BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

Target IHSG 2026 Dipangkas Jadi 7.780, Cermati Rupiah & Kualitas Laba Emiten, Ini Top Picks Sahamnya

Abdul Malik26 Mei 2026
Tags:
Target IHSG 2026 Dipangkas Jadi 7.780, Cermati Rupiah & Kualitas Laba Emiten, Ini Top Picks Sahamnya
Ilustrasi investor memantau perkembangan pasar saham dan IHSG. (Shutterstock)

Ciptadana Sekuritas menurunkan target IHSG 2026 menjadi 7.780 di tengah pelemahan rupiah, arus keluar asing, dan tren pendapatan emiten yang melambat.

Bareksa - Riset PT Ciptadana Sekuritas Asia menurunkan target akhir tahun IHSG 2026 menjadi 7.780 dalam proyeksi Mei, dipangkas 13,2% dari proyeksi sebelumnya di Februari yakni 8.960. Informasi ini penting bagi investor karena mencerminkan penyesuaian valuasi pasar di tengah tekanan rupiah, arus keluar dana asing, dan kualitas pertumbuhan laba emiten.

Berdasarkan strategy report Ciptadana tertanggal 25 Mei 2026, pasar saham Indonesia dinilai masih berada dalam fase rapuh meski valuasi mulai menarik secara historis. Dalam laporan tersebut, IHSG diperdagangkan pada valuasi sekitar 10 kali forward price to earnings (PE), sedikit di bawah minus dua standar deviasi rata-rata historisnya.

Analis Ciptadana Sekuritas menilai level ini jarang terjadi di luar periode krisis sehingga pasar dinilai telah mencerminkan pesimisme tinggi. Meski demikian, pelemahan rupiah yang masih berada di atas asumsi Rp17.200 per dolar AS menjadi faktor utama tekanan pasar.

Promo Terbaru di Bareksa

Analis juga mencatat arus keluar dana asing mencapai Rp53,4 triliun secara year to date, di luar crossing saham PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPI) senilai Rp12 triliun. Tekanan tersebut disebut terutama berasal dari rebalancing MSCI setelah jumlah konstituen Indonesia dipangkas dari 18 menjadi 11 saham. Dengan mendekati tanggal efektif MSCI, tekanan jual nonfundamental dinilai mulai mereda dan dapat menjadi perhatian pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Tekanan Rupiah dan Suku Bunga

Analis Ciptadana Sekuritas menilai pelemahan rupiah berpotensi menekan laba emiten melalui kenaikan biaya impor dan beban utang dolar AS. Sektor yang dinilai relatif diuntungkan adalah eksportir berbasis dolar AS seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan emiten perkebunan seperti PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).

Sebaliknya, sektor konsumer, ritel, farmasi, properti, dan telekomunikasi dinilai menghadapi risiko tekanan margin akibat biaya berbasis dolar AS.

Laporan tersebut juga menyoroti perlambatan kualitas pertumbuhan laba emiten kuartal I 2026. Dari 63 emiten dalam cakupan riset, laba bersih agregat tumbuh 12% secara tahunan, namun pertumbuhan pendapatan hanya 4%, menjadi salah satu yang terendah dalam satu dekade di luar periode pandemi. Analis menilai pertumbuhan laba lebih banyak ditopang efisiensi biaya dibanding kenaikan permintaan pasar.

Meski target IHSG diturunkan, Analis Ciptadana Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk pasar saham Indonesia. Dalam skenario dasar, pertumbuhan laba emiten diproyeksikan mencapai 8,8% pada 2026 dengan target IHSG 7.780 atau sekitar 26% di atas posisi saat ini.

Saham pilihan utamanya antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).

Ringkasan Utama Strategy Report Ciptadana

Indikator
Data

Target IHSG akhir 2026

7.780

Posisi IHSG terakhir

6.162

Potensi kenaikan versi Ciptadana

Sekitar 26%

Forward PE IHSG

10,0x

Arus keluar asing YTD

Rp53,4 triliun

Pertumbuhan laba agregat 1Q26

12% YoY

Pertumbuhan pendapatan agregat 1Q26

4% YoY

Proyeksi pertumbuhan laba 2026

8,8%

Proyeksi BI Rate

Berpotensi naik ke 5,5%

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Sektor dan Saham yang Dicermati

Berpotensi Diuntungkan Pelemahan Rupiah

  • Batu bara dan mineral

  • Perkebunan sawit

  • Emiten berbasis ekspor dolar AS

Berpotensi Tertekan

  • Konsumer

  • Ritel

  • Farmasi

  • Properti

  • Telekomunikasi

Saham Top Picks Ciptadana Sekuritas

Saham
Sektor
Harga Terakhir
Target Harga
Potensi Kenaikan*
PER 2026F
ROE 2026F

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Perbankan

Rp6.150

Rp9.200

49,6%

11,3x

21,0%

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)

Perbankan Syariah

Rp1.920

Rp2.900

51,0%

8,2x

16,2%

PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY)

Konsumer

Rp4.480

Rp6.200

38,4%

11,3x

28,0%

PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)

Telekomunikasi

Rp2.850

Rp4.000

40,4%

37,0x

-7,9%

PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)

Perkebunan

Rp1.235

Rp1.960

58,7%

6,9x

18,4%

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG)

Perkebunan

Rp1.535

Rp2.300

49,8%

7,1x

41,7%

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)

Batu Bara

Rp8.325

Rp13.400

61,0%

5,5x

26,0%

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

Pertambangan

Rp2.840

Rp3.850

35,6%

-168,6x

-2,4%

PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL)

Ritel Teknologi

Rp304

Rp440

44,7%

5,6x

11,9%

PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)

Rumah Sakit

Rp1.700

Rp2.450

44,1%

19,4x

18,3%

*Potensi kenaikan berdasarkan harga terakhir vs target harga versi Ciptadana per 25 Mei 2026.
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas Asia

Kesimpulan

Laporan terbaru Ciptadana menunjukkan pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan eksternal, terutama dari pelemahan rupiah dan arus keluar dana asing. Namun, valuasi IHSG yang sudah berada di level rendah historis mulai dianggap mencerminkan sebagian besar risiko pasar.

Investor juga perlu mencermati kualitas pertumbuhan laba emiten ke depan, terutama di tengah potensi kenaikan suku bunga dan tekanan biaya impor. Perbedaan dampak antar sektor dinilai akan semakin besar pada paruh kedua 2026.

FAQ

1. Kapan target IHSG terbaru Ciptadana berlaku?
Target 7.780 merupakan proyeksi akhir tahun 2026 dalam strategy report tertanggal 25 Mei 2026.

2. Mengapa rupiah menjadi perhatian pasar saham?
Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor, beban utang dolar AS, dan menekan margin laba sejumlah emiten.

3. Sektor apa yang dinilai diuntungkan?
Sektor berbasis ekspor seperti batu bara, mineral, dan perkebunan dinilai berpotensi mendapat manfaat dari pendapatan dolar AS.

4. Mengapa kualitas laba emiten menjadi sorotan?
Karena pertumbuhan laba kuartal I-2026 lebih banyak ditopang efisiensi biaya dibanding pertumbuhan pendapatan.

5. Berapa valuasi IHSG menurut Ciptadana?
IHSG diperdagangkan di sekitar 10 kali forward PE, level yang disebut jarang terjadi di luar periode krisis pasar.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.214,41

Up0,12%
Up1,32%
Up0,66%
Up7,18%
Up19,39%
Up14,10%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.169,65

Down- 0,31%
Up1,77%
Up1,25%
Up6,64%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.204,28

Up0,40%
Up2,19%
Up1,64%
Up7,49%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.036,68

Down- 1,17%
Up0,32%
Down- 1,04%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua