Bareksa Insight : Pasar Menanti Arah Ekonomi, Emas dan Reksadana Ini Bisa Dipilih

Pelaku pasar saat ini sedang menanti hasil pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi G7 yang diadakan pekan ini, guna mengetahui arah perekonomian global
Abdul Malik • 27 Jun 2022
cover

Ilustrasi perkembangan ekonomi global yang berpengaruh terhadap kinerja pasar saham, obligasi dan SBN, serta emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Menurut analisis Bareksa, investor atau pelaku pasar saat ini sedang menanti (wait and see) hasil pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi G7 yang diadakan pekan ini, guna mengetahui arah perekonomian global. 

Selain itu, investor dalam negeri juga menanti rilis angka inflasi Juni 2022 yang dirilis pada awal Juli nanti, yang akan menentukan arah kebijakan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan selanjutnya. 

Dua hal ini membuat pergerakan pasar saham Tanah Air dalam sepekan terakhir cenderung mendatar dengan aliran dana asing keluar sekitar Rp1 triliun. Dampaknya kinerja mayoritas reksadana saham dan reksadana indeks juga bergerak terbatas.

Baca juga : Bareksa Insight : Suku Bunga BI Tetap 3,5 Persen, IHSG dan Cuan Reksadana Melesat

Pada periode perdagangan 20 - 24 Juni 2022, pasar saham nasional yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan 1,53 persen di level 7.042,94. Penguatan itu setelah sebelumnya turun secara mingguan dalam dua pekan beruntun. 

Sementara itu, reksadana pendapatan tetap diproyeksikan akan kembali bergerak terbatas setelah pekan lalu mengalami penguatan cukup signifikan merespons hasil keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuannya di 3,5 persen. 

Analisis Bareksa menyarankan investor dapat tetap mencermati reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi, hingga BI mulai menaikkan suku bunga acuannya.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 24/06/2022 pukul 17.00 (WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat turun ke level 7,4 persen pada 24 Juni 2022. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Pasar Tunggu Hasil Rapat BI, Reksadana Ini Cuan 16 - 26 Persen

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Hari pertama pertemuan negara-negara G7, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden menyerukan larangan impor emas dari Rusia. Hal ini diproyeksikan akan mendorong kenaikan harga emas dunia, mengingat Rusia merupakan 3 terbesar negara penghasil emas dan berkontribusi 10 persen terhadap supply global. 

Analisis Bareksa memprediksi harga emas dunia akan kembali ke level US$1,850  hingga US$1.880 per troy ons dan ekspektasi harga jual emas dalam negerikemungkinan berada di level Rp895,000 hingga Rp910,000 per gram.

Untuk diketahui, harga emas saat ini sedang murah. Dilansir Reuters, harga emas spot pada Jumat (24/6/2022) pukul 14.24 WIB di harga US$1.822,7 per ounce. Sepanjang pekan lalu harga emas turun 0,9 persen. Emas berjangka AS turun 0,3 persen jadi US$1,824.

Simak juga : Bareksa Insight : Harga Batu Bara Meroket, Reksadana Berbasis Komoditas Cuan 10 - 20 Persen

Selain itu, investor juga masih dapat melakukan akumulasi investasi bertahap di reksadana saham dan reksadana indeks berbasis sektor energi dan saham kapitalisasi besar (big caps), jika indeks saham (IHSG) kembali mengalami penurunan.

Beberapa produk reksadana indeks, reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko agresif dan moderat adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 24 Juni 2022)

Reksadana Indeks

Allianz SRI KEHATI Index Fund : 23,81 persen
BNP Paribas Sri Kehati : 23,57 persen

Reksadana Saham

Sucorinvest Sharia Equity Fund : 12,56 persen
Manulife Saham SMC Plus : 7,39 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 24 Juni 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

TRIM Dana Tetap 2 : 18,5 persen
Mandiri Investa Dana Syariah : 15,55 persen

Baca juga : Bareksa Insight : Ekonomi Dunia Berpotensi Melambat, Ini Jurus Agar Investor Tetap Cuan

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.