BeritaArrow iconReksa DanaArrow iconArtikel

Jadi Manajer Investasi Terbesar Ketiga di Tanah Air, Begini Target Sucor AM di 2023

Abdul Malik25 Oktober 2022
Tags:
Jadi Manajer Investasi Terbesar Ketiga di Tanah Air, Begini Target Sucor AM di 2023
Presiden Direktur Sucorinvest Asset Management, Jemmy Paul Wawointana (depan) bersama para karyawan Sucor AM bergembira karena memborong banyak penghargaan dari Bareksa-Kontan-OVO 4th Fund Awards 2020. (Video Sucor AM/Bareksa/AM)

Sepanjang tahun berjalan hingga September 2022, Sucor AM berhasil meraup tambahan dana kelolaan Rp12,16 triliun atau melesat 47%

Bareksa.com - PT Sucor Asset Management bagaikan “kuda hitam” yang berlari kencang menerobos di tengah persaingan perusahaan manajemen investasi (MI) papan atas di industri reksadana Tanah Air. Hal ini dibuktikan perusahaan yang sudah didirikan sejak 1997 itu berhasil menempati jajaran top 3 perusahaan manajemen investasi (MI) dengan dana kelolaan reksadana terbesar sejak Juli 2022 hingga saat ini.

Padahal pada Desember 2021, perusahaan yang memiliki misi jadi manajer investasi ritel terbesar di Indonesia tersebut masih berada di posisi 9 besar dan Desember 2020 di peringkat 13 besar. Menurut catatan Bareksa, dana kelolaan reksadana Sucor AM pada September 2022 sekitar Rp38,39 triliun, dengan rincian reksadana rupiah Rp38,33 triliun dan reksadana dalam dolar Amerika Serikat (AS) senilai US$3,74 juta.

Dana kelolaan reksadana rupiah Sucor AM melesat dari Desember 2021 yang hanya Rp26,17 triliun dan September 2021 yang senilai Rp20,64 triliun. Artinya sepanjang tahun berjalan hingga September 2022, Sucor AM berhasil meraup tambahan dana kelolaan Rp12,16 triliun atau melesat 47% dan setahun terakhir berhasil menggalang tambahan dana investor Rp17,69 triliun atau meroket 86%.

Promo Terbaru di Bareksa

Illustration

Sumber : Bareksa

Lonjakan dana kelolaan berhasil dicatatkan Sucor AM di tengah industri yang masih tertekan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, dana kelolaan industri reksadana pada September 2022 senilai Rp533,9 triliun, turun 2% atau berkurang Rp11 triliun dibandingkan Agustus yang senilai Rp544,8 triliun. Dana kelolaan industri reksadana pada September 2022 juga kehilangan Rp46 triliun atau anjlok 7,9% dari Desember 2022 yang senilai Rp579,9 triliun.

Setahun terakhir, atau dibandingkan September 2021 yang senilai Rp551,7 triliun, dana kelolaan industri reksadana pada September 2022 juga juga berkurang Rp17,8 triliun.

Seiring positifnya tren dana kelolaan Sucor AM yang berbanding terbalik dengan penurunan industri, kira-kira apa strategi perusahaan dalam menggenjot kinerja. Ulasan selengkapnya berikut wawancara Abdul Malik dari Bareksa dengan Presiden Direktur Sucor AM, Jemmy Paul Wawointana, beberapa waktu lalu.

Setelah berhasil jadi manajer investasi terbesar ketiga di Indonesia, kira-kira apa target perusahaan di masa mendatang?

Kami sangat berterima kasih terhadap kepercayaan nasabah terhadap Sucor Asset Management hingga dapat mencapai posisi top 3 manajer investasi dengan dana kelolaan reksadana terbesar di Indonesia. Tentunya, kami akan terus berusaha untuk dapat menyediakan layanan dan produk yang relevan bagi kebutuhan investasi nasabah seiring waktu dan bertumbuh bersama dalam pengembangan portofolio investasi nasabah. Kami tidak pernah membidik posisi puncak, hanya menargetkan penambahan AUM setiap tahunnya 5% dalam jangka waktu panjang dengan terus menghadirkan berbagai pilihan produk terbaik di setiap kelas asetnya di Indonesia.

Hingga akhir 2022, berapa target dana kelolaan reksadana perseroan? Bagaimana gambaran target kinerja di 2023 dan kira-kira akan ditopang apa?

Kenaikan dana kelolaan sepanjang tahun ini tidak lepas dari kepercayaan nasabah terhadap pengelolaan produk reksadana oleh Sucor AM. Peningkatan yang signifikan tersebut telah sesuai dengan rencana kerja perseroan dan merupakan kebanggaan kami untuk dapat mendominasi pangsa pasar di industri reksadana dengan 17 produk reksadana berkualitas.

Meskipun tantangan di pasar tidak surut, namun kami optimistis bahwa dana kelolaan tahun 2022 dapat ditutup di Rp40 triliun dan pada 2023 dapat naik hingga menjadi Rp45 triliun dengan segala potensi yang ada di pasar, khususnya didorong oleh digitalisasi, literasi dan inklusi keuangan di masyarakat Indonesia yang semakin membaik.

Salah satu produk reksadana Sucor AM yang meroket adalah Sucorinvest Stable Fund yang memiliki dana kelolaan Rp15,78 triliun per Agustus 2022. Berapa target dana kelolaan dan unit penyertaan Sucorinvest Stable Fund?

Saat ini, Sucorinvest Stable Fund (SSF) memiliki kapasitas unit penyertaan 25 miliar unit dengan jumlah dana kelolaan Rp15,79 triliun (per Agustus 2022). Jumlah ini telah melalui dua kali proses pengajuan penambahan kuota unit setelah sebelumnya hanya berjumlah 10 miliar unit di awal penerbitan pada 21 Januari 2020. Tentunya inovasi produk di masa mendatang akan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan investasi dari nasabah.

Tingginya permintaan untuk Sucorinvest Stable Fund (SSF) juga telah melahirkan produk seperti Sucorinvest Sharia Sukuk Fund (SSSF) yang diterbitkan sebagai produk reksadana berbasis sukuk, dengan imbal hasil yang cenderung lebih tinggi dari instrumen pasar uang, namun sesuai dengan prinsip syariah untuk nasabah yang memiliki kebutuhan khusus dalam berinvestasi.

Dana kelolaan Sucorinvest Stable Fund menyumbang lebih dari 40% terhadap total dana kelolaan Sucor AM. Jika digabung dengan Sucorinvest Money Market, keduanya menyumbang hampir 70%. Apakah perseroan tidak berniat untuk memeratakan dana kelolaan, sehingga tidak terpusat di Sucorinvest Stable Fund dan Sucorinvest Money Market Fund?

Kami berkomitmen untuk dapat membesarkan seluruh produk reksadana Sucor AM dalam beberapa tahun mendatang, seiring dengan pertumbuhan dana kelolaan industri dan optimisme pasar dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hingga saat ini kami memiliki 17 produk reksadana open-end dan 44 reksadana terproteksi dengan total 3 produk baru di akhir tahun lalu yaitu Sucorinvest Monthly Income Fund (SMIF), Sucorinvest Sustainability Equity Fund (SSEF) dan Sucorinvest Sharia Sukuk Fund (SSSF). Selain itu, terdapat beberapa reksadana yang sebelumnya hanya kami pasarkan melalui sales internal menjadi lebih terbuka untuk publik dengan pemasaran melalui APERD seperti Sucorinvest Premium Fund (SPF).

Harapannya pada 2023 kami dapat menerbitkan beberapa inovasi produk baru seperti reksadana indeks dan reksadana offshore (berbasis aset luar negeri), maupun produk lainnya yang relevan dengan kebutuhan investasi nasabah nantinya.

Hingga saat ini berapa jumlah investor, baik institusi dan ritel Sucor AM, dan berapa target jumlah investor Sucor AM tahun ini dan 2023?

Saat ini jumlah investor Sucor AM mencapai di atas 1.1 juta investor, dan sekitar 61% dana kelolaan dikontribusikan dari investor ritel. Jumlah ini naik dari tahun sebelumnya yang berkisar 800.000 investor. Demografi mencatatkan usia rata-rata investor cukup muda sebesar 71,09% di bawah usia 30 tahun dan 19,81% di rentang usia 31 - 40 tahun yang selaras dengan data industri KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia).

Kami optimistis pertumbuhan jumlah investor tahun ini dapat mencapai 1.2 juta investor dan di tahun 2023 dapat bertumbuh sesuai CAGR (pertumbuhan rata-rata tahunan) sebelumnya, hingga 100.000 investor baru. Strateginya dengan pengenalan produk yang lebih merata dengan berbagai distribution channels baik secara online melalui media sosial dan APERD seperti Bareksa, hingga offline events yang dapat dilakukan pasca normalisasi pandemi dalam menjangkau nasabah lebih luas terutama ritel.

Inovasi-inovasi atau terobosan apa yang akan dilakukan perusahaan sepanjang tahun ini dan tahun depan?

Sepanjang tahun ini kami telah banyak melakukan inovasi produk baru untuk memenuhi kebutuhan investasi nasabah yang cukup beragam, seperti fitur pembagian hasil investasi melalui “PHI/dividen” reksadana di waktu tertentu yang ditentukan dalam produk Sucorinvest Monthly Income Fund (SMIF).

Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap investasi yang pro lingkungan dan lebih berkelanjutan telah mendorong kami untuk membuat produk Sucorinvest Sustainability Equity Fund (SUSEF) yang berfokus pada investasi di perusahaan yang mengutamakan nilai Environment, Social, dan Government (ESG) dalam aktivitas bisnisnya, dan pada Sucorinvest Sharia Sukuk Fund (SSSF) yang dapat memberikan potensi imbal hasil lebih tinggi melalui sukuk korporasi dibandingkan produk reksadana pasar uang dengan prinsip syariah.

Kami berkomitmen untuk melakukan inovasi guna memenuhi kebutuhan investasi yang mendasar seperti reksadana indeks yang juga merupakan produk yang sudah cukup lama diminati nasabah, karena cenderung mengikuti indeks dalam pengelolaannya guna meminimalisir risiko volatilitas, namun tetap memberikan imbal hasil yang terukur.

Selain itu, reksadana berbasis offshore assets juga masih kami targetkan untuk segera direalisasikan untuk kebutuhan nasabah yang ingin melakukan investasi aset luar negeri melalui manajer investasi Sucor Asset

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Capital Fixed Income Fund

1.775,36

Up0,54%
Up3,36%
Up0,03%
Up6,74%
Up17,31%
Up44,99%

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.326,18

Up0,93%
Up4,25%
Up0,03%
Up5,89%
Up18,89%
-

STAR Stable Income Fund

1.925,85

Up0,48%
Up2,96%
Up0,02%
Up6,01%
Up29,39%
Up64,87%

I-Hajj Syariah Fund

4.822,06

Up0,51%
Up3,05%
Up0,02%
Up6,14%
Up21,89%
Up40,51%

Reksa Dana Syariah Syailendra OVO Bareksa Tunai Likuid

1.140,38

Up0,49%
Up2,80%
Up0,02%
Up4,93%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua