Pasar Obligasi Bergejolak, Ini Strategi Reksadana Fixed Income Manulife AM

Potensi pasar obligasi bisa berdampak positif bagi reksadana pendapatan tetap
Hanum Kusuma Dewi • 26 Jan 2022
cover

Ilustrasi kebijakan quantitative easing (QE) dan tapering Bank Sentral AS (The Fed) yang berpengaruh pada pasar keuangan global termasuk Indonesia, sehingga berpengaruh terhadap kinerja SBN dan reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pasar obligasi global kembali bergejolak akibat kenaikan imbal hasil surat utang negara Amerika Serikat US Treasury. Dampaknya, kinerja reksadana pendapatan tetap bisa tertekan, tetapi manajer investasi punya strategi untuk mengelolanya. 

Menurut Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, kenaikan imbal hasil US Treasury  hingga mencapai 1,70 persen disebabkan normalisasi pertumbuhan ekonomi dan normalisasi kebijakan moneter yang menjadi tema utama pasar global di tahun ini. 

"Kenaikan masif pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat di 2021 yang disertai oleh kenaikan inflasi mendorong bank sentralnya (The Fed) untuk melakukan penyesuaian kebijakan moneter. Arah kebijakan The Fed terlihat semakin hawkish, mempercepat laju tapering menjadi US$30 miliar per bulan (US$20 miliar US Treasury dan US$10 miliar Agency Mortgage-Backed Securities) dari sebelumnya hanya US$15 miliar per bulan," jelas Syuhada dalam ulasan Seeking Alpha yang disampaikan kepada Bareksa, 26 Januari 2021. 

Selain itu, menurut Syuhada, risalah rapat The Fed yang mengindikasikan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan sampai tiga kali di tahun ini sudah diantisipasi oleh pasar. Komunikasi dari bank sentral sangat krusial di tengah dinamika pandemi dan normalisasi ekonomi. 

"Sinyal dovish akan dianggap kurang peka terhadap kondisi yang ada, sementara sinyal yang terlalu hawkish dapat memberikan sentimen negatif bagi pemulihan ekonomi dan pasar finansial. Keseimbangan akan menjadi kunci," ujarnya. 

Kabar baiknya, berkaca pada turbulensi yang terjadi di tahun 2013 saat The Fed mengumumkan pengurangan program kuantitatif, perekonomian Indonesia kini dapat bertahan. 

Indikator stabilitas makroekonomi seperti suku bunga riil, inflasi, neraca transaksi berjalan dan cadangan devisa menunjukkan perbaikan yang sangat berarti sehingga kondisi ini dapat membuat Indonesia menjadi lebih kuat dalam menghadapi normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat. 

Selama proses normalisasi dikomunikasikan dengan baik, berjalan sesuai rencana dan kenaikan imbal hasil US Treasury terjadi secara bertahap maka Indonesia terlihat siap dalam menghadapi normalisasi ini.

Baca juga The Fed Bikin Pasar Saham Ambrol dan Obligasi Bervariasi, Reksadana Ini Juara Cuan

Potensi Pasar Obligasi

Syuhada memandang secara teori, dalam periode siklus kenaikan suku bunga, kelas aset obligasi akan menghadapi lebih banyak tantangan, sesuai dengan prinsip bahwa suku bunga dan harga obligasi berbanding terbalik. 

Namun yang perlu dicermati adalah fundamental makro ekonomi Indonesia sangat baik dan lebih siap dalam menghadapi potensi kenaikan suku bunga didukung oleh beberapa hal:

1.    Berkurangnya target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di 2022 menjadi Rp991,3 triliun.

2.    Pemulihan ekonomi dan rencana pemerintah untuk menekan defisit anggaran di bawah 3 persen di 2023 berpotensi mengurangi tekanan pembiayaan dan penerbitan SBN ke depannya. Sejauh ini pemulihan ekonomi berdampak positif terhadap penerimaan negara, di mana pada 2021 penerimaan pajak – untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun – melebihi target APBN sebesar 14,9 persen.

3.    Rendahnya kepemilikan asing – sudah turun ke level 19 persen vs 37 persen di 2018, saat terjadi juga kenaikan suku bunga – dapat mengurangi risiko foreign portfolio outflow ketika kondisi sentimen global memburuk.

4.    Berlanjutnya skema burden sharing antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang dapat mengurangi tekanan pembiayaan di pasar perdana. Selama tahun 2021 Bank Indonesia melakukan pembelian SBN melalui mekanisme burden sharing sebesar Rp358,3 triliun.

5.    Pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp269,2 triliun – lebih besar dari rata-rata SAL dalam 10 tahun terakhir di Rp146,3 triliun – dapat digunakan untuk menutupi kekurangan dalam pembiayaan di 2022.

Di samping potensi pasar obligasi denominasi rupiah, obligasi denominasi dolar juga memiliki potensi. Secara historis meskipun obligasi denominasi dolar lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan imbal hasil US Treasury, beberapa katalis obligasi rupiah yang telah disampaikan sebelumnya juga berdampak positif pada obligasi dolar. 

Rendahnya rencana penerbitan obligasi dolar yang hanya sekitar 11 - 14 persen dari total penerbitan SBN dapat mengurangi jumlah pasokan di pasar. Di samping itu, obligasi dolar juga didorong oleh mulai stabilnya pergerakan credit default swap Indonesia tenor lima tahun yang berada <80 basis poin, lebih rendah dibandingkan rerata dalam 3 bulan terakhir di 81,15 basis poin.

Baca juga SBN Diburu Investor, Reksadana Pendapatan Tetap Juara Cuan Tertinggi

Risiko Pasar Obligasi

Perkembangan Covid varian baru pandemi dan efektivitas vaksin, komunikasi pemerintah dan bank sentral akan perubahan kebijakan moneter dan fiskal – besaran dan kecepatannya – serta volatilitas pergerakan imbal hasil US Treasury adalah beberapa faktor risiko utama yang perlu dicermati ke depannya. 

Kualitas rilis data ekonomi dalam beberapa bulan mendatang akan mempengaruhi bagaimana normalisasi kebijakan moneter global akan dilakukan. Terutama untuk domestik, percepatan pertumbuhan ekonomi yang dapat berdampak pada laju pertumbuhan kredit menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati mengingat selama ini bank menjadi pembeli mayoritas SBN.

Strategi Portofolio Reksadana Pendapatan Tetap

Menyikapi tahun 2022 yang sangat dinamis, Manulife AM memiliki strategi portofolio guna menghasilkan alpha pada kinerja portofolio reksadana

Pengelolaan akan didasari pada pendekatan top-down, yaitu analisa makro ekonomi global dan domestik dan kekuatan analisis bottom-up, untuk pembentukan portofolio yang optimal. Strategi investasi akan memperhatikan beberapa aspek:

§  Duration management

Mengedepankan pengelolaan aktif dan stabilitas kinerja, di mana durasi portofolio akan sangat dinamis. Overweight atau Underweight terhadap tolok ukur, bergantung dari outlook dan view terhadap prospek pasar.

§  Security selection

Mengurangi porsi off the run series guna menjaga likuiditas dan imbal hasil optimal.

§  Yield enhancement

Memaksimalkan potensi imbal hasil pada porsi kas portofolio dengan penempatan pada obligasi korporasi pasar uang dengan credit worthiness yang kuat dan terpercaya

"Di samping itu kami juga terus mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali," tutup Syuhada. 

Baca juga Ini Top 10 MI Juara Pertumbuhan Dana Kelolaan Reksadana Sepanjang 2021

(hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini}
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.