Rekomendasi Investasi untuk Pemburu Cuan Bareksa, Jelang Kuartal Ketiga 2022

Isu global membayangi tapi masih ada potensi dari dalam negeri untuk investasi reksadana dan SBN
Hanum Kusuma Dewi • 13 Jun 2022
cover

Ilustrasi analis investasi pasar modal yang digambarkan dengan laptop dan grafik pertumbuhan. (Shutterstock)

Bareksa.com - Di bulan Juni ini, isu global masih membayangi pasar keuangan. Namun, kondisi ekonomi Indonesia masih terjaga dan berpotensi memberikan keuntungan bagi investasi reksadana dan Surat Berharga Negara (SBN). 

Isu Global

Ekonomi global diprediksi melambat akibat tingginya inflasi di Amerika Serikat dan Kawasan Eropa, sehingga investor cenderung khawatir dengan prospek investasi di semester kedua 2022. Akan tetapi, sentimen positif kembali muncul dari Tiongkok setelah Pemerintah China melonggarkan pembatasan setelah lockdown 3 bulan terakhir. 

Data manufaktur China kembali mengalami perbaikan walaupun masih berada di level yang berkontraksi pada bulan Mei lalu. Pelonggaran yang dilakukan oleh pemerintah China diharapkan mampu meredam inflasi yang diakibatkan oleh kelangkaan barang, di saat harga input produksi juga meningkat akibat kenaikan harga komoditas di dunia. 

Tim Analis Bareksa melihat bahwa pada kuartal ketiga 2022, tantangan masih akan datang dari luar negeri, seperti kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang lebih agresif menaikkan suku bunga di tengah inflasi yang jauh di atas rata-rata normal. Di samping itu, ketidakpastian global akibat tingginya harga energi dan konflik Ukraina-Rusia masih berlangsung. 

Baca juga Bareksa Insight : Isu Global Bayangi Pasar Modal, Investor Bisa Terapkan Strategi Ini

Isu Domestik

Indonesia diproyeksikan masih mampu menjaga inflasi pada kuartal tiga nanti dengan cukup baik. Pemerintah menaikkan subsidi BBM agar tidak terjadi kenaikan harga transportasi/logistik yang selama ini menjadi komponen terbesar dalam kenaikan barang dan jasa di Indonesia.

Tim Analis Bareksa memproyeksikan surplus neraca perdagangan masih akan bergerak pada level US$3-4 miliar setiap bulannya pada kuartal ketiga, dengan asumsi harga minyak dunia yang relatif stabil pada level US$110-120/barrel. Dengan kembali diperbolehkannya ekspor kelapa sawit dan turunannya, maka surplus masih akan terjaga di level tersebut.

Prospek Reksadana Saham

Di kuartal ketiga, investor dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi pada reksadana saham dan reksadana indeks dengan jangka waktu investasi hingga Januari-Februari 2023 untuk mengoptimalkan imbal hasil. Investor juga dapat melakukan akumulasi di reksadana saham dan indeks jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada pada level 6.600-6.800 dengan target IHSG di kisaran level 7.500-7.600 hingga akhir tahun.

Bursa saham negara-negara yang ekonominya bertumpu pada komoditas sepanjang tahun ini sudah mengalami peningkatan, seperti Amerika Latin dan Kawasan Teluk (GCC). Hanya saja, sejumlah bursa saham negara emerging market masih belum pulih sehingga masih menjadi potensi untuk tumbuh ke depannya. 

Hal ini terlihat dari grafik indeks MSCI Emerging Markets Latin America dan MSCI GCC Countries Combined yang sudah naik di atas 10 persen, dibandingkan dengan MSCI Emerging Market secara umum yang masih tertinggal dengan return minus secara year to date (YTD). 

Grafik Perbandingan Indeks Saham Emerging Market

Sumber: Bloomberg

Prospek Reksadana Pendapatan Tetap

Dari global, inflasi Amerika yang tercatat pada angka yang tertinggi selama 40 tahun terakhir pada bulan Mei 2022 sebesar 8,6 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi pasar yang tetap bertahan pada level 8,3 persen. Tim Analis Bareksa melihat hasil ini akan membuat bank sentral Amerika Serikat kemungkinan akan lebih agresif untuk menaikkan suku bunga acuannya. 

Di kuartal ketiga, Bareksa juga melihat adanya peluang kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 0,25 persen untuk mengimbangi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS. Hal tersebut akan menjadi katalis positif untuk stabilitas nilai tukar rupiah ke depannya, di samping memang fundamental ekonomi Indonesia saat ini juga cukup baik. 

Tim Analis Bareksa melihat dengan adanya kemungkinan untuk menaikan tingkat suku bunga yang lebih agresif ke depannya dari bank Sentral Amerika, membuat yield obligasi Indonesia akan bergerak melemah hingga 7,4-7,8% pada waktu dekat ini. 

Sebagai catatan, imbal hasil (yield) yang naik menandakan harga obligasi di pasar yang melemah sehingga memberi dampak pada kinerja reksadana pendapatan tetap, terutama yang berbasis obligasi negara. 

Dengan meningkatnya tingkat suku bunga acuan dalam negeri, Tim Analis Bareksa melihat reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi negara (SBN) masih akan mengalami pelemahan pada tahun ini dikarenakan adanya proyeksi Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga hingga 4 persen pada tahun ini. 

Baca juga Bareksa Insight : Inflasi AS Mei di Level Tertinggi, Ini Tips Agar Investasi Cuan Maksimal

Apa yang harus dilakukan investor?

Sehingga, mempertimbangkan sejumlah kondisi di atas, investor dapat mempertimbangkan untuk melakukan strategi investasi berikut.

  • Investor dengan profil risiko agresif masih dapat mempertimbangkan untuk akumulasi reksadana saham dan reksadana indeks saham berbasis sektor energi dan saham kapitalisasi besar (Big Caps) jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan dengan rentang 6.500-6.700. 
  • Sementara itu, investor profil risiko moderat dapat tetap melakukan akumulasi secara bertahap di reksadana pendapatan tetap basis obligasi korporasi karena fluktuasi SBN akan lebih tinggi menjelang kenaikan suku bunga Bank Sentral AS. 
  • Lalu untuk investor konservatif dapat melakukan investasi dengan alokasi yang lebih besar di reksadana pasar uang dan porsi yang lebih rendah di reksadana pendapatan tetap.
  • Selain itu, diversifikasi investasi di instrumen SBN ritel seri SBR011 juga dapat dilakukan di semua profil risiko untuk mendapatkan peluang keuntungan yang optimal. Dengan proyeksi kenaikan suku bunga yang lebih tinggi akan membuat kupon imbal hasil SBR011 lebih atraktif. 

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan.

Baca juga Rutin atau Baru Investasi Pakai Robo Advisor Bareksa, Raih Reksadana hingga Rp50 Ribu

Kinerja Reksadana 

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Capital Money Market Fund

4,60%

18,37%

Syailendra Dana Kas

3,80%

16,14%

Shinhan Money Market Fund

3,42%

15,04%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

TRIM Dana Tetap 2

4,35%

20,72%

Syailendra Pendapatan Tetap Premium

6,34%

32,75%

Sucorinvest Stable Fund

7,54%

-

Reksa Dana Saham 

YtD

1 Tahun

Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A

12,08%

15,17%

Avrist Ada Saham Blue Safir

12,87%

17,41%

TRIM Kapital Plus

10,86%

18,50%

Sumber: Bareksa Research Team, Return per NAV 7 Juni 2022

Kinerja Reksadana Syariah 

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Sucorinvest Sharia Money Market Fund

4,50%

18,67%

Syailendra Sharia Money Market Fund

4,21%

16,70%

Trimegah Kas Syariah

3,45%

13,21%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

2,94%

24,45%

Bahana Mes Syariah Fund Kelas G

3,17%

22,85%

Mandiri Investa Dana Syariah

4,38%

17,08%

Reksa Dana Saham

YtD

1 Tahun

Batavia Dana Saham Syariah

10,23%

11,39%

TRIM Syariah Saham

7,67%

8,66%

Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas A

10,35%

11,41%

Sumber: Bareksa Research Team, Return per NAV 7 Juni 2022

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.