global Bayangi Pasar Modal, ORI022 dan Reksadana Ini Bisa Dipilih

Mayoritas bank sentral negara-negara di dunia memperketat kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan guna meredam tingginya inflasi
Abdul Malik • 27 Sep 2022
cover

Ilustrasi ancaman resesi global yang membayangi kinerja pasar modal, termasuk pasar saham, obligasi, hingga reksadana. (shutterstock)

Bareksa.com - Mayoritas bank sentral negara-negara di dunia memperketat kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan guna meredam tingginya inflasi. 

Menurut Tim Analis Bareksa, hal ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar atas potensi resesi ekonomi global. Sehingga turut mempengaruhi pelemahan pasar saham dan obligasi dalam negeri. Tercatat investor asing melakukan aksi jual di pasar saham Tanah Air senilai Rp1,37 triliun pada awal pekan ini (26/9)  dan imbal hasil (yield) acuan Obligasi Negara juga naik ke level 7,34%. 

Baca juga : Bareksa Insight : Kupon Tinggi, ORI022 Investasi Tepat Saat Era Kenaikan Suku Bunga

Saat ini, instrumen investasi yang aman dan stabil seperti Surat Berharga Negara (SBN) Ritel jenis Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI022 bisa jadi pilihan investor. ORI022 menawarkan imbal hasil 5,95% per tahun, merupakan kupon SBN Ritel tertinggi tahun ini dibandingkan seri sebelumnya dengan tenor 3 tahun dan bisa diperdagangkan sebelum jatuh tempo. 

Cuan dari investasi di ORI022 juga jauh lebih menarik dari bunga deposito perbankan nasional yang saat ini menawarkan bunga rata-rata 3,33% per tahun. Setelah dipotong pajak obligasi, imbal hasil bersih ORI022 masih 5,355%, jauh lebih tinggi dari rata-rata bunga bersih deposito perbankan yang setelah dikurangi pajak 20% jadi 2,66%. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (26/9/2022) melemah 0,71% ke level 7.127,5. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 26/09/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat naik ke level 7,4%. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Pasar Saham Hijau Pasca BI Rate Naik 0,5%, Reksadana Ini Cuan hingga 23%

Di sisi lain, di tengah ancaman resesi global, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyatakan jika Indonesia dan China masih memiliki outlook ekonomi paling moderat di 2023. 

Sebelumnya, Asia Development Bank (ADB) menyatakan jika ekonomi Indonesia mampu bertahan di tengah fluktuasi harga komoditas karena kuatnya konsumsi rumah tangga dan ekspor komoditas. Hal ini bisa jadi penahan agar pasar modal Tanah Air tidak terlalu melemah signifikan.

Simak juga : Bareksa Insight : Suku Bunga AS Kembali Naik 0,75%, Apa Dampaknya ke Reksadana?

Apa yang bisa dilakukan Smart Investor?

Mempertimbangkan potensi resesi ekonomi global yang membayangi pasar modal, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor mencermati 3 hal ini agar investasinya tetap mendulang cuan maksimal

1. Smart Investor bisa mencermati reksadana indeks seperti yang berbasis indeks LQ45 dan IDX30, apabila IHSG dapat melemah ke kisaran level 7,000. Hal ini karena saham berkapitalisasi besar memiliki kecenderungan potensi pembalikan arah (rebound) lebih baik, dibandingkan dengan saham yang memiliki kapitalisasi menengah hingga kecil.

2. Tim Analis Bareksa memperkirakan tekanan di reksadana pendapatan tetap masih akan terus berlangsung dengan yield berpotensi akan bergerak naik ke level 7,4% pada perdagangan hari ini. Hal ini didorong oleh meningkatnya yield Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang sempat mencapai 3,93% atau tertinggi sejak April 2010.

3. Smart Investor dapat tetap pertahankan posisi investasinya di reksadana pasar uang, seiring potensi menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditopang oleh posisi fundamental ekonomi Indonesia yang lebih kuat lagi ke depannya.

Baca juga : Bareksa Insight : Jelang Musim Dingin Eropa, Reksadana Beraset Saham Batu Bara Bisa Membara

Beberapa produk reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko konservatif, moderat dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 26 September 2022)

Reksadana Pasar Uang

TRIM Kas 2 : 13,31%
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia : 12,88%

Imbal Hasil 1 Tahun (per 26 September 2022)

Reksadana Indeks

Avrist IDX30 : 19,01%
BNI AM Indeks IDX30 : 16,91%

Reksadana Saham

Avrist Ada Saham Blue Safir : 22,7%
Batavia Dana Saham Syariah : 15,53%

Imbal Hasil Tahun Berjalan (YTD per 26 September 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 6,29%
Sucorinvest Sharia Sukuk Fund : 5,01%

Lihat juga : Bareksa Insight : Harga BBM Naik, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Baca juga : Bareksa Insight : Asing Masuk ke Obligasi Rp8 Triliun, Cuan Reksadana Ini Meroket

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.

PT Bareksa Portal Investasi atau Bareksa.com adalah platform e-investasi terintegrasi pertama di Indonesia, yang ditunjuk menjadi mitra distribusi (midis) resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.

Bareksa telah mendapatkan penghargaan sebagai midis SBN terbaik selama tiga tahun berturut-turut dari Kementerian Keuangan RI. Penghargaan terbaru yang diterima adalah  penghargaan sebagai Midis SUN dengan  Kinerja Terbaik 2020 dan Midis SBSN dengan Kinerja Terbaik Kategori Fintech 2021. 

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di SBN Ritel? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN Ritel di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, registrasi ulang akun di Bareksa untuk memesan SBN Ritel seri berikutnya.