Bareksa Insight : Awal April 2022, Investor Bisa Cermati Sentimen Pasar Berikut

Mengawali April 2022, Badan Pusat Statistik akan merilis data inflasi per Maret 2022
Abdul Malik • 01 Apr 2022
cover

Pedagang menata bahan makanan yang dijual di Pasar Jembatan Lima, Jakarta, Rabu (3/1). BPS akan mengumumkan inflasi Maret 2022 yang diperkirakan masih sesuai target Bank Indonesia, sehingga dinilai akan jadi sentimen positif pasar dan mendongkrak kinerja. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

Bareksa.com - Mengawali April 2022, Badan Pusat Statistik akan merilis data inflasi per Maret 2022 yang diproyeksikan naik 0,65 persen secara bulanan atau 2,67 persen secara tahunan. 

Menurut analisis Bareksa, perkiraan inflasi Maret dinilai masih wajar dan sesuai dengan target Bank Indonesia. Selain itu, sejumlah perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia juga akan membagikan dividen pada awal bulan ini. Beberapa hal tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi reksadana saham dan reksadana indeks.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 31 Maret 2022 kembali mencatatkan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high) dengan kenaikan 0,26 persen ke level 7.071,44.

Sementara itu pasar obligasi masih bergerak mendatar karena sentimen yang cukup variatif, salah satunya dari Amerika Serikat. Imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah AS tenor 2 tahun tercatat lebih tinggi dibandingkan tenor 10 tahun. 

Menurut analisis Bareksa, pembalikan kurva imbal hasil (inversi) Obligasi Negara AS bisa menjadi pertanda awal akan terjadi resesi di Negeri Paman Sam pada 6-12 bulan ke depan. Namun stabilitas ekonomi Indonesia diproyeksikan mampu meminimalisir efek tersebut serta menopang kinerja reksadana pendapatan tetap.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 31/03/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 6,8 persen pada 31 Maret 2022. 

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa memprediksi pergerakan reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap masih akan terbatas mengingat sentimen dari global dan dalam negeri yang variatif. 

Saat ini, pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat konsumsi masyarakat meningkat di tengah kenaikan harga pangan dan bahan bakar akibat konflik Rusia - Ukraina.

Investor disarankan tetap melakukan diversifikasi investasi ke instrumen yang risikonya lebih moderat seperti reksadana pendapatan tetap, hingga yang risikonya lebih rendah lagi seperti reksadana pasar uang.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko moderat dan agresif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 31 Maret 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Bahana Mes Syariah Fund Kelas G : 24,16 persen
Kehati Lestari Kelas G : 20 persen

Imbal Hasil 3 Bulan (per 31 Maret 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 10,9 persen
Principal Index IDX30 Kelas O : 10,73 persen

Reksadana Saham 

Eastspring Investments Value Discovery Kelas A : 10,7 persen
Manulife Saham Andalan : 4,27 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.