Pasar Saham & Obligasi Cemerlang, Robo Advisor Bareksa Kinclong

Dua pekan terakhir, pasar saham dan obligasi mengalami pembalikan arah setelah sebelumnya turun cukup dalam
Abdul Malik • 31 May 2022
cover

Ilustrasi kinerja Robo Advisor Bareksa yang kinclong seiring cemerlangnya kinerja pasar saham dan obligasi. (Shutterstock)

Bareksa.com - Dalam 2 pekan terakhir, pasar saham nasional yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah bulan ini di kisaran 6.500. Senada, pasar obligasi juga mengalami pembalikan arah, ditandai dengan penguatan imbal hasil (yield) acuan obligasi dari kisaran 7,4 - 7,5 persen ke level 7 - 7,1 persen saat ini. 

Penguatan pasar saham dan obligasi utamanya ditopang sejumlah data makro ekonomi Indonesia yang melanjutkan penguatan, ditandai dengan rendahnya angka inflasi, suku bunga acuan Bank Indonesia bertahan di 3,5 persen, surplus neraca perdagangan, serta kurs rupiah stabil di kisaran Rp14.500 per dolar AS.

Menurut analisis Bareksa, investor bisa memanfaatkan momentum penurunan saham dan obligasi untuk melakukan aksi beli. Sebab optimisme pemulihan ekonomi RI dapat mendorong kinerja pasar keuangan Indonesia dan turut menopang kinerja reksadana basis saham maupun reksadana pendapatan tetap.

Baca juga : Pasar Saham Amblas 8,72 Persen Sepekan, Robo Advisor Bareksa Terapkan Strategi Ini

Hingga akhir tahun, ekonomi Indonesia diproyeksikan masih akan bertumbuh dan menjadi salah satu penopang terkuat kinerja saham dan obligasi Indonesia. Sehingga, jika pasar keuangan kembali terkoreksi atau menurun, maka investor dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk akumulasi bertahap di reksadana ataupun Robo Advisor Bareksa.

Cemerlangnya kinerja pasar saham dan obligasi, mendorong kinerja Robo Advisor Bareksa jadi kinclong di semua profil risiko. Produk default yang dipilih Robo Advisor Bareksa juga masih sesuai dengan kondisi pasar.

Untuk produk reksadana saham di Robo Advisor Bareksa, diseleksi yang berbasis sektor energi serta saham berkapitalisasi besar (big caps). Sementara reksadana pendapatan tetap dipilih yang berbasis obligasi korporasi, mempertimbangkan fluktuasi pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang diperkirakan masih cukup tinggi menjelang rilis tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Juni mendatang. 

Baca : Suku Bunga Dolar AS akan Naik Lebih Agresif, Begini Strategi Robo Advisor Bareksa

Robo Advisor Bareksa adalah

Robo Advisor Bareksa adalah robo advisor pertama di Indonesia yang mendapatkan lisensi sebagai penasihat investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI. Izin ini dituangkan dalam Keputusan Dewan Komisioner OJK No. KEP-17/D.04/2021 tentang Pemberian Izin Usaha Penasihat Investasi Kepada PT Bareksa Portal Investasi tertanggal 20 April 2021.

Robo advisor adalah konsultan finansial yang memberikan saran investasi digital dan mengelola portofolio investasi investor dengan menggunakan algoritma khusus yang dibangun dengan teknologi terdepan. Robo advisor juga merupakan salah satu fasilitas yang sering digunakan dalam dunia investasi terutama di Amerika Serikat. Namun kini Bareksa telah menghadirkan robo advisor pertama yang berlisensi OJK. 

Keunggulan robo advisor yang dikembangkan Bareksa, ialah fitur ini menyediakan layanan perencanaan investasi otomatis, didukung oleh algoritma teori portofolio modern dan juga pengawasan manusia. Dengan pengawasan manusia inilah membuat Robo Advisor Bareksa bekerja sesuai dengan kondisi pasar terkini. 

Baca : Begini Jeroan Mandiri Investa Dana Utama, Reksadana Pendapatan Tetap Pilihan Robo Advisor Bareksa

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.