Hadapi Evaluasi MSCI, OJK Perkuat Reformasi Pasar Modal, Puluhan Saham HSC Terindikasi Pelanggaran
OJK dan BEI memperkuat reformasi pasar modal di tengah evaluasi MSCI. Pemeriksaan awal menemukan indikasi pelanggaran pada 31 saham HSC.

OJK dan BEI memperkuat reformasi pasar modal di tengah evaluasi MSCI. Pemeriksaan awal menemukan indikasi pelanggaran pada 31 saham HSC.
Bareksa – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pelaku pasar memperkuat konsolidasi reformasi pasar modal di tengah evaluasi MSCI terhadap status Indonesia. Selain meningkatkan transparansi kepemilikan saham, OJK memperkuat penegakan hukum setelah pemeriksaan awal menemukan indikasi dugaan pelanggaran pidana terkait 31 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Dalam dialog pada Minggu (18/10/2026), OJK bersama BEI, KSEI, dan KPEI menghimpun masukan dari analis, ekonom, serta pelaku pasar untuk memperkuat integritas dan kepercayaan investor.
Langkah ini berlangsung setelah MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone. Usulan tersebut masih dalam konsultasi hingga 30 April 2027, dengan keputusan paling lambat 30 Juni 2027.
Promo Terbaru di Bareksa
OJK Perkuat Reformasi dan Dengarkan Masukan Pelaku Pasar
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara regulator dan pelaku pasar.
"Regulator tidak hanya hadir untuk menyampaikan kebijakan kepada pelaku pasar. Kami justru ingin mendengar masukan dan pandangan secara terbuka, termasuk berbagai hal yang mungkin belum kami ketahui," ujar Friderica dalam siaran pers OJK (18/10).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menegaskan komitmen melanjutkan Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia.
Reformasi mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham, penyempurnaan klasifikasi investor, pengawasan konsentrasi kepemilikan, serta komunikasi dengan penyedia indeks global.
OJK Temukan Indikasi Pelanggaran pada 31 Saham HSC
Hasan Fawzi sebelumnya mengungkapkan pemeriksaan awal terhadap 61 saham HSC menemukan 31 saham yang terindikasi terkait dugaan pelanggaran pidana pasar modal. OJK belum mengumumkan nama saham-saham tersebut maupun hasil akhir proses penegakan hukumnya.
Kepolisian melalui Bareskrim Polri juga menyatakan kesiapan menindaklanjuti informasi dan pengaduan dugaan tindak pidana pasar modal berdasarkan bukti yang dikumpulkan. Temuan awal ini menjadi perhatian karena MSCI sebelumnya menyoroti transparansi kepemilikan saham, dugaan transaksi terkoordinasi, serta konsistensi penegakan hukum di pasar modal Indonesia.
Meski demikian, masuknya saham dalam daftar HSC tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran hukum. Dugaan tersebut tetap memerlukan pemeriksaan dan pembuktian sesuai ketentuan yang berlaku.
Transparansi dan Metodologi IHSG
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menyampaikan bahwa peningkatan keterbukaan informasi kepemilikan saham, klasifikasi investor, dan konsentrasi kepemilikan menjadi bagian penting reformasi pasar modal.
Sebagai tambahan, Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) mencatat terdapat 80 saham dalam daftar HSC per 13 Oktober 2026. Pada September, sebanyak 63 saham HSC mewakili sekitar 28,8% kapitalisasi pasar, tetapi hanya sekitar 5% nilai transaksi.
Indikator | Data |
|---|---|
Saham HSC dalam daftar PAEI (13/10) | 80 |
Saham HSC dalam cakupan pemeriksaan awal OJK | 61 |
Saham yang terindikasi dugaan pelanggaran | 31 |
Porsi kapitalisasi 63 saham HSC (September) | 28,8% |
Porsi nilai transaksi 63 saham HSC (September) | Sekitar 5% |
Sumber: Rangkuman PAEI (18/10/2026)
PAEI mendorong penyempurnaan metodologi IHSG dengan mempertimbangkan jumlah saham yang benar-benar dapat diperdagangkan, konsentrasi kepemilikan, dan likuiditas. Usulan tersebut masih berupa rekomendasi pelaku pasar, bukan ketentuan baru BEI.
Reformasi Jadi Kunci Menghadapi Evaluasi MSCI
MSCI telah mengakui sejumlah reformasi pasar modal Indonesia, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham dan kebijakan kenaikan minimum free float. Namun, lembaga indeks global tersebut masih meminta bukti pelaksanaan reformasi yang konsisten, terutama terkait keakuratan data saham beredar dan penegakan hukum.
Bagi investor, perbaikan transparansi dapat membantu menilai risiko saham dan kualitas tata kelola pasar. Namun, reformasi tidak otomatis menjamin pemulihan IHSG ataupun hasil tertentu dari evaluasi MSCI.
Kesimpulan
Konsolidasi OJK bersama BEI dan pelaku pasar menjadi bagian dari upaya memperkuat integritas pasar modal menjelang keputusan MSCI pada Juni 2027. Temuan awal terkait 31 saham HSC menambah perhatian terhadap konsistensi penegakan hukum. Tantangan OJK berikutnya adalah memastikan reformasi tidak berhenti pada penerbitan aturan, tetapi menghasilkan perbaikan nyata yang dapat dinilai investor domestik maupun global.
Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Pertanyaan Umum
Mengapa OJK memperkuat konsolidasi pasar modal?
Untuk meningkatkan transparansi, menindaklanjuti masukan pelaku pasar, dan menjaga kepercayaan investor di tengah evaluasi MSCI.
Apakah 31 saham HSC sudah terbukti melanggar hukum?
Belum. Informasi yang disampaikan masih berupa indikasi dugaan pelanggaran dari pemeriksaan awal.
Apakah seluruh saham HSC bermasalah?
Tidak. HSC menunjukkan tingginya konsentrasi kepemilikan saham, bukan bukti adanya pelanggaran.
Kapan MSCI memutuskan status Indonesia?
Paling lambat 30 Juni 2027, setelah masa konsultasi hingga 30 April 2027.
Profil Penulis

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.256,72 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.209,39 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.218,90 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.025,67 | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
