BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

BBCA Cetak Laba Rp29,5 Triliun di Semester I 2026, Rekomendasi Buy Target Harga Segini

29 Juli 2026
Tags:
BBCA Cetak Laba Rp29,5 Triliun di Semester I 2026, Rekomendasi Buy Target Harga Segini
Mencara BCA atau kantor pusat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau Bank BCA di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta. (Shutterstock)

BBCA membukukan laba bersih Rp29,5 triliun pada Semester I 2026. Ciptadana mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp9.200 per saham seiring prospek pemulihan NIM.

Bareksa - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat kinerja yang tetap solid pada Semester I 2026 di tengah tekanan margin bunga (NIM). Pertumbuhan kredit yang semakin kuat, khususnya di segmen korporasi, serta prospek pemulihan imbal hasil aset pada paruh kedua tahun ini membuat Ciptadana Sekuritas Asia tetap mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp9.200 per saham.

Laba Semester I Naik 2%, Sesuai Ekspektasi

BBCA membukukan laba bersih kuartal II 2026 sebesar Rp14,85 triliun, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan naik 1% dibandingkan kuartal sebelumnya. Secara kumulatif, laba bersih Semester I 2026 mencapai Rp29,53 triliun, tumbuh 2% secara tahunan (YoY).

Kinerja tersebut dinilai sesuai ekspektasi karena telah mencapai sekitar 48% dari proyeksi laba sepanjang 2026, baik menurut estimasi Ciptadana maupun konsensus analis.

Promo Terbaru di Bareksa

Tekanan utama masih berasal dari penurunan Net Interest Margin (NIM), yang berada di level 5,7% pada kuartal II 2026 atau turun 60 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya akibat dampak tertunda penurunan suku bunga BI pada 2025.

Meski demikian, biaya pencadangan justru turun signifikan sehingga mampu menopang laba. Beban provisi menyusut 39% secara kuartalan dan 23% secara tahunan, membuat Cost of Credit (CoC) membaik menjadi 30 bps.

Kredit Korporasi Jadi Motor Pertumbuhan

Penyaluran kredit BBCA meningkat menjadi Rp1.012,7 triliun, tumbuh 7,9% YoY dan 4,3% QoQ, mendekati target pertumbuhan kredit manajemen sebesar 8-10% pada 2026.

Kontributor terbesar berasal dari:

Segmen Kredit

Pertumbuhan YoY

Korporasi

14%

Komersial

7%

UKM

6%

KPR

5%

Konsumer

-2%

Kredit Kendaraan

-22%

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas Asia

Analis menilai permintaan kredit korporasi yang tetap kuat menjadi modal utama BBCA untuk mencapai target pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.

Margin Bunga Diperkirakan Pulih di Semester II

Salah satu katalis positif yang disoroti adalah prospek pemulihan margin bunga bersih (NIM).

Manajemen BBCA meyakini asset yield telah mencapai titik terendah pada kuartal II 2026 dan akan mulai meningkat pada semester II, didukung oleh:

  • kenaikan bunga kredit korporasi sebesar 50-100 bps;

  • kenaikan imbal hasil surat berharga seperti SRBI;

  • peningkatan penyaluran aset produktif.

Selain itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) naik menjadi 78% dari sebelumnya 75%, menunjukkan likuiditas mulai dimanfaatkan untuk ekspansi kredit. Sementara itu, dana murah (CASA) tetap kuat dengan pertumbuhan giro 15% YoY dan tabungan 7% YoY, sedangkan deposito berjangka turun 3% YoY.

Kualitas Aset Tetap Terjaga

Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, kualitas aset BBCA tetap sangat baik.

Beberapa indikator utama meliputi:

Indikator

Q2 2026

NPL Gross

1,8%

LAR

4,8%

Cost of Credit

30 bps

Loan Loss Coverage

166,9%

ROE

22,4%

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas Asia

Manajemen tetap mempertahankan panduan CoC sekitar 50 bps, meskipun berpotensi naik menjadi sekitar 60 bps apabila kondisi ekonomi memburuk lebih dari perkiraan.

Valuasi Dinilai Masih Menarik

Ciptadana menilai valuasi saham BBCA masih cukup atraktif.

Saat ini BBCA diperdagangkan pada:

  • P/BV 2,4x

  • Forward P/E 11,8x

Kedua valuasi tersebut berada mendekati tiga standar deviasi di bawah rata-rata historis, sementara profitabilitas tetap tinggi dengan ROE mencapai 22,4%. Atas dasar itu, Ciptadana mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp9.200 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 47,8% dari harga saat laporan diterbitkan.

Prospek BBCA

Secara fundamental, BBCA masih menunjukkan ketahanan di tengah siklus suku bunga yang berubah. Pertumbuhan kredit korporasi yang solid, kualitas aset yang tetap terjaga, serta potensi pemulihan NIM pada semester II 2026 menjadi faktor utama yang diperkirakan dapat menopang pertumbuhan laba hingga akhir tahun.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati perkembangan kondisi makroekonomi, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, serta permintaan kredit domestik yang dapat memengaruhi realisasi kinerja perseroan.

Key Takeaways

Faktor

Kondisi

Laba Semester I 2026

Rp29,5 triliun (+2% YoY)

Pertumbuhan Kredit

7,9% YoY, ditopang korporasi

NIM

Diperkirakan mulai pulih pada Semester II

Kualitas Aset

Tetap kuat, NPL 1,8%

Rekomendasi Ciptadana

Buy

Target Harga

Rp9.200 per saham

Sumber: Laporan Riset Ciptadana Sekuritas Asia

BBCA berhasil mempertahankan kinerja yang solid pada Semester I 2026 dengan laba bersih mencapai Rp29,53 triliun atau tumbuh 2% YoY, didukung akselerasi pertumbuhan kredit terutama di segmen korporasi, kualitas aset yang tetap terjaga, serta prospek pemulihan margin bunga (NIM) pada semester II seiring kenaikan suku bunga dan perbaikan asset yield. Dengan valuasi yang masih dinilai menarik, Ciptadana Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp9.200 per saham, meski investor tetap perlu mencermati perkembangan kondisi ekonomi dan arah kebijakan suku bunga yang dapat memengaruhi kinerja perbankan ke depan.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pertanyaan Umum

Berapa laba bersih BBCA pada Semester I 2026?

BBCA membukukan laba bersih sebesar Rp29,53 triliun, naik sekitar 2% secara tahunan (YoY) dan telah memenuhi sekitar 48% dari proyeksi laba sepanjang 2026.

Apa penyebab Net Interest Margin (NIM) BBCA menurun?

Penurunan NIM terutama disebabkan dampak tertunda (lag effect) dari penurunan suku bunga Bank Indonesia pada 2025 yang menekan imbal hasil aset (asset yield). Namun manajemen memperkirakan asset yield telah mencapai titik terendah pada kuartal II 2026 dan mulai pulih pada semester II.

Segmen kredit apa yang menjadi pendorong pertumbuhan BBCA?

Pertumbuhan kredit BBCA terutama ditopang oleh kredit korporasi yang naik 14% YoY, sementara kredit komersial tumbuh 7% dan UKM naik 6%. Sebaliknya, kredit konsumer masih melemah akibat penurunan pembiayaan kendaraan bermotor.

Bagaimana kualitas aset BBCA?

Kualitas aset BBCA masih sangat baik. Pada kuartal II 2026, rasio NPL gross tetap di level 1,8%, sementara Loan at Risk (LAR) turun menjadi 4,8%, mencerminkan profil risiko kredit yang masih terkendali.

Apa saja risiko yang perlu dicermati investor BBCA?

Beberapa risiko utama meliputi perlambatan ekonomi yang dapat menekan permintaan kredit, kenaikan biaya pencadangan apabila kualitas kredit memburuk, serta perubahan kebijakan suku bunga yang memengaruhi margin bunga bersih (NIM). Meski demikian, hingga Semester I 2026 fundamental BBCA masih tergolong solid.

Profil Penulis

Abdul Malik
Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.226,49

Up0,82%
Up1,40%
Up1,66%
Up6,22%
Up20,52%
Up14,43%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.184,34

Up1,03%
Up1,97%
Up2,52%
Up6,51%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.027,25

Up0,93%
Down-2,18%
Down-1,94%
---

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.202,46

Up0,53%
Up1,07%
Up1,49%
Up5,22%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua