Bareksa Update : Suku Bunga Stabil Topang Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap

Investor masih akan wait and see menanti rilis suku bunga acuan Bank Indonesia yang diproyeksikan masih stabil
Bareksa • 20 Jan 2022
cover

Logo Bank Indonesia di pagar gedung Bank Indonesia, Jakarta (shutterstock)

Bareksa.com - Pergerakan pasar obligasi masih bervariasi di mana harga sejumlah obligasi menurun akibat kenaikan imbal hasil (yield) acuan Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang sempat mencapai level tertinggi sejak Desember 2019, yakni di kisaran 1,9 persen.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 19/01/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark Obligasi Pemerintah RI tercatat naik ke level 6,4 persen, pada 19 Januari 2022.

Menurut analisis Bareksa, hari ini investor masih akan wait and see menanti rilis suku bunga acuan Bank Indonesia yang diproyeksikan masih stabil dan dapat menjadi sentimen positif untuk reksadana pendapatan tetap. Selama dua hari ini (19-20 Januari 2022) diselenggarakan Rapat Dewan Gubernur BI. Bunga acuan BI saat ini di level 3,5 persen.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih cenderung melemah dalam sepekan terakhir akibat kasus Covid-19 yang terus naik. Tercatat per kemarin, kasus harian Covid-19 kembali naik mencapai level tertinggi dalam 3 bulan terakhir, yakni sekitar 1.745 kasus. IHSG pada 19 Januari 2022 turun 0,33 persen ke level 6.591,98. 

Analisis Bareksa melihat, kenaikan kasus Covid-19 semakin meningkatkan potensi pengetatan kegiatan masyarakat (PPKM) yang akan kembali menahan laju ekonomi. Sehingga turut menekan kinerja reksadana saham dan reksadana indeks.

Baca : SBN Ritel Pertama 2022, Ini Jadwal Penetapan Kupon hingga Masa Penawaran ORI021

Di tengah pasar obligasi yang menunggu putusan suku bunga acuan BI dan pasar saham yang tertekan kenaikan kasus Covid-19 varian Omicron, investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks dengan kinerja ciamik berikut ini : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 19 Januari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 32,59 persen
Bahana Mes Syariah Fund Kelas G : 28,82 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 19 Januari 2022)

Reksadana Saham

Sucorinvest Maxi Fund : 8,52 persen
Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A : 6,81 persen

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 17,57 persen
Principal Index IDX30 Kelas O : 11,97 persen

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Bareksa's Investor Navigator

Reksadana 

Analisis Bareksa memperkirakan pada perdagangan hari ini reksadana berbasis saham dan pendapatan tetap akan bergerak terbatas mengingat masih minimnya sentimen dari dalam negeri dan luar negeri. 

Investor akan mencermati tingkat suku bunga pinjaman Bank Sentral China, serta data ekspor Jepang pada yang akan diumumkan hari ini. Yield obligasi AS kembali naik pada perdagangan kemarin sehingga membuat yield Obligasi Indonesia kembali di level 6,4 persen. 

Emas 

Harga emas diproyeksikan masih akan bergerak di level US$1.800 - US$1.850 per troy ons mengingat yield obligasi AS yang terus naik dan melemahnya nilai tukar dollar. Serta ketidakpastian geopolitik yang mulai kembali meningkat di kawasan Eropa Timur juga menjadi sentimen meningkatnya harga emas dunia.

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

***

Ingin berinvestasi aman di dan reksadana secara online yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.