IHSG Semakin Dekati Rekor All Time High, Apa yang Harus Dilakukan Investor Reksadana?

Lonjakan IHSG ditopang derasnya aliran dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia hingga Rp22,6 triliun sebulan terakhir
Abdul Malik • 15 Oct 2021
cover

Ilustrasi pasar saham nasional yang sedang dalam tren kenaikan (bullish) ditandai dengan lonjakan IHSG dan derasnya aliran masuk dana asing, sehingga mendongkrak kinerja reksadana saham. (shutterstock)

Bareksa.com - Selama bulan Oktober (per 14 Oktober 2021), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah meroket hingga 5,4 persen. Pada penutupan perdagangan Kamis kemarin indeks saham Tanah Air berhasil menembus level psikologis baru di 6.600 atau tepatnya di level 6.626,11.

Level IHSG pada penutupan perdagangan kemarin merupakan rekor tertinggi tahun ini dan juga level tertinggi sejak Februari 2018 atau sekitar 44 bulan terakhir.

Menurut analisis Bareksa, lonjakan IHSG ditopang derasnya aliran dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia hingga Rp22.6 triliun dalam sebulan terakhir.

Meroketnya harga komoditas, penurunan signifikan kasus Covid-19, pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan stabilnya kondisi makro ekonomi dalam negeri mendorong optimisme investor terhadap potensi pasar keuangan Indonesia.

Tercatat, tiga sektor saham di IHSG berhasil mencatatkan lonjakan tertinggi selama bulan Oktober. Sektor saham tersebut ialah keuangan (finance), konsumsi primer (non-cyclical) dan energi dengan masing-masing naik 9,2 persen, 6,2 persen dan 5,7 persen.

Sektor IHSG

Sepanjang bulan berjalan (per 14 Okt 2021)

Barang Konsumen Primer

9,23%

Keuangan

6,23%

Energi

5,7%

Barang Baku

5,49%

Properti & Real Estat

5,22%

Perindustrian

3,44%

Transportasi & Logistik

1,01%

Infrastruktur

0,75%

Kesehatan

0,13%

Barang Konsumen Non-Primer

-1,88%

Teknologi

-3,97%

Sumber: Bursa Efek Indonesia

Daftar Top 10 Reksadana Saham Imbalan Tertinggi

Moncernya kinerja pasar saham turut berimbas pada kenaikan kinerja reksadana saham dan reksadana indeks. Berikut daftar top 10 produk reksadana saham di Bareksa yang mencatatkan lonjakan imbal hasil tertinggi dalam sebulan terakhir

Reksadana saham

Return 1 bulan (per 14 Oktober 2021)

Sucorinvest Sharia Equity Fund

12,84%

Sucorinvest Equity Fund

12,2%

BNI-AM Inspiring Equity Fund

10,2%

Schroder Dana Prestasi

7,41%

TRIM Syariah Saham

7,41%

BNP Paribas Ekuitas

6,6%

Manulife Saham SMC Plus

6,52%

Manulife Dana Saham Kelas A

6,14%

BNP Paribas Solaris

5,75%

Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A

5,43%

Sumber: Bareksa

Tercatat 10 reksadana saham berhasil membukukan imbal hasil antara 5,43 persen hingga 12,84 persen. Sucorinvest Sharia Equity Fund, reksadana saham syariah kelolaan PT Sucor Asset Management berhasil menduduki posisi teratas. Disusul reksadana saham konvensional milik Sucor AM yakni Sucorinvest Equity Fund.

Kemudian reksadana saham milik PT BNI Asset Management yakni BNI-AM Inspiring Equity Fund dan reksadana kelolaan Schroder Investment Management Indonesia yakni Schroder Dana Prestasi. Selengkapnya daftar top 10 reksadana imbalan tertinggi sebagaimana tertera dalam tabel.

Penyebab Kenaikan IHSG

Analisis Bareksa menilai, jika melihat secara fundamental, kenaikan IHSG ini tidak lepas dari perbaikan data ekonomi dalam negeri yang ditopang penurunan kasus Covid-19.

Sejak mencapai puncak kasus harian tertinggi pada 15 Juli sebanyak 56,757 kasus, saat ini kasus positif Covid-19 sudah turun drastis hingga sekitar 1,233 kasus harian. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk penanggulangan kasus Covid-19 seperti implementasi PPKM hingga vaksinasi.

Upaya tersebut perlahan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat kembali pulih. Ditandai dengan kenaikan Indeks Manufaktur Indonesia yang mengalami kenaikan di bulan September ke level 52.2. Artinya industri manufaktur nasional mulai mencatatkan pertumbuhan ekspansif.

Hal ini seiring dengan tingkat keyakinan konsumen bulan September yang turut naik ke level 95,5, dibandingkan bulan sebelumnya 77,3, yang menunjukkan kepercayaan konsumen terhadap pemulihan ekonomi nasional.

Belum lagi kenaikan harga komoditas saat ini akibat krisis energi global. Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor komoditas terbesar dunia, seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Jika harga jual beberapa komoditas tersebut semakin tinggi, maka potensi pendapatan negara Indonesia juga akan semakin besar.

Beberapa faktor tersebut yang mendorong optimisme investor asing untuk berinvestasi di pasar keuangan Indonesia, sehingga menyebabkan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam sebulan terakhir sekitar 0,89 persen ke level Rp14.117 per dolar AS, serta nilai cadangan devisa pada September 2021 mencapai level tertinggi sepanjang sejarah yakni mencapai USD146,9 miliar.

Apa yang Harus Dilakukan Investor Reksadana?

Pergerakan IHSG saat ini cukup dinamis dan cepat hingga mencapai level tertinggi sepanjang tahun 2021 di kisaran 6,600. Jika melihat secara teknikal, IHSG sudah hampir mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, sehingga perlu diwaspadai juga potensi penurunan pasar saham akibat aksi ambil untung (profit taking).

Namun demikian, analisis Bareksa memprediksi aliran dana asing yang masih terus masuk ke pasar saham Indonesia masih dapat mendorong kenaikan IHSG, dengan proyeksi saat ini di kisaran 6.700 – 6.800.

Mempertimbangkan hal tersebut, investor perlu untuk melakukan diversifikasi ke produk yang nilainya lebih stabil seperti reksadana pasar uang ataupun produk yang risikonya lebih moderat seperti reksadana pendapatan tetap.

Fitur Switching di Bareksa

Investor juga tidak perlu khawatir jika ingin melakukan pengalihan dana investasi karena saat ini di Bareksa terdapat fasilitas untuk melakukan switching.

Hanya dengan menggunakan fitur switching, investor dapat memindahkan dana lebih cepat dari misalnya produk reksadana saham ke produk reksadana pasar uang di satu manajer investasi yang sama.

Fitur switching di Bareksa akan membantu smart investor mengalihkan investasinya dengan cepat dari satu reksadana ke reksadana lainnya dalam satu langkah, agar smart investor tidak kehilangan momentum. Selain itu juga meminimalkan risiko buat smart investor mengalami capital loss akibat gejolak pasar.

Untuk mencobanya, pastikan smart investor sudah mengunduh aplikasi Bareksa terbaru yang bisa di-update di Playstore dan Appstore. Dengan fitur switching, investor bisa mengalihkan saldo dari satu produk ke produk reksadana lain dalam satu langkah, tidak harus melakukan jual dan beli manual. 

Tiga keunggulan switching reksadana di Bareksa

- Lebih cepat, tidak perlu jual reksadana untuk membeli produk lainnya

- Untung maksimal, tidak kehilangan momen pasar (market)

- Lebih banyak produk yang bisa dipilih untuk switching daripada di tempat lain

Sebelum melakukan switching di Bareksa, pastikan produk reksadana tersebut tersedia untuk transaksi switching dengan saldo minimal Rp500.000. Switching juga hanya bisa dilakukan untuk produk reksadana dengan manajer investasi dan bank kustodian yang sama.

Promo Switching di Bareksa

Selain itu, jika smart investor melakukan switching, sekarang sekarang ada promo menarik switching atau pengalihan produk reksadana di Bareksa. Kamu berkesempatan meraih hadiah ratusan voucher reksadana hingga senilai Rp200.000.

Promo switching reksadana di Bareksa ini berlangsung pada 5 - 31 Oktober 2021. Promo selengkapnya ada di link berikut ini :Yuk Switching Investasimu dan Raih Hadiah Ratusan Voucher Reksadana

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Karena itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang (>5 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu produk investasi yang dipilih sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(Sigma Kinasih/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.