Kenaikan Imbal Hasil SBN Terbatas, Reksadana Pendapatan Tetap Menarik

Real yield obligasi negara Indonesia masih tinggi dibandingkan negara lain yang negatif
Hanum Kusuma Dewi • 06 Apr 2021
cover

Ilustrasi investor memantau perkembangan investasinya di obligasi korporasi maupun SBN termasuk SBN Ritel. (Shutterstock)

Bareksa.com - Kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia seri acuan diperkirakan akan terbatas, karena valuasinya terbilang sudah murah. Ini menjadi potensi bagi reksadana pendapatan tetap yang mayoritas asetnya adalah obligasi negara atau SBN. 

Head of Fixed Income Sucor Asset Management Dimas Yusuf menjelaskan bahwa pasar SBN Indonesia sudah tertekan akibat melemahnya surat utang negara AS (US Treasury). Namun, pelemahan yang terjadi pada SBN Indonesia tenor 10 tahun yang merupakan seri acuan tidak sebesar pada US Treasury. 

"Ini menunjukkan pasar SBN Indonesia memiliki fundamental yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Premium risk atau selisih dengan US Treasury juga semakin baik," ujar Dimas dalam market update bersama sejumlah APERD, 6 April 2021. 

Sebagai informasi, yield obligasi berkebalikan dengan harga obligasi di pasar. Sehingga, kenaikan yield menunjukkan harga yang turun dan begitu pula sebaliknya. Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh negara atau korporasi. 

Grafik Pergerakan Yield SBN Tenor 10 Tahun

Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah Bareksa.com

Menurut data Bursa Efek Indonesia yang dikompilasi Bareksa, yield SBN tenor 10 tahun per 31 Maret ada di level 6,81 persen. Imbal hasil SBN 10 tahun ini naik dibandingkan dengan angka sebulan sebelumnya, di kisaran 6,5 persen. 

Dimas melanjutkan, yield SBN 10 tahun diperkirakan tidak akan melampaui 7 persen, sebab valuasinya terbilang sudah murah dan bisa menarik investor institusi besar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan investor asing. Dengan posisi investor asing yang saat ini sekitar 22 persen, ada kemungkinan mereka bisa kembali masuk di pasar SBN, maka pergerakan yield akan terbatas. 

Selain itu, berkaitan dengan pasokan SBN yang diterbitkan pemerintah melalui lelang, Dimas menilai pemerintah membatasi biaya dana (cost of fund). Hal ini terlihat dalam beberapa lelang terakhir, bila penawaran yield terlalu tinggi, pemerintah akan membatasi jumlah yang dimenangkan dalam lelang. 

Kemudian, memasuki kuartal kedua 2021, inflasi Indonesia masih terbilang cukup rendah dan inflasi tahunan diperkirakan ada di kisaran 3 persen. Sementara itu, imbal hasil yang ditawarkan SBN tenor 10 tahun cukup tinggi di 6,8 persen saat ini sehingga ada selisih (real yield) dengan inflasi sekitar 3 persen. 

"Real yield SBN Indonesia juga menarik. Bila dibandingkan dengan obligasi negara lain, real yield di kisaran 3 persen cukup menarik sementara negara lain banyak yang negatif," ujar Dimas. 

Melihat faktor-faktor di atas, bisa dibilang pergerakan pasar obligasi Indonesia berpotensi untuk positif ke depannya. Sehingga, bisa mendorong kinerja reksadana pendapatan tetap yang mayoritas asetnya adalah obligasi atau SBN. 

Reksadana adalah kumpulan dana masyarakat investor yang dikelola oleh manajer investasi untuk diinvestasikan dalam aset-aset keuangan seperti saham, obligasi dan pasar uang. Reksadana adalah investasi resmi yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini 

- Beli reksadana, klik tautan ini 

- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store

- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore 

- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.