IHSG Tembus 6.600, Reksadana Saham dan Indeks Juara di Pekan Kedua Oktober

Sepanjang pekan lalu investor asing juga terlihat sangat rajin mengoleksi aset berisiko Tanah Air dengan catatan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp5,15 triliun di pasar reguler
Abdul Malik • 18 Oct 2021
cover

Ilustrasi lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seiring prospek positif ekonomi nasional dan derasnya arus dana asing masuk ke pasar saham, sehingga turut mendongkrak kinerja reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Sepanjang pekan lalu, pasar saham Indonesia membukukan kinerja memuaskan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis 6.600, dan bahkan hampir menyentuh all time high-nya di level 6.689 yang dicatatkan pada 19 Februari 2018.

Dalam perdagangan yang berlangsung mulai dari 11 hingga 15 Oktober 2021 atau merupakan pekan kedua Oktober, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya sekali berakhir di zona merah tepatnya pada awal pekan, sementara 4 hari berikutnya konsisten berakhir di zona hijau.

Alhasil secara mingguan (IHSG) berhasil mengakumulasi kenaikan 2,34 persen ke level 6.633,34. Di sisi lain, sepanjang pekan lalu investor asing juga terlihat sangat rajin mengoleksi aset berisiko Tanah Air dengan catatan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp5,15 triliun di pasar reguler.

Pada pekan kemarin, sentimen positif mendominasi pasar keuangan global, di mana pulihnya bursa saham Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu pendorong bergeliatnya IHSG pada pekan lalu.

Pulihnya bursa saham AS pada pekan lalu ditopang oleh saham-saham di sektor teknologi dan perbankan, menyusul hasil positif dari beberapa perusahaan yang telah merilis kinerja kuartal ketiganya pada tahun ini.

Di sisi lain, klaim angka pengangguran mingguan AS pada periode pekan yang berakhir 10 Oktober tersebut turun ke angka 293.000, jauh lebih baik dari estimasi 320.000.

IHSG juga masih berkinerja positif pada pekan ini berkat sentimen dari krisis energi yang hingga kini masih menerpa beberapa negara, terutama negara-negara maju.

Krisis energi, umumnya krisis listrik yang menerpa beberapa negara maju membuat negara-negara maju tersebut yang sebelumnya tidak bergantung kepada komoditas batu bara, kini mulai kembali melirik komoditas tersebut untuk mencegah krisis energi menjadi lebih parah.

Hal ini tentunya sangat diuntungkan oleh Indonesia yang dianggap sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia, di mana dengan meningkatnya permintaan batu bara, maka harga batu bara itu sendiri akan mengalami kenaikan dan tentunya saham-saham batu bara di Indonesia turut 'kecipratan' berkah dari melonjaknya harga batu bara.

Sementara dari dalam negeri, sentimen positif lainnya yang juga menjadi penopang melesatnya IHSG adalah data neraca perdagangan RI yang kembali mencatatkan surplus pada September 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan RI pada September 2021 tercatat surplus US$ US$ 4,37 miliar.

Surplus neraca dagang didorong oleh peningkatan ekspor yang mencapai 47,64 persen secara tahunan (year on year/YoY). Sementara itu impor juga tercatat tumbuh 40,31 persen (YoY) di waktu yang sama.

Seluruh Jenis Reksadana Kompak Menguat

Kondisi pasar saham yang mengalami penguatan signifikan pada pada pekan lalu, secara umum turut mendorong seluruh jenis kinerja reksadana ke zona positif.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham berhasil menjadi yang tertinggi dengan kenaikan 1,77 persen, masih cukup jauh di bawah kenaikan IHSG.

Sumber: Bareksa

Kemudian di peringkat kedua disusul oleh indeks reksadana campuran yang menguat 1,10 persen. Selanjutnya di peringkat ketiga dan keempat ditempati oleh indeks reksadana pendapatan tetap dan dan indeks reksadana pasar uang dengan masing-masing bertambah 0,38 persen dan 0,04 persen.

Top 10 Reksadana Imbalan Tertinggi Pekan Kedua Oktober 2021

Di sisi lain, top 10 reksadana yang berhasil mencatatkan kenaikan kinerja dengan imbal hasil (return) mingguan tertinggi pada pekan lalu mayoritas dikuasai oleh produk reksadana saham dan reksadana indeks & ETF dengan masing-masing 5 produk.

Sumber: Bareksa

ReksadanaRHB Sri Kehati Index Fund di posisi pertama dengan imbalan 4,15 persen, kemudian disusul Reksa Dana Indeks BNP Paribas Sri Kehari dengan imbal hasil 4,12 persen dan reksadana saham Avrist Equity - Cross Sektoral dengan return 3,92 persen sepekan.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi atau deposito.

Reksadanajuga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.