Survei DBS : Pandemi Covid-19 Buat Masyakat Gemar Menabung dan Investasi

Tabungan dan investasi merupakan dua jawaban teratas respoden ketika ditanya untuk apa saja mereka akan membelanjakan uangnya dalam 3-6 bulan ke depan
Abdul Malik • 07 Oct 2020
cover

Ilustrasi investasi di tahun tikus logam pada 2020 (shutterstock)

Bareksa.com - Bank DBS menyatakan pandemi Covid-19 berpengaruh signifikan terhadap tren berbelanja konsumen. Berkurangnya aktivitas di luar rumah dan interaksi sosial membuat konsumen lebih banyak menggunakan pendapatannya untuk tabungan dan investasi.

Berdasarkan hasil survei DBS Bank, tabungan dan investasi merupakan dua jawaban teratas dari para respoden ketika ditanya untuk apa saja mereka akan membelanjakan uangnya dalam 3-6 bulan ke depan. Mayoritas responden menjawab mereka akan menggunakan uangnya untuk ditabung sebagai prioritas utama, dan investasi sebagai prioritas kedua. Di tengah pandemi seperti saat ini, konsumen cenderung berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

"Ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 sangat jelas berdampak terhadap tingkat kepercayaan konsumen, terbukti dari kehati-hatian konsumen dalam berbelanja," ujar DBS dalam DBS Bank Insights yang dipublikasi (6/10/2020).

Grafik DBS Bank Consumer Survey

Sumber : Riset DBS

Selain kedua item di atas, konsumen membelanjakan penghasilan tambahannya untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Sementara untuk kebutuhan lainnya seperti makan di restoran, berwisata dan berbelanja barang-barang mewah bukan menjadi prioritas utama.

"Konsumen lebih fokus untuk memperhatikan nilai uang daripada mengeluarkannya untuk aktivitas yang bukan utama," kata dia.

Lebih lanjut, hasil survei juga menggambarkan mengenai tiga prioritas belanja konsumen selama masa pandemi Covid-19. Ketiga hal itu adalah berkaitan dengan kesehatan, kebutuhan rumah dan belanja di toko online. "Konsumen cendereung berhenti membeli kebutuhan sehari-hari di toko tradisional dan beralih ke e-commerce," papar dia.

Dalam jangka pendek, DBS menilai, konsumsi makanan akan tetap tinggi selama masa pandemi Covid-19, yakni mencapai 50,1 persen pada 2020 dari 49 persen pada tahun sebelumnya. Namun, kebutuhan konsumsi ini akan secara bertahap menurun seiring dengan pemulihan ekonomi pada 2021-2022.

Dengan melihat perubahan tersebut, perusahaan yang bergerak di bidang FMCG (fast moving consumer goods) akan beradaptasi dengan keadaan yang ada. DBS menyebutkan sebagian besar perusahaan menyatakan bisa mengatasi keadaan ini dengan baik. Namun, perusahaan tersebut masih mengkhawatirkan mengenai ketidakpastian di masa depan, sehingga mereka akan lebih fokus melakukan diversifikasi baik dari sisi produk, saluran penjualan dan lainnya.

Penjualan SBN Ritel Bareksa

Adapun fenomena meningkatnya kebutuhan konsumen akan investasi dan tabungan terlihat pada penjualan instrumen surat utang ritel beberapa waktu lalu. Di Bareksa, penjualan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Ritel seri SR013 melesat 234 persen dibandingkan penjualan SR012 dengan jumlah investor yang meningkat 34 persen.

Co-Founder dan CEO Bareksa Karaniya Dharmasaputra mengatakan, minat investor terhadap aset safe haven meningkat cukup tinggi di era new normal ini. Sehingga Bareksa bisa mencetak rekor penjualan tertinggi di antara mitra distribusi financial technology (fintech) lainnya. 

Kontribusi penjualan SR013 Bareksa terhadap penjualan nasional juga meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan kontribusi penjualan SR012. Menurut Karaniya, ini adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah penjualan SBSN di Bareksa, mengikuti tren positif sebelumnya yang terjadi pada penjualan ORI017.

“Capaian ini kembali menjadi bukti bahwa di era new normal ini sedang terjadi akselerasi investasi ritel melalui teknologi dan platform digital seperti Bareksa. Ini fenomena penting bagi upaya pemulihan ekonomi nasional,” papar dia.

SR013 merupakan SBN yang dapat diperdagangkan (tradable) secara online, yang diterbitkan setelah seri ORI016, SR012, dan ORI017. Data Direktorat Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan RI mencatat, total angka penjualan SR013 secara nasional mencapai Rp25,67 triliun, meningkat 111 persen dari realisasi penjualan SR012 yang hanya Rp12,14 triliun.

Jumlah Investor Reksadana

Tak hanya di SBN, minat masyarakat untuk berinvestasi di reksadana juga semakin meningkat di masa pandemi. Tercatat berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) jumlah single investor identification (SID) investor reksadana tumbuh paling pesat dibandingkan kenaikan jumlah investor saham dan Surat Berharga Negara (SBN) secara year to date hingga Juli 2020.

Jumlah investor reksadana tercatat sebanyak 2,31 juta investor pada Juli 2020, meningkat 30,5 persen dibanding akhir 2019 yang sebanyak 1,77 juta investor.  Pertumbuhan itu utamanya ditopang oleh melesatnya jumlah investor ritel.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.