Imbal Hasil SBN Naik, Apa Strategi Investasi Reksadana Pendapatan Tetap?

Investor dapat mulai melakukan pembelian bertahap untuk menangkap potensi rebound
Hanum Kusuma Dewi • 18 May 2022
cover

Ilustrasi investasi dan kaitannya dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang digambarkan dengan tumpukan uang koin dilihat menggunakan kaca pembesar. Inflasi positif bagi investasi reksadana saham dan obligasi. (Shutterstock)

Bareksa.com - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) mengalami peningkatan dalam sejak akhir bulan lalu. Kenaikan yield yang menekan harga obligasi membuat kinerja reksadana pendapatan tetap berbasis SBN juga turun, sehingga investor perlu mengambil strategi investasi reksadana. 

Saat ini, yield SBN bertenor 10 tahun mengalami kenaikan dan bertengger di level 7,52 persen, melonjak dari level 7,0 di akhir April 2022. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. 

Pertama, terjadi pelemahan nilai tukar Rupiah yang cenderung membuat investor asing melepas kepemilikan SBN. Kedua, isu kenaikan suku bunga Dolar AS yang lebih cepat daripada harapan pasar untuk meredam laju inflasi memberikan tekanan terhadap pemerintah agar menerbitkan SBN dengan kupon yang lebih tinggi.

Meskipun yield SBN naik, inflasi Indonesia masih terjaga sehingga obligasi pemerintah masih tetap atraktif untuk investasi. 

Tim Analis Bareksa melihat bahwa yield SBN masih bakal terus bergerak naik hingga 15 Juni 2022 mendatang pada saat pengumuman hasil rapat Bank Sentral Amerika. Namun, berdasarkan data historis, setiap kali yield obligasi pemerintah Indonesia menyentuh 8 persen, ada kecenderungan terjadi pembalikan arah. 

Dampaknya, ketika yield kembali turun, nantinya akan membuat Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap memiliki kinerja positif kembali. 

Baca juga Pasar Saham Turbulensi Hebat Sepekan, Ini Top 10 Reksadana yang Bertahan Cuan

Apa yang dapat dilakukan investor? 

Investor moderat hingga konservatif dapat mencicil pembelian reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah saat yield masih di kisaran 7,8 persen, agar tidak melewatkan potensi rebound tersebut. 

Berikut daftar reksadana pendapatan tetap yang isi portofolionya mayoritas adalah obligasi pemerintah.

No

Reksa Dana Pendapatan Tetap

Return 3 Tahun (%)

Barometer

1

Eastspring IDR Fixed Income Fund Kelas A

20.90

4.00

2

Allianz Fixed Income Fund 2

18.28

4.00

3

BNP Paribas Prima II Kelas RK1

18.79

4.00

4

Mandiri Investa Dana Obligasi Seri II

19.50

3.63

5

Avrist Prime Bond Fund

16.47

3.75

6

Kehati Lestari Kelas G

18.28

3.75

7

Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A

22.87

3.75

8

TRAM Strategic Plus

20.61

3.75

9

Majoris Obligasi Utama Indonesia

16.19

3.75

10

Capital Fixed Income Fund

25.12

4.13

11

Syailendra Fixed Income Fund

19.28

3.88

12

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

23.46

3.88

13

Bahana Mes Syariah Fund Kelas G

23.55

3.88

14

Eastspring Investments IDR High Grade Kelas A

20.90

3.55

Sumber: Bareksa Research Team, data Return per 12 Mei 2022

Baca juga Promo Bareksa OVO Ekstra Bantuin, Beli Reksadana Raih Cashback hingga Rp75 Ribu

(Ariyanto Dipo Sucahyo/Sigma Kinasih/hm)

* * * 

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.