Telkom (TLKM) Pasang Target Tumbuh 2026, Transformasi TLKM 30, dan Estimasi Dividennya
Pendapatan TLKM turun 2,2% dan laba bersih anjlok 20,5% di 2025. Telkom pasang target low-to-mid single digit 2026 dengan bertaruh pada TLKM 30 dan spin-off InfraNexia Rp35,8 T.

Pendapatan TLKM turun 2,2% dan laba bersih anjlok 20,5% di 2025. Telkom pasang target low-to-mid single digit 2026 dengan bertaruh pada TLKM 30 dan spin-off InfraNexia Rp35,8 T.
Bareksa - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menetapkan target pertumbuhan pendapatan positif pada kisaran low-to-mid single digit untuk tahun 2026, setelah membukukan kinerja yang meleset dari target sepanjang 2025. Berdasarkan Laporan Tahunan 2025 yang diterbitkan 12 Mei 2026, pendapatan konsolidasi turun 2,2% menjadi Rp146,7 triliun, sementara laba bersih yang diatribusikan ke pemilik induk turun 20,5% menjadi Rp17,8 triliun. Telkom merupakan emiten sektor telekomunikasi digital dengan portofolio aset terbesar di Indonesia.
Penurunan kinerja 2025 dipicu oleh tekanan kompetisi industri seluler yang meningkat, penurunan jumlah pelanggan Telkomsel akibat rasionalisasi kartu perdana, serta konsolidasi kompetitor yang memperketat persaingan harga. Margin EBITDA tergerus dari 50% menjadi 49,2%, sedangkan EPS tercatat Rp179,83, turun dari Rp226,15 di 2024. Perseroan mengakui pencapaian pendapatan dan profitabilitas 2025 belum memenuhi target yang ditetapkan di awal tahun.
Untuk merespons tekanan tersebut, Telkom berupaya melakukan transformasi TLKM 30 yang mengarahkan Perseroan menjadi strategic holding sepenuhnya pada akhir 2027. Strategi ini dijalankan melalui empat pilar: Operational & Service Excellence, Streamlining (divestasi non-core), Unlock Value (monetisasi aset infrastruktur), dan Modus-Operandi Shift. Kerangka portofolio 2026–2028 difokuskan pada lima pilar bisnis: B2C, Digital Infrastructure, B2B ICT, International Business, dan segmen lain-lain.
Promo Terbaru di Bareksa
Spin-Off InfraNexia dan Target 2026
Aksi korporasi paling signifikan dalam agenda TLKM 30 adalah spin-off bisnis wholesale fiber connectivity ke entitas baru bernama InfraNexia (PT Telkom Infrastruktur Indonesia/TIF), dengan akta pemisahan ditandatangani Desember 2025. InfraNexia mengelola lebih dari 50% infrastruktur jaringan fiber Telkom—segmen access, aggregation, dan backbone—dengan nilai bisnis dan aset sekitar Rp35,8 triliun. Pemisahan ini ditujukan untuk memonetisasi aset infrastruktur melalui kemitraan strategis dan membuka partisipasi investor eksternal.
Dewan Komisaris mencermati bahwa keberhasilan transformasi sangat bergantung pada disiplin eksekusi portofolio dan penguatan kontribusi B2B ICT serta infrastruktur digital, untuk mengurangi ketergantungan pada segmen konsumer seluler yang semakin kompetitif. Target 2026 juga mencakup penurunan rasio utang terhadap EBITDA menuju 0,9 kali dari realisasi 1,04 kali di 2025, dengan belanja modal direncanakan 15–20% dari pendapatan.
Ringkasan Kinerja Keuangan Konsolidasian (Rp miliar)
Indikator | 2025 | 2024 | 2023 |
|---|---|---|---|
Total Pendapatan | 146.742 | 149.967 | 149.216 |
EBITDA | 72.240 | 75.029 | 77.579 |
Margin EBITDA | 49,2% | 50,0% | 52,0% |
Laba Bersih (Induk) | 17.814 | 22.403 | 23.186 |
EPS (Rp/saham) | 179,83 | 226,15 | 234,05 |
Total Aset | 287.759 | 291.389 | 280.002 |
Belanja Modal (Capex) | 24.577 | 24.449 | 32.968 |
Sumber: TLKM, diolah
Tabel Rasio Keuangan Konsolidasian
Rasio | 2025 | 2024 | 2023 |
|---|---|---|---|
ROE | 16,2% | 19,1% | 20,6% |
ROA | 8,5% | 10,1% | 11,0% |
Margin Usaha (Gross) | 23,6% | 27,6% | 28,6% |
Utang / EBITDA | 1,04x | 1,02x | 0,88x |
EBITDA / Beban Bunga | 13,88x | 14,41x | 16,68x |
Sumber: TLKM, diolah
Target TelkomGroup 2026
Indikator | Target 2026 | Realisasi 2025 |
|---|---|---|
Pertumbuhan Pendapatan | Low-to-mid single digit | -2,2% YoY |
Margin EBITDA | Terjaga level industri | 49,2% |
Belanja Modal (Capex) | ~15–20% pendapatan | 16,7% |
Rasio Utang / EBITDA | ~0,9x | 1,04x |
Transformasi Strategic Holding | Berlanjut (target selesai 2027) | Fase awal InfraNexia |
Sumber: TLKM, diolah
Riwayat Dividen TLKM — Kinerja 2020–2024
Tahun Buku | Dividen/Saham (Rp) | Total Dividen (Rp miliar) | Payout Ratio | Tanggal Bayar |
|---|---|---|---|---|
2020 | 168,01 | 16.643 | 80% | 2 Juli 2021 |
2021 | 149,97 | 14.856 | 60% | 30 Juni 2022 |
2022 | 167,59 | 16.603 | 80% | 5 Juli 2023 |
2023 | 178,50 | 17.683 | 72% | 29 Mei 2024 |
2024 | 212,47 | 21.047 | 89% | 19 Juni 2025 |
Sumber: TLKM, diolah
Dividen TLKM untuk kinerja tahun buku 2025 belum ditetapkan dan akan diputuskan melalui RUPST 2026. Berdasarkan pola historis payout ratio 60%–89% dan komitmen Perseroan memenuhi target dividen kepada pemegang saham mayoritas Pemerintah RI (52,09%), base case analisis memproyeksikan payout sekitar 80% atau setara Rp143–144 per saham (total ~Rp14,25 triliun) dengan estimasi yield 4,6%, dihitung dari harga saham Rp3.100 per 20 Mei 2026.
Angka ini turun dari Rp212,47 per saham di tahun buku 2024 semata karena laba bersih menyusut 20,5%, bukan karena kebijakan payout yang dipangkas. Rentang keseluruhan skenario berkisar Rp108–160 per saham (yield 3,5%–5,2%).
Kesimpulan
Laporan Tahunan 2025 PT Telkom Indonesia memperlihatkan tekanan kinerja, pendapatan dan laba bersih sama-sama turun, dan target awal tahun tidak terpenuhi. Investor perlu mencermati apakah target low-to-mid single digit 2026 realistis dicapai mengingat kondisi industri seluler yang belum membaik dan transformasi strategic holding yang masih dalam proses.
Progres eksekusi InfraNexia, pemulihan margin, dan penurunan rasio utang/EBITDA menuju 0,9 kali menjadi tiga indikator kunci yang layak dipantau sebagai tolok ukur keberhasilan transformasi TLKM 30.
FAQ
1. Mengapa kinerja Telkom 2025 turun?
Pendapatan turun 2,2% dan laba bersih turun 20,5% akibat tekanan kompetisi industri seluler, penurunan pelanggan Telkomsel, dan konsolidasi kompetitor. Perseroan mengakui pencapaian 2025 belum memenuhi target awal tahun.
2. Berapa target pertumbuhan Telkom 2026?
Pertumbuhan pendapatan positif pada kisaran low-to-mid single digit, dengan margin EBITDA terjaga, capex 15–20% dari pendapatan, dan rasio utang/EBITDA ditargetkan turun ke ~0,9 kali.
3. Apa itu TLKM 30 dan InfraNexia?
TLKM 30 adalah kerangka transformasi 5 tahun (2025–2030) menuju strategic holding yang ditargetkan selesai akhir 2027. InfraNexia adalah entitas spin-off wholesale fiber Telkom senilai Rp35,8 triliun yang diharapkan membuka nilai aset infrastruktur melalui kemitraan dan partisipasi investor.
4. Bagaimana riwayat dividen TLKM?
Dalam lima tahun terakhir (kinerja 2020–2024), payout ratio berkisar 60%–89%. Dividen terakhir untuk kinerja 2024 sebesar Rp212,47 per saham (payout 89%, dibayar 19 Juni 2025). Dividen kinerja tahun buku 2025 belum ditetapkan.
5. Apa bisnis utama PT Telkom Indonesia?
Telkom bergerak di telekomunikasi digital: B2C (seluler Telkomsel, IndiHome broadband), infrastruktur digital (data center NeutraDC, tower Mitratel, fiber InfraNexia), B2B ICT (Sigma, TelkomMetra), dan bisnis internasional (Telin, beroperasi di 14 negara).
Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik
adalah Managing Editor Bareksa dengan
pengalaman lebih dari 20 tahun di
jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis
pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta
merupakan peraih
beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.212,65 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.169,48 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.203,73 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.037,49 | - | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
