Bunga BI Turun Dongkrak Obligasi, Reksadana Pendapatan Tetap Untung Dua Digit

Rapat Dewan Gubernur BI edisi November 2020 memutuskan menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate 25 bps menjadi 3,75 persen
Abdul Malik • 20 Nov 2020
cover

Ilustrasi sejumlah manajer investasi sedang memantau perkembangan pasar obligasi setelah pengumuman penurunan suku bunga acuan BI. (Shutterstock)

Bareksa.com - Bursa saham Tanah Air tampaknya masih belum lelah untuk terus melanjutkan rally-nya pada perdagangan kemarin. Kamis (19/11/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,66 persen ke level 5.594,06, menjadikannya telah naik selama lima hari perdagangan beruntun. Di sisi lain, investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih (net buy) Rp303,13 miliar. 

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan. Ini di luar ekspektasi pelaku pasar. Pada Kamis (19/11/2020), Rapat Dewan Gubernur BI edisi November 2020 memutuskan untuk  menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen. Sementara suku bunga Deposit Facility turun menjadi 3 persen dan suku bunga Lending Facility sekarang di 4,5 persen.

Menurut siaran pers Bank Indonesia, keputusan ini mempertimbangkan prakiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga, dan sebagai langkah lanjutan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Ke depan, BI akan terus mencermati dinamika perekonomian dan pasar keuangan global serta penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap prospek perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu untuk menentukan langkah-langkah kebijakan lanjutan yang diperlukan dalam mempercepat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Koordinasi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional.Hal ini cukup mengejutkan pelaku pasar, mengingat konsensus Reuters menghasilkan proyeksi bahwa BI 7 Day Reverse Repo Rate akan tetap di level 4 persen.

Artinya, suku bunga acuan berubah untuk kali pertama sejak Juli atau empat bulan lalu. BI 7 Day Reverse Repo Rate kini berada di di posisi terendah sejak diperkenalkan pada Agustus 2016 menggantikan BI Rate.

Pasar Obligasi Ikut Terdorong

Penurunan BI7DRR tidak hanya berdampak bagi pasar saham, namun juga turut dirasakan oleh pasar obligasi. Hal tersebut tercermin dari menguatnya Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang menguat tipis 0,09 persen dan yield SUN 10 tahun yang turun 0,23 persen ke level 6.5236 persen, yang menandakan adanya kenaikan harga atas Surat Utang Negara.

Secara teori, penurunan suku bunga acuan biasanya memang akan menguntungkan instrumen berpendapatan tetap seperti Surat Berharga Negara (SBN), termasuk reksadana pendapatan tetap yang memang kebijakan investasinya mayoritas di instrumen surat utang (obligasi).

Sebagai informasi, harga obligasi berbanding terbalik dengan suku bunga. Ketika suku bunga turun, maka harga obligasi cenderung naik. Begitu pun sebaliknya, ketika suku bunga naik, maka harga obligasi cenderung turun.

Reksadana Pendapatan Tetap Tumbuh Double Digit

Ketika harga obligasi naik, maka kinerja reksadana pendapatan tetap yang menjadikan 80 persen minimal portofolio investasinya berisi obligasi, maka hal tersebut akan mengerek nilai aktiva bersihnya.

Di sisi lain, dengan turunnya suku bunga acuan para investor juga akan cenderung mengalihkan aset mereka yang sebelumnya berada di tabungan atau deposito ke instrumen investasi yang berpotensi memberikan imbal hasil lebih menarik di tengah tren penurunan suku bunga.

Top 10 Reksadana Pendapatan YtD (per 19 November 2020)

Sumber: Bareksa

Sekadar informasi, sejak awal tahun ini hingga penutupan perdagangan kemarin, top 10 reksadana pendapatan tetap yang dijual di Bareksa memang masih menunjukkan pertumbuhan yang sangat solid, bahkan dengan kenaikan double digit.

Dengan sentimen penurunan suku bunga acuan yang terjadi kemarin, bukan hal yang mustahil jika reksadana pendapatan tetap masih memiliki prospek yang cerah ke depannya.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Sementara reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari asetnya dalam bentuk efek utang atau obligasi. Obligasi atau surat utang ini bisa yang diterbitkan oleh perusahaan (korporasi) maupun obligasi pemerintah.

Tujuannya untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil. Risikonya relatif lebih besar daripada reksadana pasar uang tetapi lebih moderat dibandingkan saham sehingga cocok untuk jangka waktu 1 sampai 3 tahun.

Sesuai dengan karakternya, reksadana pendapatan tetap ini memiliki tingkat pengembalian hasil yang stabil karena memiliki aset surat utang atau obligasi yang memberikan keuntungan berupa kupon secara rutin.

Dalam jangka pendek dan menengah, nilai aktiva bersih (NAB) dari reksa dana pendapatan tetap cenderung naik stabil dan tidak banyak berfluktuasi (naik-turun). Karena itu, reksadana ini cocok untuk investor bertipe konservatif (risk averse).

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.