The Fed Bikin Pasar Saham Ambrol dan Obligasi Bervariasi, Reksadana Ini Juara Cuan

Kemarin, IHSG ambrol 1,31 persen ke level 6.568,17 dan kinerja pasar obligasi menunjukkan hasil beragam
Abdul Malik • 26 Jan 2022
cover

Ilustrasi kinerja reksadana pendapatan tetap yang terus bertumbuh di tengah gejolak pasar saham dan obligasi. (Shutterstock)

Bareksa.com - Mengakhiri perdagangan Selasa (25/1/2022), pasar saham Indonesia mengalami gejolak cukup hebat hingga nyaris turun 2 persen, namun akhirnya mampu dipangkas di akhir perdagangan meskipun tetap saja tergolong cukup dalam.

Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol 1,31 persen ke level 6.568,17. Aktivitas perdagangan tergolong normal dengan nilai transaksi Rp13,27 triliun, namun investor asing terlihat lebih dominan menambah kepemilikan saham mereka dengan catatan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp36,61 miliar di pasar reguler.

Di sisi lain, kinerja pasar obligasi justru menunjukkan hasil yang beragam. Sikap investor di pasar obligasi pemerintah kembali bervariasi, di mana pada SBN bertenor 1 tahun, 10 tahun, 20 tahun, dan 25 tahun ramai diburu oleh investor, ditandai oleh menguatnya harga dan turunnya imbal hasil (yield).

Sebaliknya, SBN dengan jatuh tempo 3 tahun, 5 tahun, 15 tahun, dan 30 tahun cenderung dilepas oleh investor. Hal ini ditandai oleh melemahnya harga dan kenaikan yield. Melansir data dari Refinitiv, yield SBN bertenor 1 tahun masih menjadi yang paling besar penurunannya pada perdagangan kemarin, yakni turun signifikan sebesar 16 basis poin (bp) ke level 2,925 persen.

Sedangkan yield SBN berjatuh tempo 3 tahun menjadi yang paling besar kenaikannya pada perdagangan kemarin, yakni naik 4,2 bp ke level 3,52 persen. Sementara untuk yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara kembali turun 1 bp ke level 6,408 persen.

Sebagai informasi, yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya.

Kemarin, investor cenderung berfokus pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee) bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed). Rapat FOMC akan dimulai pada hari Selasa hingga Rabu waktu Amerika Serikat (AS).

Pada Rabu siang waktu AS, The Fed akan mengumumkan kebijakan moneter terbarunya. Investor memperkirakan bahwa Bank Sentral Negeri Paman Sam masih akan mempertahankan suku bunga acuannya setidaknya hingga Februari mendatang dan mulai menaikan suku bunga acuannya pada Maret.

Namun di pasar saham Asia dan dalam negeri kembali berjatuhan pada perdagangan kemarin, karena investor cenderung menahan kembali selera risikonya menjelang rapat pertemuan The Fed.

Selain itu, investor juga berfokus pada perkembangan pandemi Covid-19 di Tanah Air, di mana kasus infeksi harian Covid-19 meningkat lebih dari 17x sejak awal tahun. Per 25 Januari angka kasus harian Covid-19 Indonesia tercatat 4.878 orang.

Biang keladi kenaikan kasus harian Covid-19 Indonesia adalah Omicron. Hingga saat ini secara kumulatif, ada 1.665 kasus konfirmasi Omicron ditemukan di Indonesia.

Kecemasan investor adalah pemerintah akan kembali menarik rem darurat sewaktu-waktu jika kasus Covid-19 meledak dan menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko seperti saham.

Reksadana Pendapatan Tetap Dominasi Return Harian

Kondisi pasar saham yang terkoreksi serta pasar obligasi yang beragam, secara umum turut membuat kinerja reksadana berbasis kedua aset tersebut mengalami pergerakan yang serupa dengan acuannya.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham anjlok 1,41 persen, sementara indeks reksadana pendapatan tetap terkoreksi tipis -0,03 persen.

Sumber: Bareksa

Kemudian secara lebih rinci, produk reksadana pendapatan tetap terlihat mampu mendominasi kinerja positif pada perdagangan kemarin.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan top 10 imbal hasil (return) harian pada perdagangan kemarin, 6 di antaranya ditempati oleh produk reksadana pendapatan tetap, sementara 4 lainnya merupakan produk reksadana campuran dan reksadana pasar uang dengan masing-masing 2 produk.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana pendapatan tetap adalah suatu portofolio investasi yang berisi surat utang (obligasi) dan produk pasar uang. Portofolio reksadana pendapatan tetap harus terdiri dari surat utang minimal 80 persen dari portofolionya dan sisanya adalah produk pasar uang.

Pergerakan reksadana jenis ini cenderung lebih stabil dengan risiko yang lebih tinggi dari reksadana pasar uang namun lebih rendah dari reksadana saham. Oleh karena itu, reksadana pendapatan tetap ini cocok untuk investor dengan profil risiko rendah - moderat dan untuk investasi jangka menengah (1-3 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini}
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.