Rilis Obligasi Korporasi Lebih Ramai, Apa Dampak ke Reksadana Pendapatan Tetap?

Hingga kuartal I 2021, BEI mencatat sudah ada 19 emisi dengan nilai Rp20,58 triliun yang tercatat di bursa
Abdul Malik • 08 Apr 2021
cover

Ilustrasi ramainya penerbitan obligasi korporasi berpengaruh positif pada reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Bareksa.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, akan ada 16 perusahaan yang menerbitkan 20 surat utang atau efek bersifat surat utang dan sukuk (EBUS) pada tahun ini dengan nilai Rp20,82 triliun. Emisi surat utang bisa berpotensi positif terhadap reksadana dengan underlying surat utang, yakni reksadana pendapatan tetap.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, berdasarkan pipeline per 6 April 2021, terdapat 20 emisi obligasi dan sukuk dengan nilai Rp20,82 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7 emisi dari 6 emiten akan diterbitkan pada April tahun ini.

"Hingga akhir April 2021, terdapat 6 perusahaan dengan 7 emisi yang yang akan dicatatkan dengan nilai Rp6,67 triliun," jelas Nyoman dalam keterangannya (7/4).

Hingga kuartal I 2021, BEI mencatat sudah ada 19 emisi dengan nilai Rp20,58 triliun yang tercatat di bursa. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah emisi tersebut meningkat 26,67 persen dan nilai emisi meningkat 9,23 persen.

Hingga akhir 2021, Nyoman memperkirakan penerbitan surat utang korporasi akan lebih baik dibandingkan tahun 2020. Hal ini dipengaruhi oleh  penurunan suku bunga dan melonggarnya likuiditas yang mendorong suku bunga terus menurun.

"Sampai kuartal I 2021, tingkat bunga 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) masih bertahan di 3,5 persen," jelas dia.

Di samping itu, pemulihan ekonomi domestik yang masih berlanjut pada paruh waktu 2021 memberikan iklim positif pada pasar surat utang korporasi.

Membaiknya pemulihan ekonomi global, akselerasi program vaksin nasional serta sinergi kebijakan nasional, diperkirakan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,3 - 5,3 persen.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, penerbitan surat utang korporasi tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan 2020. Peningkatan emisi ini mengindikasikan dampak dari keberlanjutan pemulihan ekonomi.

"Tingkat bunga rendah memberikan kenyamanan dan optimisme bagi perusahaan dalam menerbitkan EBUS setelah sebelumnya tertunda melakukan refinancing," papar dia.

Ditinjau dari likuiditas di pasar modal, jumlah investor terus bertambah. Sampai akhir Maret 2021, jumlah investor pasar modal meningkat 25 persen dibandingkan 2020 menjadi 4,9 juta investor. Kepercayaan investor memberikan keyakinan bagi korporasi untuk  menerbitkan surat utang di pasar modal dan juga memberikan optimisme bagi investor dalam berinvestasi di surat utang.

Maraknya penerbitan surat utang ini dinilai akan berpotensi positif terhadap reksadana pendapatan tetap. Di Bareksa, terdapat 30 reksadana pendapatan tetap. Produk tersebut masih membukukan kinerja yang relatif baik dalam satu tahun terakhir.

Salah satu produk reksadana yang membukukan imbalan terbesar dalam setahun terakhir adalah Capital Fixed Income Fund dari PT Capital Asset Management. Produk ini memberikan imbalan sekitar 17,85 persen dalam setahun terakhir. Adapun alokasi dari produk, yakni sekitar 89 persen ada di obligasi dan 11 persen di pasar uang.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.