Bunga Acuan BI Turun, Reksadana Pendapatan Tetap Bakal Makin Kinclong Tahun Depan

Pertumbuhan kinerja reksadana pendapatan tetap diproyeksikan bertumbuh di kisaran 6-8 persen di 2021
Abdul Malik • 20 Nov 2020
cover

Ilustrasi perempuan investor yang gembira melihat hasil investasinya di reksadana pendapatan tetap yang terus bertumbuh. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pada Kamis (19/11/2020), Rapat Dewan Gubernur BI edisi November 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen. Sementara suku bunga Deposit Facility turun menjadi 3 persen dan suku bunga Lending Facility di 4,5 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan keputusan ini mempertimbangkan inflasi yang lemah, stabilitas eksternal yang terjaga dan sebagai langkah lanjutan untuk mendukung pemulihan ekonomi.

BI melihat fungsi intermediasi di sektor keuangan masih lemah sejalan dengan permintaan domestik yang belum kuat. Dari data BI, pertumbuhan kredit pada kuartal III 2020 tumbuh 0,12 year-on-year (YoY) dan dana pihak ketiga (DPK) 12,88 persen YoY.

Artinya, suku bunga acuan berubah untuk kali pertama sejak Juli atau empat bulan. BI 7 Day Reverse Repo Rate kini berada di di posisi terendah sejak diperkenalkan pada Agustus 2016 menggantikan BI Rate. "Perkembangan terkini menunjukkan pertumbuhan kredit -0,47 persen pada Oktober 2020," kata Perry.

BI memperkirakan inflasi pada akhir 2020 lebih rendah dari batas bawah sasaran inflasi dan kembali ke sasarannya 3 plus minus 1 persen pada 2021. "BI konsisten menjaga stabilitas harga dan berkoordinasi dengan pemerintah sehingga inflasi sesuai sasarannya," ujar Perry.

Defisit transaksi berjalan juga diperkirakan tetap rendah. Perry yakin defisit tahun ini berada di bawah 1,5 persen dari PDB dan tetap rendah pada tahun depan. Ke depan, BI memandang penguatan nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut karena nilainya secara fundamental masih undervalued, dan kondisi defisit transaksi berjalan dan inflasi yang rendah, serta daya tarik aset yang tinggi, dan premi risiko yang menurun.

Proyeksi Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap

Menurut analisis Bareksa, dengan penurunan suku bunga BI ke level 3,75 persen, maka pertumbuhan kinerja reksadana pendapatan tetap diproyeksikan bertumbuh di kisaran 6-8 persen di 2021. Perhitungan ini diasumsikan jika BI Rate tetap di 3,75 persen, obligasi pemerintah tenor 10 tahun menguat di mana yield mencapai 5,75 persen, kurs Rupiah terhadap dolar AS terjaga di level Rp14.100, serta US Treasury yield tidak melebihi 1 persen.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Mau tahu lebih lanjut mengenai reksadana pendapatan tetap? Yuk langsung saja buka Bareksa.com atau kunjungi channel Youtube kami di sini.

(KA02/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.