Korporasi Terbitkan Obligasi Rp10,5 Triliun, Peluang Reksadana Pendapatan Tetap

Produk reksadana pendapatan tetap di Bareksa bahkan ada yang memberikan imbal hasil di atas 50 persen dalam 5 tahun
Abdul Malik • 17 Feb 2021
cover

Ilustrasi investasi di obligasi termasuk Surat Berharga Negara (SBN). (Shutterstock)

Bareksa.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 8 emiten yang akan menerbitkan obligasi dan sukuk senilai Rp10,5 triliun dalam waktu dekat. Penerbitan ini berpotensi meningkatkan kinerja reksadana pendapatan tetap.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, berdasarkan pipeline BEI per 16 Februari 2021, 8 emiten tersebut akan menerbitkan 10 emisi. "Sebanyak 10 emisi itu terdiri atas 3 emisi sukuk dan 7 emisi obligasi dengan nilai Rp10,5 triliun," ujarnya dalam keterangan tertulis (16/2).

Penerbitan obligasi itu, menurut Nyoman akan meningkatkan penerbitan obligasi korporasi tahun ini yang berpotensi mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun lalu. Potensi ini terlihat dari outstanding obligasi korporasi yang mulai menunjukkan pertumbuhan pasca adanya penurunan yang disebabkan oleh pandemi.

Menurut Nyoman, ada beberapa katalis yang bisa mendorong pertumbuhan obligasi itu. Katalis pertama adalah dari sisi kebijakan moneter dan fiskal yang tetap akomodatif. Kebijakan berupa penurunan suku bunga acuan mendorong penurunan biaya dana penerbitan surat utang korporasi.

"Ditambah juga dengan adanya stimulus dari bank sentral untuk meningkatkan likuiditas di pasar uang sehingga membuat bank lebih banyak menempatkan dana di pasar obligasi," terang dia.

Kemudian, pemulihan ekonomi disinyalir akan terjadi pada tahun ini. Seiring dengan pemulihan itu, kebutuhan dana korporasi yang sempat tertunda pada 2020 akan meningkat pada tahun ini.

Dari sisi global, pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mendorong masuknya aliran dana asing ke Indonesia. Pasalnya, investor asing mencari negara dengan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dari AS.

Peningkatan investor tidak hanya berasal dari investor asing. Nyoman juga melihat adanya peluang penambahan jumlah investor dari dalam negeri. Hal ini dengan melihat dari data pertumbuhan jumlah investor pada tahun lalu.

Nyoman menyebutkan, pada tahun lalu, jumlah investor pasar modal, baik dari saham, obligasi maupun reksadana meningkat 56 persen menjadi 3,88 juta investor. Jumlah ini meningkat 4 kali lipat dalam 4 tahun terakhir.

"Kondisi tersebut memberikan optimisme akan likuiditas obligasi maupun sukuk, di mana dapat menjadi alternatif pilihan investasi yang menarik bagi investor," terang dia.

Peluang Reksadana Pendapatan Tetap

Peningkatan obligasi korporasi tidak hanya menguntungkan bagi investor yang fokus berinvestasi di obligasi. Investor reksadana juga bisa memanfaatkan momentum ini melalui produk reksadana pendapatan tetap. Pasalnya, reksadana ini memiliki underlying obligasi korporasi dan produk obligasi lainnya.

Di Bareksa, ada lebih dari 30 produk reksadana pendapatan tetap yang bisa diplih. Produk-produk tersebut bahkan bisa memberikan imbal hasil di atas 50 persen dalam 5 tahun. Salah satunya adalah Manulife Obligasi Negara Indonesia Kelas II A yang bisa memberikan imbal hasil 53 persen dalam 5 tahun.

Sementara itu, hingga 16 Februari 2021, BEI mencatat nilai obligasi dan sukuk baru yang sudah dicatatkan mencapai Rp5,11 triliun. Sedangkan total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 473 emisi dari 130 emiten dengan nilai nominal outstanding Rp427,09 triliun dan US$47,5 juta.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.